Siswa Jabungan Tak Seberangi Sungai Lagi

199
TUNGGU 25 TAHUN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meresmikan Jembatan Jabungan, Banyumanik yang dibangun di atas Sungai Kethekan, kemarin (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TUNGGU 25 TAHUN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meresmikan Jembatan Jabungan, Banyumanik yang dibangun di atas Sungai Kethekan, kemarin (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG-Selama 25 tahun, warga Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Semarang terisolasi karena salah satu jembatan yang menghubungkan kelurahan tersebut hancur diterjang banjir. Kondisi itu membuat aktivitas warga terganggu selama puluhan tahun. Ada empat dusun yang terisolasi, yakni Kaum, Kidul Gunung, Sidoro, dan Gedawung.

Anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah pun harus menyeberangi sungai menggunakan bantuan tali yang ditambatkan di pohon. Bahkan mereka kerap menantang maut saat Sungai Kethekan ini sedang banjir. Mereka menyeberangi sungai yang memiliki lebar kurang lebih 40 meter dengan kondisi licin dan berbatu.

Para siswa itu memilih tetap melewati jalur tersebut karena hanya butuh waktu kurang lebih 10-15 menit untuk tiba di sekolah. Sebetulnya ada jalur lain, tetapi harus memutar dan menempuh jarak cukup jauh, yakni kurang lebih 5 km. Setelah menunggu sejak 25 tahun silam dan sempat viral beberapa waktu lalu, saat ini warga Keluarahan Jabungan bisa bernafas lega. Sebab, jembatan baru selesai dibangun oleh Pemkot Semarang bekerjasama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan.

“Saya senang sekali saat ini punya jembatan baru. Bisa berangkat ke sekolah lebih cepat. Dulu kalau berangkat sekolah harus basah-basahan, baju, dan sepatu kadang basah. Kadang juga nyeker atau pakai sandal ke sekolah,” kata Chelsea Adista, salah satu siswi SD Negeri Jabungan, Senin (23/10).

Dikatakannya, sekarang tidak lagi khawatir kalau musim hujan tiba. Sebab, dulu saat musim hujan takut menyeberang sungai karena banjir. Tak jarang, sungai tersebut mengalami banjir besar yang tidak bisa dilewati warga. Jika dalam kondisi banjir, maka warga harus memutar jalan kurang lebih 5 km. “Sekarang tidak lagi, jembatannya sudah jadi,” ucapnya.

Senin (23/10) pagi kemarin, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, meresmikan jembatan sepanjang 81 meter dengan lebar 1,2 meter tersebut. Jembatan tersebut dibangun menelan biaya Rp 245 juta.

“Ini biayanya keroyokan. Pemerintah Kota Semarang hanya mengeluarkan APBD Murni 2017 Rp 195 juta. Ada bantuan dari CSR, yakni Lippo Group Rp 50 juta,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi saat meresmikan jembatan darurat tersebut.

Dikatakannya, pembangunan jembatan Jabungan penting untuk dilakukan karena menjadi kebutuhan vital masyarakat. Setiap harinya, akses jalur tersebut sangat dibutuhkan masyarakat. Jembatan Jabungan berfungsi sebagai penghubung. Dia berharap, pembangunan jembatan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat. Baik bagi warga Jabungan, maupun warga lain yang memiliki urusan di kelurahan setempat.

“Meski jembatannya kecil, namun saya rasa ini sangat urgent dan menjadi prioritas sebagai wilayah penghubung utara dan selatan di wilayah Kelurahan Jabungan ini,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Hendi sempat menyentil bawahannya karena pihaknya baru mendengar kondisi siswa yang harus menyeberang sungai pada awal tahun ini. Setelah ditelusuri ada informasi pengajuan pembangunan jembatan sebenarnya sudah sejak 25 tahun lalu.

“Ada dari PU tidak? Kenapa ini jalannya juga jelek? Dari Dinas Perumahan dan Permukiman hadir tidak? Ayo jalan-jalan ke ‘bawah’. Kalau sering bisa tahu mana jalan yang layak, kurang layak, atau tidak layak. Jangan sampai masyarakat sudah bayar PBB jalannya masih rusak,” tegas Hendi.

Menurutnya, pejabat pemerintahan harus sering-sering turun ke masyarakat. Jangan sampai hanya mendengar laporan ABS alias Asal Bapak Senang. Sehingga kondisi seperti siswa yang menyeberang sungai seharusnya bisa segera diatasi.

“Konon katanya pengajuan 25 tahun lalu. Saya baru dengar pas jalan sehat di awal tahun. Kita otak-atik ada dana pemerintah dan sponsor. Sekarang orang tua tidak perlu khawatir anaknya menyeberang sungai,” katanya.

Ia juga mengimbau jika menemui kondisi seperti di Jabungan, bisa lapor ke perangkat kelurahan setempat atau jika belum segera ditangani bisa langsung ke dirinya.”Saya tidak mau ada istilah wilayah mblusuk dan pinggiran. Semua warga Kota Semarang,” tuturnya.

Pemerintah Kota Semarang saat ini memang sedang memprioritaskan beberapa daerah untuk perbaikan. Hendi menjelaskan daerah tersebut, yakni Jabungan, Rowosari, dan beberapa titik di Mangkang. (amu/aro)