Petani Bunga Terkendala Cuaca Ekstrem

430
CLAPAR: Salah satu pengunjung saat menikmati keindahan bunga di destinasi wisata kebun bunga Dusun Clapar, Desa Duren Kecamatan Bandungan, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
CLAPAR: Salah satu pengunjung saat menikmati keindahan bunga di destinasi wisata kebun bunga Dusun Clapar, Desa Duren Kecamatan Bandungan, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN – Para pembudidaya bunga di Kecamatan Bandungan saat ini tengah was-was dengan perubahan musim yang begitu ekstrem seperti saat ini. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengelola kampung wisata bunga krisan di Dusun Clapar Desa Duren Kecamatan Bandungan, Minto, 47.

Menurut Minto, musim kemarau basah seperti saat ini bisa berdampak ke tumbuhnya jamur pada bunga-bungan yang ia budidaya. “Kendala dalam budidaya yaitu musim yang labil seperti sekarang. Setiap pergantian musim berpengaruh kepada bunganya,” ujar Minto ditemui kemarin (23/10).

Dikatakannya, adanya perubahan musim seperti saat ini sangat menggangu tumbuh kembang bunga. Munculnya jamur atau orang daerah setempat kerap menyebut karak daun diakibatkan karena kelembapan suhu sehingga memicu bakteri dan tumbuh jamur.“Daun mudah busuk. Musim seperti ini kerap kena jamur. Namun tidak semua tanaman kena. Tergantung ketahanan fisik tanaman,” ujarnya.

Busuknya daun tersebut secara otomatis akan mengurangi kecantikan dari bunga di kampung wisata bunga krisan. Dikatakan Minto, selain dibuka untuk para pengunjung para petani bunga di Dusun Clapar tersebut juga menjual tanaman bunga tersebut. Adapun jenis bunga yang laris dipasaran antaralain Rino dan Aster Ungu.

Kebanyakan para pembeli dari warga lokal maupun luar Kabupaten Semarang datang ke tempat wisata tersebut untuk membeli bunga. Menghadapi cuaca ekstrem seperti saat ini, pihak petani bunga merubah cara perawatan.

Seperti, penyemprotan fungisida (obat tanaman) dan pembersihan plastik atap rumah tanaman bunga. Menurutnya, apabila plastik atap rumah tanaman kotor akan mengurangi pencahayaan terhadap bunga.

Hasilnya, kondisi udara di dalam rumah tanaman bunga menjadi lembab dan mudah diserang jamur. Dikatakan Minto saat ini kurang lebih 15 jenis bunga di budidayakan di kampung krisan tersebut. “Luas kebun bunga ada 7,2 hektar,” katanya.

Apabila keindahan bunga tersebut rusak karena jamur, para petani khawatir akan mengurangi jumlah pengunjung yang datang ke kampung krisan. Akibatnya, mengganggu perekonomian masyarakat setempat.

Destinasi wisata bunga di Dusun Clapar tersebut ramai dikunjungi saat hari libur. Rata-rata jumlah pengunjung saat hari libur mencapai 300 orang. Meski begitu, saat tidak memasuki hari libur pun, beberapa pengunjung terlihat menikmati keindahan bunga di Dusun Clapar tersebut. (ewb/bas)