PAPARKAN INOVASI: Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyampaikan kepada tim penilai Innovative Government Award (IGA) 2017, bahwa inovasi-inovasi yang diterapkan di Kota Magelang tidak semua digagas pemerintah, namun juga lahir dari ide dan pemikiran masyarakatnya (HUMAS PEMKOT MAGELANG UNTUK JP RADAR KEDU).
PAPARKAN INOVASI: Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyampaikan kepada tim penilai Innovative Government Award (IGA) 2017, bahwa inovasi-inovasi yang diterapkan di Kota Magelang tidak semua digagas pemerintah, namun juga lahir dari ide dan pemikiran masyarakatnya (HUMAS PEMKOT MAGELANG UNTUK JP RADAR KEDU).

Inovasi Kampung Organik di Kota Magelang, mendapatkan apresiasi dari tim penilai ajang penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2017 dari Badan Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Dalam Negeri RI, di Hotel Acacia, Jakarta, Sabtu (28/10) lalu.

SAAT Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito memaparkan di depan para penilai, terungkap fakta bahwa keberadaan Kampung Organik di Kota Sejuta Bunga, justru muncul dari pemikiran masyarakat. “Inovasi tentu harus mendapat perhatian, bagaimana pemerintah menampung inovasi warga yang kemudian diselaraskan dengan kebijakan atau aturan yang dibuat oleh Pemkot Magelang,” kata salah satu tim penilai, Rochyati, yang juga Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Inovasi Daerah, Kemendagri, seperti dirilis oleh Humas Pemkot Magelang.

Menurut Rochyati, inovasi dan regulasi harus sejalan, agar tidak terjadi benturan kepentingan eksternal dan internal. Lalu, sikap pemerintah yang merespons usulan masyarakatnya, dapat membawa perubahan pola pikir masyarakat itu sendiri.  “Bahwa ide dan pemikiran, tidak harus digagas pemerintah. Melainkan, bisa lahir dari inisiatif masyarakat,” ujarnya.

Ia berpesan agar berbagai inovasi yang dihasilkan,  dapat memberikan manfaat bagi masyarakatnya. Juga harus terjaga dan berkelanjutan. “Di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki komitmen kuat terhadap fungsi Kelitbangan, hanya Kota Magelang yang memiliki Badan Litbang,” akunya.

Untuk diketahui, inovasi Kampung Organik di Kota Magelang, sudah menjamur hingga 17 kelurahan yang ada. Bahkan, meluas sampai tingkat Rukun Warga (RW). Masing-masing Kampung Organik  memiliki inovasi sendiri-sendiri.

Misalnya, kelompok Kampung Organik di Pinggirejo, Kelurahan Wates, mengharuskan warganya membawa sampah saat mengurus administrasi, baik di tingkat RT dan RW. Pun, bagi warga yang mengantarkan anaknya mengikuti kegiatan Posyandu, harus membawa sampah layak jual.

Sampah-sampah yang terkumpul dan disetorkan ke bank sampah, lantas dijual ke bank sampah kota. Hasil penjualan sampah dimanfaatkan untuk kegiatan sosial maupun mempercantik lingkungan sekitar.

Ketua Tim Penilai, Zaenal Arifin, menyampaikan,  IGA atau Penghargaan Pemerintah Daerah Inovatif merupakan apresiasi dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Baik kabupaten/kota maupun provinsi yang menerapkan inovasi unggulan di wilayah masing-masing.  “Inovasi tidak asal diciptakan saja, (tapi) bermanfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat.”

Dikatakan, ada 3 provinsi, 10 kabupaten, dan 10 kota yang masuk nominasi peraih penghargaan ini. Sistem penilaian, terdiri atas seleksi administrasi, peran kepala daerah, serta tinjauan ke lapangan.

Sementara itu, Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito dalam paparannya menyampaikan bahwa inovasi di kotanya, tidak serta merta muncul dari pemerintah. Justru banyak yang lahir dari pemikiran warganya. Sigit mencontohkan, inovasi Kampung IT di Perumahan Depkes, Kelurahan Kramat Utara. Juga, inovasi Kampung Organik di Kelurahan Wates.

Selain itu, juga ada inovasi yang dikreasi oleh Organisasi Perangkat  Daerah (OPD) Pemkot Magelang. Antara lain, DataGo (Dinas Komunikasi dan Informatika), Automatic Traffic Control System (ATCS) dan cek KIR online (Dinas Perhubungan), serta Krenova (Balitbang). Inovasi lainnya, Sistem Pengendali Penerangan Jalan Umum Terintegrasi atau SIPPUT (Dinas Lingkungan Hidup). Semuanya  terintegrasi dalam Smart City.

“Konsep Smart City menjadi komando inovasi-inovasi di jajaran Pemkot Magelang di bawah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang, dalam konteks tata kelola pemerintah.”

Sigit menyampaikan, semua inovasi yang ada di Kota Magelang difasilitasi. Mulai dari pembinaan, pendampingan, sampai proses replikasi inovasi itu sendiri. Saat ini, pihaknya sedang menyusun Raperda Inovasi Daerah yang merupakan amanat dari Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2017. “Inovasi ini tentu tidak hanya sensasi saja, melainkan harus berdaya guna dan bermanfaat bagi masyarakat.” (put/isk)