SAMPEL BATU BATA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat melihat proses pengambilan sampel batu bata kuno oleh Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jateng di Jalan Gelatik, Kota Lama Semarang (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SAMPEL BATU BATA: Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat melihat proses pengambilan sampel batu bata kuno oleh Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jateng di Jalan Gelatik, Kota Lama Semarang (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah mengambil sampel batu bata yang ditemukan terpendam di bawah Jalan Gelatik, Kota Lama, Semarang. Sampel batu bata kuno tersebut akan dilakukan penelitian di laboratorium untuk mengidentifikasi apakah betul bahwa struktur batu bata kuno tersebut merupakan struktur jalan masa silam. Termasuk untuk mengetahui perkiraan waktu benda tersebut aktif beroperasional.

Tim berjumlah empat orang dibantu tenaga pekerja melakukan penggalian tanah untuk dibuat grid ekskavasi dan menemukan titik struktur batu bata jalan kuno. Di salah satu titik, tim menemukan lapisan berupa pasangan batu bata kuno di kedalaman 40 sentimeter.

“Kami ingin mengetahui lebih pasti fungsi benda tersebut di masa lalu, apakah sebagai struktur jalan atau yang lainnya,” kata Kapokja Publikasi BPCB Provinsi Jateng, Wahyu Kristanto, Kamis (26/10).

Dijelaskannya, penggalian tanah harus dilakukan secara hati-hati. Hal itu dilakukan untuk menemukan struktur asli batu bata kuno tersebut. Dia berharap pengelolaan di Kota Lama sebagai benda cagar budaya agar tetap lestari, sehingga bisa menjadi kebanggaan Kota Semarang.

“Setelah dilakukan penelitian, diharapkan nantinya bisa diketahui secara pasti fungsi dari benda tersebut di masa lalu. Penggalian diperkirakan membutuhkan waktu tiga hari,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, revitalisasi Kota Lama tersebut mendapatkan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai Rp 194 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan sarana-prasarana drainase, jalan dan furniture. Saat dilakukan pengerjaan pembangunan drainase di Jalan Gelatik ternyata ditemukan struktur jalan di bawah lapisan beton.

Nah, temuan tersebut akan dilakukan penelitian oleh tim BPCB dengan mengambil sampel. Ini untuk mengetahui bahwa struktur batu bata tersebut dulu dibangun untuk apa, termasuk lapisan jalan dari tahun ke tahun seperti apa,” katanya.

Nantinya, lanjut Hevearita, di lokasi penggalian pengambilan sampel tersebut akan dibangun desain kaca mirip akuarium. Sehingga nantinya generasi muda bisa memperoleh pengetahuan dan pembelajaran sejarah mengenai benda-benda tersebut. Sedangkan mulai di Bubakan akan dibangun polder mini. “Pembangunan tetap dilanjutkan, sudah mendapatkan lampu hijau dari BPCB, yakni melalui Jalan Cendrawasih dan Sendowo,” ujarnya.

Sedangkan pembangunan di Jalan Letjen Suparapto, hingga ke arah utara harus dilakukan lebih hati-hati. Sebab, sangat dimungkinkan ada temuan-temuan lain. “Maka dari itu, kami melibatkan pihak BPCB selama proses pembangunan,” katanya.

Sebelumnya, temuan struktur batu bata tua yang terletak di kedalaman kurang lebih 90 sentimeter dari permukaan tanah di sepanjang Jalan Gelatik, Kota Lama Semarang, diperkirakan adalah struktur jalan yang tertimbun sejak ratusan tahun silam. Ada dugaan, struktur jalan ini ada kaitan erat dengan temuan benteng yang ditemukan beberapa waktu lalu, yang juga terpendam di kawasan Kota Lama, tepatnya di Kampung Sleko, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara oleh tim Balai Arkeologi Jogjakarta.

Dalam kurun waktu 2009-2013, sedikitnya ditemukan lima Bastion menyerupai dinding benteng berbentuk mata panah yang posisinya tertimbun tanah. Lima Bastion tersebut teridentifikasi adalah Bastion De Smits, Bastion De Zee, Bastion Ijzer, Bastion Hersteller, dan Bastion Amsterdam. Selain itu juga ditemukan satu Bastion kecil, yakni Bastion Ceylon.

Tidak hanya itu, juga ditemukan benda-benda kuno yang ditengarai merupakan peninggalan Dinasti Cing abad ke-18. Ada dua jenis keramik, yakni China dan Eropa. Temuan lainnya berupa logam, tembikar, tulang belulang, serta dua keping uang logam berlogo VOC. (amu/aro)