SEMARANG – Sejumlah daerah di wilayah Jateng mulai dilirik investor. Sayang, kebijakan izin investasi di setiap daerah masih belum seragam. Jika tidak segera diseragamkan, dikhawatirkan justru melesukan iklim investasi di Jateng.

Wakil Ketua Kadin Jateng Bidang Pengembangan Ekonomi, Didik Sukmono meminta agar pemerintah daerah, khususnya pemerintah kabupaten/kota menyeragamkan perizinan konstruksi agar memudahkan mereka membangun industri yang akan berdampak pada penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Kalau kita bicara tentang perizinan ada dua hal, satu perizinan yang sifatnya prakonstruksi yang di-cover oleh provinsi dan kami merasakan nyaman. Hanya ketika mau masuk ke izin teknis atau izin konstruksi yang ada di kabupaten/ kota, kami mengamati satu kabupaten/kota dengan yang lain itu masih berbeda-beda, belum seragam,” ungkapnya, Selasa (24/10).

Dijelaskan, pengusaha yang ingin berinvestasi ke Jateng biasanya ingin agar pengurusan perizinan tidak terlalu lama dan biayanya pun tidak terlalu mahal. “Pengusaha hanya ingin jangan sampai ada start up yang lama untuk mengurus perizinan, itu tuntutan pengusaha. Yang kedua adalah start up cost-nya jangan tinggi-tinggi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Jateng, Prasetyo Aribowo mengaku terus berupaya memudahkan para investor mengurus perizinan investasi. Hal itu dilakukan mengingat pertumbuhan investasi terus membaik. Bahkan, dari 2013 hingga sekarang ada peningkatan investasi 52 persen.

Dijelaskan pertumbuhan investasi yang cukup fantastis itu didominasi sektor energi untuk Penanaman Modal Asing (PMA), dan sektor tekstil untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Untuk memacu investasi masuk ke wikayahnya, pihaknya berinovasi mengembangkan sistem e-service, yakni pelayanan berbasis elektronik untuk memudahkan investor dalam mengurus perizinan.

Aplikasi e-service ini rencananya baru akan dirilis November tahun ini di Surakarta dengan layanan 166 jenis perizinan. Selain itu, e-service juga menyediakan informasi tentang aspek-aspek yang dibutuhkan investor untuk melakukan investasi di Jateng. Misalnya informasi tentang tata ruang agar para investor tidak lagi terkendala tata ruang saat mendirikan pabrik. “Banyak investor mengeluh kesulitan mendirikan bangunan dan ternyata mereka salah beli lahan, karena lingkungan sekitar lahan tidak mendukung untuk dibangun industri,” terangnya.

Dari kaca mata pengusaha e-service sangat diharapkan bisa mempercepat proses mereka dalam mengurus perizinan. Bahkan dalam mengurus perizinan tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor karena dilakukan secara elektronik atau online. (amh/ric)