DOK.PRIBADI
DOK.PRIBADI

SETIAP anak yang dibesarkan di daerah pesisir pantai pasti memiliki cerita tersendiri antara dirinya dan laut. Salini Rengganis, surfer muda asal Pacitan, Jawa Timur, pun mengakuinya. Deru ombak kerap memanggilnya untuk beradu dengan papan selancar kesayangannya. (nao/c14/dhs)

Nggak sulit menemukan keberadaan Salini di kabupaten ujung barat daya Provinsi Jawa Timur (Jatim) ini. Sebab, gadis kelahiran Jogjakarta, 19 tahun silam, itu tinggal di pusat Kabupaten Pacitan, tepatnya dekat dengan alun-alun. Tim Zetizen pun berkesempatan berkunjung ke rumahnya yang juga sekaligus tempat workshop papan selancar milik sang ayah, Wied Iedewa.

Kedatangan kami disambut ramah oleh pria paro baya tersebut. Nggak lama, keluar sosok gadis manis yang berwajah aksen India. Yap, ternyata Salini punya keturunan darah India dari almarhum ibunya. Sang ayah berdarah Jawa. Kebetulan, hari itu Salini hendak berselancar ke Pantai Watu Karung.

FAIZAL/ZETIZEN TEAM
FAIZAL/ZETIZEN TEAM

Kami memutuskan untuk ikut dengannya sembari mendengarkan ceritanya sebagai seorang peselancar muda. ’’Seminggu aku bisa dua kali surfing kalau ombaknya bagus aja sih. Paling sering ya di Watu Karung, kalau nggak gitu di Srau,’’ curhatnya.

Kehidupan sebagai seorang peselancar ternyata digelutinya selama 14 tahun terakhir. Semua berawal saat Salini dan ayahnya tinggal di dekat Pantai Teleng. Salini kecil yang sering diajak ayahnya joging di pesisir pantai terbiasa melihat pemandangan surfer yang sedang beraksi di atas ombak. ’’Papa, aku ingin seperti mereka. Aku ingin belajar surfing,’’ kata sang ayah menirukan ucapan Salini yang kala itu berumur 5 tahun.

Tanpa berpikir panjang, Wied langsung mengajari Salini berselancar. Hingga akhirnya, menginjak usia 7 tahun, Salini mulai mahir mengambil ombak sendiri. Nggak mudah menjadi surfer profesional seperti saat ini. Salini juga pernah mengalami pengalaman buruk saat proses belajar.

’’Pas latihan surfing waktu umur 7 tahun, aku pernah ikut-ikutan atraksi menjatuhkan badan ke laut seperti teman-teman. Karena saat itu belum bisa berenang, akhirnya aku tenggelam dan harus minum banyak air. Yang aku lakukan saat itu adalah memeluk papan selancarku erat hingga akhirnya terapung ke pantai,’’ kenangnya.

Insiden tersebut ternyata mampu membuatnya trauma selama dua minggu. Namun, setelah itu, Salini merasa rindu dan ingin kembali menaklukkan ombak. ’’Ombak seperti pengganti ibu bagiku karena selalu memelukku di laut, membuatku selalu ingin kembali. Sampai saat ini, aku belum terpikir akan meninggalkan laut dan ombak,’’ ucap Salini.

Ternyata bukan tanpa alasan Salini tumbuh besar di Pacitan. Sang ayah ingin memberikan pembelajaran tentang kehidupan yang baik kepada anak semata wayangnya. Menurut sang ayah, Pacitan adalah daerah yang tenang, nggak rawan bencana, dekat dengan alam, dan kebetulan juga kampung halamannya.

’’Sebelum memilih menetap di Pacitan, saya membandingkannya dengan beberapa kota yang pernah saya tinggali. Di antaranya, Jakarta, Padang, Jogjakarta, dan Bali. Hingga akhirnya, saya memilih Kabupaten Pacitan sebagai tempat yang pas untuk membangun karakter anak saya,’’ tutur Wied.