KENDAL – Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kendal berencana akan memberikan pembinaan terhadap para pemilik grup alias para admin grup media sosial (Medsos). Hal itu menyusul munculnya kabar bohong atau Hoax yang menyesatkan dan memicu konflik sosial.

Kepala Kesbangpol, Ferinando Rad Bonay mengatakan pembinaan perlu dilakukan agar para admin grup ini terhindar dari berita hoax yang dapat menjeratnya pada tindak pidana ataupun Undang-undang Informasi dan Transaksi Elextronik (UU ITE). Dimana Penyebar kabar hoax dapat dikenakan pidana 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp 6 miliar.

Sebab menurutnya, pengelola grup terutama grup-grup terbuka medsos seperti Facebook, Instagram dan sebagainya memiliki kewajiban atas postingan yang diunggah dari seluruh anggota grup. Jangan sampai informasi yang muncul memicu konflik sosial dan membuat resah masyarakat.

“Kami prihatin, akhir-akhir ini beredar informasi di Medsos yang tidak bisa dipertanggungjawabkan alias hoax. Makanya para admin grup medsos perlu diberikan pengarahan agar terhindar dari jeratan UU ITE,” tandasnya.

Seperti Senin (23/10) beredar kabar di salah satu grup Facebook Kendal beredar kabar warga korban jalan tol hendak melakukan aksi penolakan. Dimana warga tengah mempersiapkan senjata berupa bambu runcing untuk menghadapi eksekusi jalan tol.

Postingan pertama diunggah oleh pengguna FB dengan akun pribadi bernama Andi Nino Wirawan (Weka). Dalam postingan aslinya Weka menuliskan, “Warga korban tol Kendal hari2 ini sdg bersiap hadapi kemungkinan eksekusi paksa. Warga menyiapakan bambu runcing untuk mempertahankan Hak nya MELAWAN Penguasa DZALIM”.

Postingan juga dilengkapi dengan foto-foto dimana warga menyiapkan puluhan bambu runcing yang ujungnya berwarna cat merah. Keberadaan puluhan bambu runcing itu berada di sebuah pekarangan rumah warga di suatu desa di Kabupaten Kendal. Selain itu juga nampak diaunggah video ritual bambu tersebut dibacakan doa oleh salah seorang diantaranya.

Pada foto itu ada dua perempuan dewasa yang berpose tengah memegang bambu runcing. “Setelah kami cek lapangan berita tersebut hoax. Karena gambar tersebut adalah persiapan warga untuk acara karnaval HUT RI 72. Bukan warga korban jalan tol sedang mempersiapkan senjata berupa bambu runcing,” ungkap Feri.

Kabar di grup FB tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan menghubungi admin untuk menghapus postingan tersebut. “Kabar-kabar seperti inilah yang harus diwaspadai yang dapat memicu konflik dan perpecahan. Kami khawatir info seperti itu akan menyebabkan investor mengira Kendal tidak kondusif. Postingan seperti inilah yang menghambat pembangunan di Kendal,” tandasya.

Sementara Bupati Kendal, Mirna Annisa mendukung upaya Kesbangpol untuk memberikan pembinaan kepada pemilik grup. Hal itu menurutnya menjadi upaya menangkal berita hoax. “Grup-grup ini juga jika dimanfaatkan bisa sebagai ajang untuk mempromosikan Potensi yang ada di Kendal,” tandasnya. (bud/bas)