AYO MEMBACA: SMAN 2 Kendal menerima penghargaan dari Leprid dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah denga Peserta Terbanyak membaca Jawa Pos Radar Semarang di halaman sekolah, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
AYO MEMBACA: SMAN 2 Kendal menerima penghargaan dari Leprid dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah denga Peserta Terbanyak membaca Jawa Pos Radar Semarang di halaman sekolah, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL – SMA Negeri 2 Kendal menerima  penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) atas prestasinya membuat gerakan literasi sekolah dengan jumlah peserta terbanyak.

Sedikitnya ada 1082 warga sekolah di SMAN 2 Kendal melakukan gerakan literasi dengan membaca secara masal selama 15 menit di halaman sekolah setempat. 1082 orang tersebut terdiri dari guru, siswa, karyawan, staf, sampai penjaga sekolah membaca bersama-sama.

“Seluruh masyarkat kampus di SMA 2 Kendal, hari semua kami kumpulkan di halaman sekolah. Semua sejumlah 1082 orang secara masal membaca koran  Jawa Pos Radar Semarang,” kata Kepala SMA 2 Kendal, Yuniasih.

Seluruh siswa dan guru membaca koran Jawa Pos Radar Semarang selama lebih kurang 15 menit. Kemudian dari hasil bacaan itu sesama murid maupun guru untuk saling mempresentasikan hasil bacaannya kepada temannya.

Dengan gerakan literasi sekolah ini, menurutnya bisa menjadi sarana transfer pengetahuan yang efektif. “Sebab siswa tidak hanya membaca saja, tapi juga harus memahami yang sudah dibaca kemudian ditularkan kepada teman lainnya,” jelasnya.

Seperti dirinya, kemarin membaca berita di halaman pertama Jawa Pos Radar Semarang tentang ajakan Bupati Kendal, Mirna Annisa supaya masyarakat melakukan gerakan Literasi untuk meningkatkan taraf hidup. Yakni literasi tidak hanya membaca dan menulis, tapi menganalisis dan mendenkontruksi.

Yuniasih mengatakan jika gerakan ini adalah awal untuk memberikan semangat kepada para siswa memahami dan menerapkan literasi dalam kesehariannya. “Selanjutnya, mulai besok (hari ini, red) kami akan terapkan sebelum jam pelajaran kami wajibkan siswa untuk membaca selama 15 menit, kemudian mempresentasikannya kepada guru ataupun wali kelasnya,” tandasnya.

Program literasi ini sifatnya wajib, sehingga siswa juga memiliki tanggung jawab setiap harinya. Sebab jika siswa tidak diberi tanggung jawab untuk membaca, mereka akan terkesan seenaknya dan gerakan literasi tidak bisa berjalan.

Sementara Direktur Leprid, Paulus Pangka mengatakan jika pemberian penghargaan berupa piagam, medali dan piala dari Leprid menurutnya lantaran gerakan Literasi Sekolah ini telah  dapat menginspirasi sekolah di Kendal untuk melalukan gerakan sama. Sehingga bisa meningkatkan pengetahuan kecerdasan siswa maupun guru.

“Gerakan Literasi Sekolah ini sangat luar biasa sekali. Dengan gerakan membaca secara masal denan peserta terbanyak ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain. Tidak hanya di Kendal tapi seluruh Jateng bahkan Indonesia secara luas,” timpalnya.

Duakuinya, Leprid setiap kali ada kesempatan selalu mengajak masyarakat membaca. Hal itu lantaran menurutnya, membaca adalah jendela dunia. “Jadi pintu masuknya segala ilmu pengetahuan. Makanya setiap ada kesempatan, kami selalu membagi-bagikan buku kepada siapa saja. Tujuannya masyarakat ini mau membaca,” imbuhnya. (bud/bas)