Buket Bunga dari Kertas, Lebih Tahan Lama

2188
PELUANG BISNIS: Gideon Heru Sukoco dan contoh buket bunga kertas produknya (RESUNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PELUANG BISNIS: Gideon Heru Sukoco dan contoh buket bunga kertas produknya (RESUNI ADELINA BARUS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Gideon Heru Sukoco merintis bisnis buket bunga yang terbuat dari kertas sebagai hadiah untuk orang-orang terkasih. Bisnisnya ini cukup dikenal di Semarang bahkan hingga luar kota. Seperti apa?

REYUNI ADELINA BARUS

BERMULA dari kepekaan terhadap kebutuhan untuk memberikan hadiah kepada teman-teman mahasiswa yang melakukan sidang atau wisuda, membuat Gideon Heru Sukoco dan Sehpemita Ginting terinspirasi untuk membuka usaha buket bunga. Akan tetapi, buket bunga yang mereka rancang bukan buket bunga biasa, melainkan buket bunga dengan berbahan dasar kertas.

“Biasanya kan kalau ada yang sidang atau wisuda rata-rata dikasih hadiah berupa buket bunga. Tapi, lama-kelamaan bunganya jadi layu dan kering, terus akhirnya dibuang. Dari situ kita berpikir untuk membuat bunga yang terbuat dari kertas, agar tidak layu dan tahan lama,” kata Gideon, panggilan akrabnya, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setelah ide itu muncul, Gideon dan Emi mencari tahu cara membuat bunga kertas dari YouTube. Mereka mengadaptasi apa yang mereka pelajari dari internet kemudian melakukan inovasi dengan menggunakan ide mereka sendiri.

“Awalnya cuma dikasih ke temen-temen. Tapi banyak yang saranin untuk coba dijual karena hasilnya lumayan bagus,” ujarnya.

Sekitar Maret 2017, Gideon dan Emi mencoba menjual lewat Instagram dan mempromosikan bisnis ini lewat media sosial yang mereka punya dengan nama brand Kembang Kertas.Smg. Ternyata ada beberapa pesanan yang masuk dan berkelanjutan hingga saat ini. Mereka memutuskan untuk mengembangkan bisnis ini dengan menjual di marketplace seperti Tokopedia, Shopee dan Bukalapak karena banyaknya pesanan dari luar kota.

Ditanya soal tantangan, Gideon mengatakan banyaknya bisnis serupa membuat bisnisnya harus bisa menambah daya saing. Karena itu, mereka selalu berusaha untuk belajar dan lebih menggali kreativitas. Sedangkan dari internal, saat merintis bisnis ini mereka masih belum lulus kuliah, sehiangga sempat terkendala dalam manajemen waktu.

“Jadi, dulu pas awal-awal ya harus bisa membagi waktu antara kuliah, bisnis, dan organisasi. Tapi, sekarang udah lulus, jadi bisa lebih fleksibel dan maksimal dalam menekuni bisnis ini,” katanya.

Diakui,  bisnis Kembang Kertas ini mulanya hanya dijual di sekitaran Undip dan Semarang. Kemudian mulai merambah ke daerah kampus lain, seperti UNNES, Unika Soegijapranata, dan Unissula.

“Kalau untuk satu bulan terakhir ini malah paling banyak pesanan dari luar kota. Mayoritas Jabodetabek, Bandung, dan kota-kota di Jawa Tengah semenjak kami pasarkan di Tokopedia,” kata pemuda asal Demak ini.

Menanggapi kompetitor di bisnis serupa, Gideon mengaku tidak terlalu memusingkan hal itu. “Mungkin banyak juga bisnis lain yang punya kelebihan masing-masing. Kalau menurutku sendiri untuk Kembang Kertas bagus dalam segi bentuk dan kreasi bunga dan buket. Mungkin banyak yang lebih murah, tapi kita lebih mengutamakan kualitas. Yang lainnya, kami lebih fleksibel, bisa COD (cash on delivery)di mana aja bahkan free delivery kalau di Semarang,” jelas Gideon.

Selain itu, jenis dan bentuk bunga yang dijual tidak banyak yang meniru modelnya, sehingga menambah peluang pasar yang lebih besar.

Sejauh ini Kembang Kertas menghasilkan omzet sekitar Rp 2,5 juta – Rp 3 juta per bulan, terkadang lebih dari itu. “Tergantung sih, nggak tentu. Kalau lagi ada event wisudaan gitu pesanan bisa lebih banyak,” katanya.

Meskipun masih terbilang baru dalam usaha ini, Gideon mengaku ingin tetap meneruskan bisnis ini dengan lebih serius. “Harapannya sih nanti bisa buka toko sendiri dan terus berkembang,” ujarnya. (*/aro)

Silakan beri komentar.