Pembaca Buku Masih Tinggi

232
TAK TERURUS: Kondisi Taman Rekreasi dan Hiburan Keluarga Wonderia Semarang mangkrak setelah disegel Satpol PP. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK TERURUS: Kondisi Taman Rekreasi dan Hiburan Keluarga Wonderia Semarang mangkrak setelah disegel Satpol PP. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Minat terhadap buku di Semarang, terhitung masih tinggi. Penikmat buku di ibukota Jawa Tengah ini, tak kalah dengan pembaca di kota-kota besar lainnya.

Menurut Muhammad Yusuf dari Yusuf Agency Jogjakarta, Semarang hanya kalah dari Jakarta dan Jogjakarta. “Disini banyak yang senang buku, tapi toko bukunya tidak banyak. Makanya saya rutin mengadakan bazzar buku di Semarang, setidaknya setahun dua kali,” jelasnya di pelataran parkir Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (28/10) kemarin.

Untuk event kali ini digelar mulai 27 Oktober hingga 1 November mendatang. Yusuf mengatakan, gelaran bazzar serupa pernah diadakannya di Wonderia selama tiga bulan. Kala itu setidaknya sekitar 100 ribu buku terjual. Sementara untuk event rutin yang biasanya digelar selama dua minggu, bisa laku antara 20 ribu hingga 40 ribu buku. “Kalau waktu event pendek, buku yang saya bawa relatif bervariasi agar semakin banyak pilihan,” katanya.

Buku yang paling banyak digemari pembaca Semarang adalah hukum, filsafat, sastra, dan buku aneka tips. Dia mengaku tak merasa tersaingi dengan banyaknya penjual buku online. Ini karena dia pun memanfaatkannya untuk menjual buku hingga ke luar daerah. “Jualan online malah enak, karena pembeli tidak menawar. Jika cocok langsung bayar,” tandas Yusuf.

Sementara pembeli konvensional tetap dilayani karena banyak yang senang dan menikmati sensasi kala berburu di lautan buku. Seorang pembeli, Berta Silvia, mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) mengatakan lebih senang membeli buku saat ada bazzar. Alasannya, selain banyak pilihan seringkali mendapat buku yang tak terduga. “Kadang kan ada buku lama, nah selain harganya murah juga banyak judul buku baru yang tak masuk dalam literasi kita,” katanya. (tsa/ida)