PURWOREJO— Kecelakaan tunggal bus Brilian AA 1632 DD mengakibatkan empat  korban luka di  jalur Desa Cidora, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, Rabu (25/10) dinihari. Bus berpenumpang 43 orang anggota Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Puworejo. Mereka berasal dari Kecamata Bener,  peserta aksi demo di Istana Negara, Jakarta.  Penyebab kecelakaan, diduga sopir bus mengantuk karena kelelahan.

Salah satu korban kecelakaan adalah Misbachul. Ia  mengalami luka patah tulang. Rencananya, korban dirujuk ke RSUD Purworejo. “Saya tadi hendak ke lokasi kejadian,  sudah sampai Kebumen. Tapi informasinya, korban akan dibawa ke Purworejo, kemudian saya putar balik,” kata Muhammad Charisuddin, keluarga Misbachul, warga Padukuhan Santren RT 05/RW 01 Desa Mayungsari, Kecamatan Bener.

Dikatakan,  Misbachul merupakan salah satu  perwakilan Kecamatan Bener yang mengikuti unjuk rasa di Jakarta, menuntut pengangkatan para perangkat desa menjadi PNS. Per desa  diminta mengirimkan dua orang perwakilan.

“Informasi yang saya dapatkan, empat ambulans dari Purworejo sudah meluncur dan empat pasien mengalami luka cukup serius, seperti patah tulang,” kata Charisuddin. Data yang ia peroleh, korban  luka serius ada empat orang. Yakni, Eko Wihyono, 50. Ia  luka di wajah terkena pecahan kaca. Suranto, 45, diduga patah tulang pergelangan tangan kiri;  Suranto, 45, dada kepala sakit tertimpa bus; dan Sucipto, 31, diduga  patah tulang tangan tangan kiri. Pun, Misbachul. Penumpang lainnya, Maemun, 56, menderita luka di bagian punggung dan bahu sakit.

Informasi yang berhasil dihimpun koran ini, kecelakaan bermula ketika bus  hendak pulang ke Purworejo. Di  lokasi kejadian, bus mendadak oleng, lantas nyungsep ke sawah.  Dugaan sementara, sopir bus ngantuk berat. Padahal, rute yang harus dilalui di Lumbir,  Banyumas, jalanan berkelok-kelok tikungan tajam.

Slamet, 42, perangkat Desa Jati yang turut menjadi penumpang bus menuturkan,  sejak memasuki wilayah Banyumas, sopir sudah terlihat mengantuk. Beberapa kali bus sempat keluar jalur utama. Padahal, menurut Slamet, bus melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa penumpang pun mengingatkan sopir agar  berhenti untuk beristirahat. “”Pun dielingke (sudah diingatkan) tapi tetep saja jalan,” ujar Slamet.

Slamet bercerita,  saat bus mengalami kecelakaan hingga terperosok ke sawah dan terguling, beberapa penumpang terlempar. Pecahan kaca akibat benturan hebat mengancam 44 penumpang beserta awak bus. Mereka yang selamat, sebagian tidak bisa keluar. Penumpang  terpaksa memecah kaca belakang untuk menyelamatkan diri.

Agus Purwoko, 40, perangkat Desa Mayungsari, menuturkan, selain mengantuk, sopir diduga terbebani banyak pikiran saat mengemudi, sehingga sulit konsentrasi. Ia mendengar cerita bahwa istri sopir, baru saja  operasi caesar. “Mungkin ingin cepat pulang pingin nengok istri. Sudah diajak berhenti, tapi lanjut jalan,” ujarnya. Informasi yang  dihimpun, 5 korban luka cukup parah  telah dirujuk di RSUD Tjitrowardojo. (jpg/isk)