GANGGU MASJID : Bangunan museum Masjid Agung Demak letaknya mengganggu masjid (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
GANGGU MASJID : Bangunan museum Masjid Agung Demak letaknya mengganggu masjid (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Keberadaan Masjid Agung Demak sebagai karya agung Walisongo hingga kini tetap menjadi ikon Kabupaten Demak. Bahkan, pengunjungnya tercatat nomor dua terbesar setelah Candi Borobudur di Magelang. Meski demikian, banyak hal berubah di kawasan tersebut sehingga perlu perhatian bersama. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

SALAH satu tokoh Demak yang peduli dengan keberadaan Masjid Agung Demak adalah HM Anwar Said. Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten (DPUK) Demak 1973 dan mantan pegawai bidang fisik prasarana (Fispra) Bappeda Provinsi Jateng 1998 ini bercerita banyak, soal kawasan Masjid Agung Demak.

Anwar Said menuturkan, Masjid Agung Demak yang dibangun Walisongo hampir 638 tahun lalu ini telah dimulai pengembalian keaslian bangunannya pada 1963. Menurutnya, sebelum tahun itu, ada semacam bangunan tratak rambat dengan konstruksi baja menempel di Serambi Majapahit yang berada di depan masjid. Tratak ini membentang dari barat ke timur.

Untuk masuk, tratak rambat ini terhubung dengan gapura besar. Kemudian, di sebelah selatan ada bangunan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) dan tiga rumah penduduk. Di antaranya, rumah milik Kusumowiyoto (Kepala SDN 5 Bintoro). Lalu, yang bersangkutan pindah ke Jalan Kiai Palembang yang kini ditempati Cik Kiem.

HM Anwar Said
HM Anwar Said

Selain itu, kata dia, di muka masjid agak ke utara ada bangunan water tower dan ada dua madrasah. Sekarang, bekas bangunan madrasah ini ditempati bangunan museum Masjid Agung dan bangunan masuk ke makam.

Dia mengatakan, pada 1960, Presiden Soekarno pernah ziarah ke Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Oleh presiden, pengelola masjid diminta membenahi Masjid Agung dan makam Sunan Kalijaga.

“Saat itu, semua perencanaan dan pembangunan ditangani pemerintah pusat, bagian penataan arsitekturnya adalah Ditjen Purbakala. Sehingga disepakati, bahwa bangunan tambahan yanga ada di muka masjid dipindah ke belakang agar tidak menghalangi pandangan kemegahan Masjid Agung Demak,” katanya. Tower air dipindah ke utara agak ke belakang. Kemudian, kantor Kementerian Agama di sebelah selatan bagian belakang. Sedangkan, dua madrasah yang dikelola oleh para tokoh dan ulama NU dipindah di barat dan urut ke belakang.

“Hal ini, menurut para ulama dan pejabat kantor Kemenag bahwa madrasah harus berada di lingkungan masjid. Ini untuk mendukung kemakmuran masjid atau menjadikan masjid Agung sebagai masjid paripurna. Karena itu, tidak diizinkan ada bangunan melebihi tempat wudlu,” ungkap Anwar.

Dalam perkembangannya, Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) membeli bangunan di Jalan Sultan Fatah (kawasan Pecinan). Gedung Pecinan ini kemudian ditempati kantor Kemenag. Namun, kelanjutannya, pemerintah membangun kantor Kemenag di tanah BKM di Jalan Bhayangkara Baru, Kota Demak.

Anwar Said menambahkan, bahwa pada sekitar 2010 telah dibangun museum di lokasi madrasah yang dulu dibongkar. Bahkan, bangunan ini nyambung dengan bangunan masuk ke makam Raden Fatah.

“Hemat kami, bangunan museum dan yang menuju ke makam ini telah mengahalangi akses jalan masuk yang dari arah utara. Padahal, jalan ini penting bagi jamaah Kauman Utara yang menuju ke Masjid Agung,” katanya.

Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, utamanya saat masa kepengurusan H Imam Sunanto, Takmir Masjid Agung Demak membuat tenda tenda sementara di sekeliling Serambi Majapahit untuk salat Jumat. Kemudian, usai salat Jumat tenda dibongkar. Nah, seiring berjalannya waktu setelah H Imam Sunanto meninggal, tenda tenda ini justru dipasang terus menerus tanpa dibongkar. Bahkan, sekarang bangunan tenda diganti dengan bangunan permanen dari baja.

“Dengan demikian, pembangunan museum di muka Masjid Agung dan tenda baja menempel Serambi Majapahit tidak sejalan dengan rencana pemerintah pusat (Ditjen Purbakala) tahun 1963,” katanya.

Untuk mengembalikan keaslian Masjid Agung Demak, kata dia, sangat perlu mengikuti konsep semula dari Ditjen Purbakala. Ini perlu dilakukan demi menjaga kelestarian masjid Walisongo tersebut sebagai banguna cagar budaya (BCB). “Kami khawatir, generasi penerus yang mengelola masjid ini nanti tidak tahu keaslian sejarah. Kami berharap, para pemangku kepentingan mempertimbangkan kembali keaslian Masjid Agung Demak,” kata Anwar Said.

Menurutnya, keberadaan bangunan Museum Masjid Agung Demak dinilai letaknya kurang pas. Sebab, bangunan baru yang di dalamnya terdapat benda bersejarah seperti 4 pilar atau tiang masjid tersebut menghalangi akses warga sekitar untuk bisa ke masjid. Bahkan, museum yang dibangun dari APBD Demak dan Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) ini  cukup mengganggu view Masjid Agung Demak dari bagian depan. Kesannya, kawasan masjid tidak bisa luas sehingga pandangan estetisnya berkurang. (*/ida)