Pupuk Langka, Petani Demak Resah

314
PANTAU LAPANGAN: Anggota Komisi B DPRD Demak Farodli saat sidak pupuk di pengecer, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PANTAU LAPANGAN: Anggota Komisi B DPRD Demak Farodli saat sidak pupuk di pengecer, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

DEMAK – Kelangkaan pupuk dalam sebulan terakhir diwilayah Demak membuat petani resah. Mereka berharap pemerintah dapat mencukupi kebutuhan pupuk tersebut. Hal ini disampaikan anggota Komisi B DPRD Demak Farodli usai rapat bersama dengan pihak terkait di DPRD, kemarin.

Menurutnya, hingga 23 Oktober, sisa pupuk urea tinggal 9.222 ton. Jumlah sisa pupuk tersebut dinilai tidak mencukupi kebutuhan petani. “Hanya cukup untuk pemupukan 2 sampai 3 minggu saja. Berarti, sebelum petani tanam, pupuk sudah habis,” katanya.

Menurutnya, Dinas terkait sejauh ini hanya melayani petani yang mempunyai kartu tani. Padahal, belum semua petani memiliki kartu tani. “Kita berharap, Dinas Pertanian segera mengusulkan ke Provinsi tambahan sebanyak  2.162 ton sesuai dengan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK),” katanya.

Farodli menambahkan, sesuai dengan kebutuhan yang ada, untuk Demak dibutuhkan sebanyak 46.000 ton urea. Namun, pada 2017 ini urea yang baru 32.000 ton. Menurutnya, pupuk urea dilapangan meski tidak banyak masih tersedia, termasuk dipengecer. Namun, untuk pupuk jenis SP36, ZA, Phonska sangat langka.

Dalam sidak ke sejumlah pengecer diwilayah Karanganyar, kemarin, pupuk non urea kosong. Farodli mengatakan, stok pupuk ZA tinggal 1.955 ton dari alokasi 10.532 ton. Kemudian, stok pupuk SP36 tinggal 2.530 ton dari alokasi 11.756 ton serta stok pupuk Phonska tinggal 1.787 ton dari alokasi 18.300 ton. “Adanya kekurangan ketersediaan pupuk ini, maka kita kumpulkan semua pihak untuk mengatasi masalah ini,” katanya.

Farodli juga menyampaikan, bahwa penggunaan sistem informasi manajemen pertanian Indonesia (Simpi) yang diantaranya menggunakan kartu tani dinilai tidak banyak manfaat ditingkat petani. Justru, sistem tersebut membuat petani bingung untuk memperoleh pupuk. “Tidak semua petani paham sistem ini. Terlalu ribet. Apalagi, tidak semua petani punya kartu tani. Jadi, jangan dipaksakan,” kata dia.

Wakiyo, salah satu dari distributor pupuk mengatakan, sistem tersebut dari sisi konsep bagus namun dalam pelaksanaan harus banyak perbaikan. Sebab, sistem itu termasuk penggunaan kartu tani tidak serta merta mempermudah petani mendapatkan pupuk. “Khusus untuk Kabupaten Demak, pemerintah perlu ada perhatian khusus. Kita berharap, kembalikan alokasi pupuk urea 46 ribu ton dan non urea sesuai dengan kebutuhan. Ini sesuai dengan rekomendasi kementerian pertanian soal penggunaan pupuk,” katanya.

Zulfan, seorang pengecer pupuk di Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar mengatakan, untuk pupuk urea masih ada. “Yang ada pupuk urea. Sedangkan, pupuk jenis lainnya tidak ada. Para petani sempat arah marah karena saat butuh pupuk seperti sekarang justru tidak tersedia. Petani butuh pupuk untuk memupuk benih padi yang mulai disemai,” katanya. (hib/bas)