Kembangkan Wisata Edukasi Perah Susu Kambing Etawa

897
POTENSI: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat meninjau peternakan Kambing Etawa di Perkumpulan Kelompok Tani Kuncen Farm, Dukuh Kuncen, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Minggu (29/10) (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).
POTENSI: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat meninjau peternakan Kambing Etawa di Perkumpulan Kelompok Tani Kuncen Farm, Dukuh Kuncen, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Minggu (29/10) (Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG- Perkumpulan Kelompok Tani Kuncen Farm, Dukuh Kuncen, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, terbilang menjadi kelompok warga yang inspiratif. Di lahan kebun 8.000 meter persegi nan rindang berisi aneka macam buah-buahan, mereka mengelola kandang-kandang berisi kambing Etawa kurang lebih 300 ekor.

Sejak berdiri Februari 2015 silam, saat ini mereka memiliki anggota 24 orang yang merupakan warga kampung setempat. Lahan kebun tersebut dijadikan pusat peternakan Kambing Etawa, mulai dari pembibitan, penggemukan, dan menghasilkan susu perahan. Sedikitanya, produksi susu bisa mencapai 25-30 liter per hari untuk kemudian diolah ke dalam berbagai produk. Baik susu segar, minuman yoghurt, kefir (minuman susu dengan proses fermentasi), sabun susu, hingga bahan kosmetik.

“Saat ini Kambing Etawa sudah menghasilkan atau produksi susu segar dan yoghurt,” kata Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat melakukan peninjauan Perkumpulan Kelompok Tani Kuncen Farm, Dukuh Kuncen, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu (29/10).

Dikatakannya, keberadaan kelompok tani ini menarik. Sebab, peternakan Kambing Etawa ini akan sangat memungkinkan untuk bisa dikembangkan. Apalagi, saat ini produksi olehan susu dari hasil perahan susu Kambing Etawa ini cukup berkualitas. “Rasanya beda dari yoghurt yang biasa dijual di luar. Di sana rasanya umum. Tetapi ini hasil perah susu kambing murni, yang kemudian diolah dengan berbagai rasa,” katanya.

Selain peternakan, lanjut dia, keberadaan peternakan Kambing Etawa ini bisa dikembangkan sebagai wisata edukasi anak-anak. Sebab, lokasi kandang kambing tersebut berada di sebuah lahan kebun yang asri, hijau dan sejuk. Beraneka ragam buah ada.

Menurut Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita, tidak semua kota memiliki potensi seperti yang dimiliki oleh Kota Semarang. Pengembangan tersebut, nantinya bisa dilakukan kerjasama dengan menggandeng perusaah swasta berbentuk Corporate Social Responsibility (CSR).

“Para petani itu sebenarnya sudah bagus, jadi jangan sampai mereka pinjam modal sendiri untuk pengembangan. Pemerintah Kota Semarang sudah semestinya untuk bisa mensupport. Tanahnya mereka sudah punya, kami hanya melakukan pendampingan, kemudian membantu lewat CSR. Sekarang kan banyak CSR yang bisa sinergi dengan pertanian,” katanya.

Seksi Pengolahan Hasil Susu Kambing Etawa, Idayanti, mengatakan saat ini pihaknya telah berencana untuk melakukan pengembangan agar kebun peternakan Kambing Etawa tersebut menjadi salah satu tempat wisata edukasi di Kota Semarang. (amu/zal)