KOLEKTOR: Olivier Johannes Raap saat menjadi narasumber dalam diskusi buku ‘Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe’ yang berlangsung di Pusat Budaya Widya Mitra, Minggu (22/10) (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KOLEKTOR: Olivier Johannes Raap saat menjadi narasumber dalam diskusi buku ‘Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe’ yang berlangsung di Pusat Budaya Widya Mitra, Minggu (22/10) (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Kartu pos bergambar yang dibuat pada masa lalu benar-benar memikat Olivier Johannes Raap. Koleksi kartu pos miliknya mencapai ribuan. Sebagian menggambarkan suasana berbagai kota di Jawa.

PRATONO

DARIlembaran kertas yang bernama kartu pos, cinta bisa tumbuh bersemi. Kartu pos tidak hanya menjadi media untuk berkirim kabar. Foto-foto yang tercetak pada kartu pos bisa menjadi rujukan sejarah perkembangan sebuah kota atau negara.

Olivier bercerita, awalnya ia tidak memiliki ketertarikan dengan Indonesia. Ia pertama kali datang ke Indonesia pada 1998. “Saat itu Indonesia sedang krisis moneter, suasananya tidak baik,” jelas pria kelahiran 5 Oktober 1966 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kunjungan pertama tidak memberikan kesan mendalam. Bahkan Olivier merasa tidak akan ada keinginan untuk berkunjung ke Indonesia lagi.

Beberapa tahun sesudah kunjungan pertama, kembali datang undangan dari temannya untuk berkunjung ke Indonesia. Olivier sempat ragu, apakah akan menerima undangan tersebut atau tidak. Akhirnya, ia menetapkan untuk menerima undangan dan berkunjung ke Indonesia untuk kedua kalinya.

Sesampainya di Indonesia, suasana sudah mulai membaik dan ia merasa jatuh cinta dengan Indonesia. “Saya melihat pemandangan yang indah, makanan yang enak dan bertemu orang-orang yang ramah,” cerita Olivier di sela acara Diskusi Buku ‘Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe’ di Pusat Budaya Widya Mitra Semarang, Minggu (22/10).

Sejak kunjungannya kedua, sudah berulang kali ia kembali ke Indonesia. Bahkan Olivier belajar bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan sejarahnya. Kini, ia sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.

Ketertarikan Olivier pada kartu pos berawal dari kunjungan ke pasar loak di Brussel Belgia pada 2003. Ia menemukan selembar kartu pos yang dikirim pada 1934 dari Malang ke Belgia dengan pemandangan kota yang indah. Ia heran, kok bisa menemukan benda bersejarah dengan harga murah di loakan. Sejak saat itu, Olivier punya hobi baru : berburu kartu pos lama zaman Hindia Belanda, terutama dari Jawa.

“Sering orang bertanya mengapa hanya Jawa? Mengapa tidak Sumatera atau lainnya? Saya bilang, dalam mengoleksi, saya harus fokus dan fokus saya adalah Jawa,” ujar Olivier yang berdarah Perancis-Belanda ini. Selain kartu pos Indonesia, Olivier juga memburu kartu pos tentang Perancis.

Tentu tidak mudah mengumpulkan ribuan kartu pos kuno. Apalagi ada yang telah berusia lebih dari seabad. Olivier sering barter dengan kolektor lain, berburu di pasar loak, toko barang bekas, pasar buku, bursa filateli, ikut lelang di internet, hingga membeli di pedagang khusus. Di Belanda, ada lahan subur bagi kolektor barang kuno seperti Olivier. Ada website yang khusus menjual benda hasil “cuci loteng”. Sering ia menemukan kartu pos yang layak masuk dalam koleksinya dari bursa ini.

Cap pos yang tercetak bisa digunakan sebagai pengukur usia sebuah kartu pos. Selain itu juga bisa memberikan gambaran berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berkirim kabar dari Jawa ke tempat lain.

Olivier memberikan contoh sebuah kartu pos bergambar Stasiun Probolinggo dengan perangko merah 5 sen yang dikirimkan dari Probolinggo Jawa Timur ke Brusel Belgia. Kartu pos tersebut dikirim dari Probolinggo pada 25 Mei 1907. Sempat transit di Weltevreden (sekarang Jakarta Pusat) pada 27 Mei 1907, kartu pos tersebut sampai di Brusel pada 23 Juni 1907. “Butuh waktu 4 minggu untuk mengirimkan kartu pos dari Probolinggo ke Brusel.”

Penerbitan buku-buku tentang kartu pos Jawa tempo dulu ini tak lepas dari blog djawatempodoeloe yang dibuat Olivier lewat jejaring sosial Multiply pada 2006. Ia mengunggah beberapa gambar dari kartu pos koleksinya dengan disertai sedikit narasi. Ternyata blog tersebut menarik perhatian banyak orang yang ingin bernostalgia dengan foto-foto kuno berbagai lokasi di Jawa. Sehingga ia ingin menerbitkan buku berisi koleksi kartu pos miliknya sehingga bisa dinikmati lebih banyak orang.

Pada 1 Desember 2012, Multiply tutup dan blog djawatempodoeloe ikut mati. “Hal itu semakin memicu saya hingga akhirnya berhasil meluncurkan buku pertama pada April 2013 dengan judul ‘Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe’,” tulis Olivier pada prakata buku ‘Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe’.

Buku pertama tersebut ternyata mendapat sambutan baik masyarakat Indonesia, terutama para penggemar sejarah dan filateli. Kemudian berturut-turut terbit 3 buku seri kartu pos Djawa Tempo Doeloe lainnya. Yaitu, ‘Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe’ pada November 2013, ‘Kota di Djawa Tempo Doeloe’ pada Juni 2015 dan terbaru ‘Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe’ pada Juli 2017.

Buku-buku karya Olivier ini tak sekadar berisi gambar kartu pos koleksinya. Ia juga melakukan riset dengan serius sebagai pendukung narasi di setiap kartu pos. Olivier menyempatkan diri berkunjung ke tempat-tempat yang tergambar pada kartu pos tersebut. Ia juga mengumpulkan berbagai literatur tentang objek dalam foto di kartu pos koleksinya. Sehingga buku-bukunya bisa menjadi salah satu rujukan untuk melihat Indonesia, khususnya Jawa, pada masa lalu. (*/aro)