KONSEN KOTA LAMA : Anggota Dutakola di sela-sela menjadi pemandu wisata dalam city tour dengan Si Kenang, bus pariwisata yang baru-baru ini diresmikan Pemkot Semarang (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
KONSEN KOTA LAMA : Anggota Dutakola di sela-sela menjadi pemandu wisata dalam city tour dengan Si Kenang, bus pariwisata yang baru-baru ini diresmikan Pemkot Semarang (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

Berawal dari keprihatinan terhadap destinasi wisata Kota Lama yang kurang diperhatikan oleh masyarakatnya sendiri, sejumlah pemuda membentuk Komunitas Pemandu Wisata Kota Lama (Dutakola). Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

MENYADARI potensi wisata yang ada di kawasan Kota Lama Semarang, sejumlah pemuda berusaha ikut andil dalam upaya pelestariannya. Adalah Fatria, Novita, Ramli, Dini, Mike dan Rofiq, sejak 14 Juni lalu berpartisipasi aktif dalam pengenalan sejarah sekaligus memandu wisatawan yang datang berkunjung. Mereka membentuk Komunitas Pemandu Wisata Kota Lama (Dutakola).

“Bayangkan saja, kawasan Kota Lama ini ada sekitar 40 hektare. Sedangkan wisatawan yang datang paling cuma foto di Gereja Blenduk atau Taman Srigunting. Padahal banyak spot bagus lainnya,” kata Ketua Dutakola, Stevanus Fatria kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Bagi Fatria, kawasan Kota Lama ini sudah semestinya mendapatkan perhatian para pemuda, khususnya yang membidangi sejarah dan bekerja sebagai pramuwisata. Sayangnya, harapan itu belum digayungsambuti. Karena itulah, dengan suka rela pihaknya memandu wisatawan, menceritakan sejarah 105 gedung peninggalan zaman kolonial Belanda.

“Kami sebelumnya sudah ikut pelatihan, terus melihat Pemkot Semarang gencar melakukan pembenahan Kota Lama. Tapi kok tidak ada pemandunya, padahal Kota Lama gak cuma Gereja Blenduk,” ungkap Ketua Dutakola, Stevanus Fatria kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Keseriusan mereka dalam mengembangkan Dutakola ini terlihat saat mereka mengikuti pelatihan kerja (Latker) dari Dinas Tenaga Kerja dan DPD HPI Jateng. Dalam Latker tersebut, mereka mempelajari sejarah 105 gedung yang ada di kawasan Kota Lama. Tak hanya itu, mereka juga melakukan praktik city tour dengan Si Kenang, bus pariwisata yang baru-baru ini diresmikan Pemkot Semarang. Namun, mereka tetap dikhususkan pada pengenalan Kota Lama. “Ya di bus itu kasarnya. Kami sebagai pemandu wisata ga bisa kalau di Kota Lama saja nunggunya. Melalui city tour kami promosi Dutakola,” ujarnya.

Bahkan, kata Fatria, sejumlah wisatawan yang didampingi oleh Dutakola memiliki respon yang hampir sama. Wisatawan tersebut kaget karena selama ini hanya tahu kawasan Kota Lama di sepanjang Jalan Letjen Soeprapto mulai dari Kafe Tekodeko sampai Gereja Blenduk saja. “Kendala kami selama ini, masyarakat belum banyak yang tahu. Untuk mengubah pola pikir mereka agar mau menelisik kisah dari setiap sudut di Kota Lama kan susah,” bebernya.

Fatria ingin ke depan, Dutakola lebih berkembang dan lebih banyak anak muda yang bergabung. Pasalnya, dukungan dari Pemkot Semarang dan BPK2L kepada komunitas ini sudah sangat baik. “Buktinya kami difasilitasi dengan pelatihan, kemudian sekretariat kami sementara ini di Gedung Monod,” imbuhnya.

Dirinya kini berharap, baik Pemkot Semarang, khususnya Dinas Pariwisata maupun BPK2L bisa membantu promosi Dutakola secara langsung kepada pihak agensi. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Kota Lama, bisa mendapatkan edukasi lebih baik, tidak sekedar datang. (*/ida)