PEMBUKAAN : Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kendal, Joko Supratikno membuka lomba Geguritan di SD Kebonharjo, Patebon, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PEMBUKAAN : Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kendal, Joko Supratikno membuka lomba Geguritan di SD Kebonharjo, Patebon, kemarin (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG).

KENDAL—Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Disdikbud) menggelar tembang mocopat, tembang dolanan dan geguritan. Lomba tersebut digelar untuk melestarikan budaya Jawa yang sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda.

“Kami mengadakan lomba tingkat SD se-Kabupaten Kendal ini, agar anak-anak sejak dini sudah mengenal budaya adiluhung di Jawa,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Joko Supratikno di sela membuka lomba di SD II Kebonharjo, Patebon, Rabu (25/10) kemarin.

Diakuinya, perkembangan teknologi dan masuknya budaya asing mengakibatkan generasi muda melupakan budaya-budaya lokal. “Harapan kami dengan adanya lomba, anak-anak memiliki semangat dan kesadaran untuk melestarikan budaya Jawa,” akunya.

Jumlah peserta lomba ada sebanyak 128 orang. Mereka perwakilan dari kecamatan yang sebelumnya dilakukan seleksi di tingkat kecamatan. “Pemenang akan kami berikan hadiah berupa piala dan uang pembinaan,” tambahnya.

Kepala Seksi Kurikulum SD, Mulyono mengatakan bahwa tembang mocopat memiliki filosofi tinggi. Tembang yang terdiri atas 11 bagian itu menceritakan kehidupan manusia di dunia. Yakni dari lahir sampai meninggal. “Disana ada unsur guru lagu, guru wilangan dan guru gatra,” jelasnya.

Sedangkan tembang dolanan banyak varian lagu. Namun sekarang perkembangannya tidak terlalu banyak, karena sedikit orang yang mau menciptakan syair dan lagu untuk anak-anak dalam bahasa Jawa.

Sedangkan untuk geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa menuntut kreativitas anak. Dimana anak harus menulis dan menciptakannya sendiri. “Untuk geguritan ini, tujuannya agar anak banyak kosa kata bahasa Jawanya,” tambahnya.

Kepala UPTD Disdikbud Patebon, Sudiyo Edi Dwi Putro menambahkan jika lomba ini untuk memperkenalkan siswa akan budaya Jawa yang egitu beragam. “Siswa akan menyadari keragaman yang ada di Indonesia sehingga menumbuhkan rasa nasionalisme,” katanya. (bud/ida)