BISNIS KOPI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menyedu kopi didampingi Agung Kurniawan (kiri) (Adityo dwi/jawa pos radar semarang).
BISNIS KOPI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menyedu kopi didampingi Agung Kurniawan (kiri) (Adityo dwi/jawa pos radar semarang).

Agung Kurniawan adalah pemilik Knk Koffee Resources dan Kafe Lost In Coffee di Jalan Dewi Sartika Raya Nomor 5 Semarang. Selain menjadi tempat nongkrong kawula muda, tempat ini sekaligus menjadi semacam laboratorium kopi untuk edukasi. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

TAK kurang 25 jenis kopi yang berasal dari Sabang sampai Merauke dalam bentuk biji ada di tempat ini. Di Knk Koffee Resources juga dilakukan proses pengolahan menggunakan peralatan mesin penggilingan khusus yang disebut proses roasting. Ini menjadi sebuah proses penting dalam dunia kopi dan belum banyak diketahui oleh penikmat kopi biasa. Ada banyak hal menarik dalam proses ini, mulai dari level pemanggangan, pengaturan suhu panas, yang akan menghasilkan beraneka ragam varian rasa kopi.

Agung Kurniawan mengaku memulai usaha kopi sejak 2013 silam. Awalnya, berupa coffee shop hingga berkembang mengelola sebanyak enam tempat di Kota Semarang.

“Saat ini suplay kopi kami jadikan satu di sini. Sekarang lebih banyak fokus menjadi suplayer kopi dan roasting. Kafe di sini kami fungsikan sebagai studio untuk pelatihan, edukasi, costumer yang ingin mencoba atau memulai bisnis kopi. Kami sediakan pelatihan di sini. Jenis kopi kurang lebih 25 item kopi yang berasal dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua,” papar pria 38 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakannya, studio kopi yang dilengkapi dengan peralatan mesin pengolah kopi tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran mengenai cara mengolah kopi. “Sekaligus sebagai tempat nongkrong. Makanya, kafe ini kami berinama lost in coffee, karena memang awalnya tidak muluk-muluk, yakni hanya ingin memiliki tempat nongkrong,” katanya.

Pada 2003, kata dia, perkembangan kopi belum sedetail sekarang. Waktu itu, kopi masih cenderung original saja berupa bubuk. Tapi pada perkembangan berikutnya, hadirlah pengolahan biji kopi goreng yang berasal dari daerah-daerah.

“Kemudian berkembang biji kopi tersebut digiling mendadak kalau ada costumer yang pesan. Sekarang semakin detail, bahkan cara roasting berpengaruh terhadap rasa. Di sini ada kopi Kintamani, Papua, Aceh, dan lain-lain. Kalau kopi lokal ada dari Temanggung, Wonosobo, Gunung Kelir dan lain-lain. Per bulan, kebutuhan pasokan seluruhnya bisa mencapai 500 kilogram,” ujarnya.

Untuk mendapatkan suplay kopi, dia bermitra dengan para petani dan pengepul. “Rasa kopi bisa dipengaruhi mulai proses tanam hingga pasca panen. Ada berbagai cara, yang akan menghasilkan varian rasa. Rasa juga berpengaruh lagi saat proses roasting. Biji masuk mesin roasting, ada proses goreng hingga penggilingan. Nanti ada istilah light, medium hingga dark. Market sekarang lebih banyak di light dan medium,” terangnya.

Tidak hanya penikmat kopi, hampir 70 persen pengusaha coffee shop di Semarang mengambil stok di tempat tersebut. “Selain itu, kami juga rutin mengadakan kelas atau klinik kopi untuk pelatihan menyeduh secara manual. Apalagi sekarang banyak orang sudah memiliki alat seduh sendiri,” katanya.

Bisnis kreatif Agung Kurniawan ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Dia melihat, bisnis-bisnis kreatif seperti itu harus dikembangkan hingga menginspirasi pemuda yang lain.

“Mestinya persoalan pengangguran bukan karena tidak ada lapangan pekerjaan. Tapi tergantung masing-masing, mau nggak untuk meng-creat (membuat) usaha kreatif. Berbicara bekerja kan tidak harus jadi PNS (pegawai negeri sipil), pegawai BUMN, pegawai swasta. Tapi bagaimana kita melihat situasi di sekitar kita untuk dikelola. Sehingga bisa menghidupi keluarga. Mas Agung melakukan itu, kami beri motivasi. Kami beri apresiasi kepada anak muda seperti Mas Agung ini untuk tumbuh berkembang di kota kita tanpa harus malu untuk mengakui bahwa pekerjaan itu tidak harus menjadi PNS,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi– saat mampir di tempat nongkrong anak muda tersebut.

Menurut dia, bisnis yang dikelola Agung semakin hari semakin besar. Pemerintah mendukung dan memberikan perhatian. “Kami punya kredit Wibawa ya monggo aja bisa dimanfaatkan, dengan memenuhi ketentuan seperti memiliki izin usaha mikro dan kecil di Dinas Koperasi. Setelah punya izin, dilengkapi surat domisili lalu diserahakan ke Dinas Koperasi. Ada tiga bank yang kami ajak kerja sama, yakni Bank Jateng, Bank Pasar Kota Semarang, dan Bank Muamalat. Masyarakat bisa memberikan kredit tanpa agunan Rp 5 juta, dengan agunan Rp 50 juta. Kemudian bunganya murah, hanya 5 persen per tahun, monggo dimanfaatkan,” ujarnya. (*/aro)