Oleh. Ismiasih, S.Pd (Guru SMP 23 Semarang).
Oleh. Ismiasih, S.Pd (Guru SMP 23 Semarang).

Membaca bacaan yang berhuruf Jawa tetap harus dilestarikan. Karena dengan  melestarikan huruf Jawa kita bisa menjaga kelestarian budaya dan bahasa Jawa. Pembelajaran membaca huruf Jawa diharapkan agar generasi mendatang tidak akan melupakan dengan huruf Jawa. Terutama para generasi orang-orang yang penyuka budaya Jawa. Saya tidak bisa membayangkan, seandainya huruf Jawa sudah tidak diajarkan di sekolah, bagaimana nasibnya. Mungkin hanya tinggal prasasti yang hanya dikenang  saja.

Selain itu siswa merasa kesulitan membaca huruf Jawa, dikarenakan materi pelajaran tentang huruf Jawa terbilang sedikit. Jika setiap jenjang tingkat sekolah bahasa Jawa 2 jam pelajaran, sedangkan Kompetensi Dasar(KD yang dipelajari meliputi  4 sampai 5 KD.  Maka untuk KD membaca wacana berhuruf Jawa  hanya 2 jam pelajaran dalam satu semester. Hal ini mungkin yang menjadi penyebab siswa kesulitan membaca huruf Jawa dan banyak yang tidak hafal dengan huruf Jawa.

Membaca menurut HG Tarigan  adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca  untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata/ bahasa tulis.

. Bisa disimpulkan bahwa kegiatan membaca adalah sebuah proses untuk memperoleh pesan dengan cara mengemukakan atau membunyikan melalui media bahasa tulis. Jadi kegiatan membaca itu punya makna dan tidak hanya sekedar mengucapkan kata-kata saja.

Untuk membaca pada pelajaran bahasa Jawa dengan materi membaca huruf Jawa pada pembelajaran dasar atau tingkat SD diperkenalkan dahulu huruf Jawa dan juga pengucapannya. Karena pengucapan untuk pelajaran bahasa Jawa dengan bahasa indonesia berbeda. Anak-anak saat ini dalam mengucapkan kata-kata Jawa kadang disamakan dengan mengucapkan kata-kata yang berbahasa Indonesia. Ucapan yang salah akan menimbulkan makna yang berbeda. Misalkan kata “loro” yang artinya dua kalau diucapkan dengan menggunakan ucapan ejaan bahasa Indonesia maka artinya jadi sakit.

Dengan begitu  supaya siswa itu tidak merasa rumit dan tahu isi bacaan yang berhuruf Jawa maka perlu dibuat cara dengan menggunakan menggunakan media kartu kartu dengan diberi nomer. Dari kartu yang diberi nomer tadi siswa akan menyambungkan kata-kata( menyambung dengan kartu yang diberi nomer). Maka cara tersebut saya singkat jadi sebuah akronim. Bungkarno berasal dari kata bung singkatan dari menyambung, kar singkatan dari  kartu, dan no. Dengan menggunakan kartu yang diberi nomer,  siswa akan tertarik dan lebih senang untuk membaca bacaan huruf Jawa.

Dalam pembelajaran dengan KD membaca bacaan berhuruf Jawa selain dengan menggunkan media, dalam hal ini dengan media “bung karno” , juga disertai dengan metode kooperatif learning. Tujuannya agar siswa bisa saling berdiskusi. Siswa yang belum mampu untuk membaca bacaan berhuruf Jawa bisa bertanya dengan teman satu kelompoknya.

Sedangkan cara membaca dengan bungkarno sebagai berikut. Guru memilih bacaan huruf Jawa yang sesuai dengan tingkat kelasnya.Dari bacaan tersebut diketik ulang dengan memenggal tiap-tiap kata. Kemudian tiap kata dipotong-potong ditempelkan pada sebuah karton atau kartu remi juga bisa,  agar ukurannya sama. Di sebaliknya kata yang menggunakan huruf Jawa diberi nomer urut. Kata pertama diberi nomer 1, kata kedua diberi nomer 2 dan seterusnya sampai sejumlah kata yang terdapat pada bacaan tersebut selesai dalam satu bacaan. Dari kartu yang telah ada tulisan berhuruf Jawa tadi dan sudah diberi nomor kemudian dimasukkan ke dalam amplop.  Satu amplop satu bacaan. Amplopnya tidak hanya satu, tetapi disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibuat. Jika kelompoknya ada 8 maka membuat delapan amplop yang diisi kartu dengan ditulisi kata berhuruf Jawa dan nomornya.

Untuk praktik pembelajarannya, guru menerangkan terlebih dahulu cara membaca bacaan dengan menggunakan huruf Jawa.  Terutama pada huruf yang menggunakan sandhangan, huruf yang menggunakan pasangan, tulisan Jawa yang menggunakan angka Jawa,  dan pada (tanda baca).

Selanjutnya guru membentuk kelompok. Tiap kelompok masing-masing ada 4 siswa. Jika dalam satu kelas ada 36 anak, maka dibuat 9 kelompok.  Dari masing-masing kelompok harus mempunyai nama dan harus ada ketua kelompoknya. Kemudian guru membagikan tiap-tiap amplop ke masing-masing kelompok. Siswa membuka amplop. Siswa membaca tiap kata dan disuruh mengurutkan kata-kata berdasarkan urutan nomer. Dari keempat siswa  dalam satu kelompok tersebut, kemudian  membuat pembagian tugas. Kalau dalam isi amplop ada 100 kata, maka setiap anak mendapatkan kartu 25 kata. Setelah terbagi,  anak  membaca tiap kata dan ditranslit ke dalam tulisan latin. Apabila ada siswa yang tidak tahu cara membaca kata berhuruf Jawa tersebut, teman dalam satu kelompok bisa membantunya.  itu diurutkan dan ditempel pada sebuah karton. Kegiatan menempel pada karton inilah siswa harus sambil membaca. Maka  lama kelamaan siswa akan hafal dan terbiasa membaca dengan huruf Jawa.