Berbahaya, Ikan Laut Tercemar Sampah Plastik

489
Arif Havas Oegroseno (IST).
Arif Havas Oegroseno (IST).

“Ternyata betul, 28 persen ikan di pasar ikan Makassar, makan plastik. Dan 67 persen ikan di Amerika, juga makan plastik. Selain itu, 30 persen ikan anchovy di Tokyo makan mikroplastik. Ikan anchovynya dimakan ikan tuna, kemudian ikan tunanya dikonsumsi. Ini fakta baru yang sangat mengejutkan,”

Deputi I Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim

Arif Havas Oegroseno

SEMARANG–Pengelolaan sampah plastik masih menjadi masalah klasik yang hingga sekarang belum ditemukan solusi jitu. Tak hanya di daratan, sampah plastik juga cukup merepotkan wilayah lautan. Hal itu diperkuat fakta hasil riset dua perguruan tinggi tentang kondisi ikan yang hidup di perairan Makassar dan Amerika Serikat. Ikan di kedua negara tersebut ternyata mengonsumsi sampah plastik.

“Kami melakukan survei di Makassar dan di Amerika untuk melihat apakah ikan itu makan plastik. Ternyata betul, 28 persen ikan di pasar ikan Makassar, makan plastik. Dan 67 persen ikan di Amerika, juga makan plastik. Selain itu, 30 persen ikan anchovy di Tokyo makan mikroplastik. Ikan anchovynya dimakan ikan tuna, kemudian ikan tunanya dikonsumsi. Ini fakta baru yang sangat mengejutkan,” kata Deputi I Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim, Arif Havas Oegroseno.

Menghadapi ancaman sampah plastik tersebut, kementerian koordinator bidang maritim berupaya menyelesaikan usulan peraturan presiden tentang percepatan pembangunan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah.

“Kementerian koordinator bidang maritim menyelesaikan usulan perpres tentang pusat listrik tenaga sampah dan Jateng merupakan salah satu provinsi yang dijadikan pilot project. Selain itu, kami melakukan pengelolaan sampah plastik menjadi BBM. Dua hari yang lalu, saya menerima investor yang datang dari Australia. Dia mampu memanaskan plastik 400 derajat menjadi solar dan premium yang siap pakai,” lanjutnya saat menghadiri Sosialisasi Implementasi Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia di Gedung Grhadhika Bhakti Praja, kemarin.

Sementara itu, maraknya sampah plastik menjadi kendala utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim. “Sebanyak 80 persen sampah plastik itu datangnya dari darat yang bocor masuk ke sungai. Kemudian masuk ke laut, karena tidak dikelola dengan baik,” terangnya.

Ironisnya, Indonesia masuk dalam 10 besar dunia negara yang pembuang sampah plastik ke laut. Sebagian negara lain juga berada di Asia. Seperti China, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia.

Pihaknya mengaku telah berupaya mengelola sampah plastik. Tapi tetap saja masih tertinggal, karena anggaran untuk pengelolaan sampah di Indonesia hanya enam dolar per orang. Sebaliknya, anggaran untuk pengelolaan sampah di negara lain mencapai 15 dolar per orang.

“Kenapa pengelolaan sampah kita tidak baik? Karena belum sesuai dengan rata-rata standar internasional. Di dunia itu standar pengelolaan sampah per orang 15 dolar AS. Sementara Indonesia hanya enam dolar AS per orang,” jelasnya.

Sedangkan Sekda Jateng, Sri Puryono menjelaskan perlunya langkah serius untuk menyelamatkan laut Indonesia dari sampah plastik. Apalagi limbah plastik bisa didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Menurutnya, daerah-daerah hulu di muara laut harus diperhatikan.

“Karena kita (Indonesia, red) ternyata negara yang membuang sampah plastik ke laut terbanyak nomor dua setelah China. Kalau tidak diperhatikan, ini menjadi polusi plastik yang membahayakan. Kita harus mengambil langkah-langkah. Ke depan saya minta Dinas Lingkungan Hidup merumuskan kebijakan apa yang bisa tanggulangi,” tegasnya. (amh/ida)