25.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Terpaksa Wisuda dengan Streaming dari Negeri Tirai Bambu

Aga Rahmadani, Ilustrator Muda Unnes, Kembangkan Usaha di China

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Prosesi wisuda Universitas Negeri Semarang (Unnes) Periode ke IV tahun 2017, di Auditorium Unnes Sekaran, Kamis (26/10) kemarin, seharusnya diikuti 1.528 mahasiswa yang lulus. Namun, salah satu wisudawan tidak hadir, karena sedang berada di China. Adalah Aga Rahmadani, yang menjadi ilustrator bertaraf internasional ini, sedang mengembangkan usahanya di China. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

SEJAK umur 5 tahun, dara manis kelahiran Semarang 21 Maret 1992 yang akrab disapa Aga ini, sudah senang menggambar. Bahkan, sejak itu pula bertekad ingin menjadi seniman. Ternyata cita-cita itu ia pegang terus, meski keluarga tidak memberikan dukungan penuh.

Akhirnya setelah lulus SMA, ia melanjutkan studi ke Unnes mengambil jurusan Seni Rupa. “Dari hobi, saya terus berkarya. Akhirnya tahun 2012, saya mencoba memajang hasil karya ilustrasi di Facebook dan membuat akun linkedin kemudian nekat masuk ke grup ilustrator profesional,” terangnya.

Aga bisa dibilang nekat, pasalnya saat itu ia belum terbilang sebagai ilustrator profesional. Namun nasib berkata lain, ia kemudian mendapatkan seorang editor yang sedang hunting seorang ilustrator. Setelah itu, ia mendapatkan order secara profesional dari Malaysia, yaitu penerbit buku Karangkraft. Ia diminta membuat ilustrasi untuk sebuah buku. “Dari sini, saya mulai dikenal. Karena Karangkraft share hasil karya saya, kemudian banyak editor menghubungi saya,” paparnya.

Walaupun sudah bisa dibilang profesional, ia tetap rendah hati. Aga tetap mengerjakan pesanan personal untuk hadiah ulang tahun, wisuda, dan lainnya. Namun saat itulah, ia mulai kewalahan dan mengembangkan usaha hingga terciptalah perusahaan startup Gagestudio dengan omzet minimal Rp 20 juta perbulan. “Saya ngga bisa handle sendiri, karena banyak klien dari Amerika, Eropa, Inggris, India, Jepang, dan Australia. Macam-macam ilustrasi buku, periodik, desain packaging, majalah, tekstil, sarung bantal dan lainnya. Saya akhirnya merekrut 7 karyawan,” bebernya.

Dari tahun 2012 sampai 2014, Aga menjalani pekerjaan sebagai freelancer membuat ilustrasi buku, kamus, buku sains, dan lainnya. Ia ketika praktik kerja lapangan, pernah menggantikan desainer surat kabar yang sedang sakit selama 2 bulan dan karyanya masih dipakai sampai sekarang. Pengalamannya bertambah ketika dia diminta mendesain semua hal tentang Hari Jadi Bondowoso mulai dari iklan hingga backdrop. “Dari situ banyak penulis yang minta dibuatkan ilustrasi, saya pun memiliki banyak portofolio,” bebernya.

Aga mengaku pekerjaan yang diminta kliennya bisa dilakukan dimana saja, asalkan hasil yang dibuat sesuai deadline dan permintan. Dalam sehari, Gagestudio bisa menghasilkan 5 sampai 10 ilustrasi dengan omzet perbulan yang ternyata cukup menjanjikan. Kerja Gagestudio cukup cepat untuk memenuhi permintaan klien.

Aga saat ini berada di China sejak 15 September 2017 lalu untuk mengikuti program Au Pair. Ia dan karyawannya berkoordinasi lewat online. Sosoknya yang ulet membuat dirinya banyak menerima pesanan, padahal baru sebulan di China. “Karena banyak klien di sini, saya ingin membuka kantor usaha di China,” ucapnya bangga.

Masalah desain yang dipesan, Aga mengaku bisa mengerjakan dua jenis ilustrasi yaitu manual menggunakan cat air maupun digital painting. Saat ini Aga memamerkan karyanya di website pribadinya yakni www.againcolor.com. Hasil karyanya juga sengaja ditampilkan di berbagai media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Keberhasilan Aga membuat Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman bangga. Bahkan pihak kampus memajang hasil karya Aga saat wisuda kemarin layaknya pameran. Fathur mengaku jika sebenarnya banyak talenta Indonesia yang punya potensi bersaing di dunia internasional. Karena itu, perlu mendapatkan dukungan agar bisa bersaing dan berhasil. “Aga tentu menjadi kebanggan Unnes. Apa yang ia pelajari di Unnes, bisa diaplikasikan di dunia internasional. Bahkan karyanya mendunia. Saya harap bisa menjadi inspirasi mahasiswa lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, dalam prosesi wisuda, Aga terpaksa melakukan dengan cara streaming langsung dari negeri Tirai Bambu. “Ngga bisa datang mas, karena harus kerja di China. Jadi harus izin dulu nggak ikut prosesi wisuda bareng teman-teman,” katanya kemarin. (*/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -