SEMARANG – Pemerintah Kerajaan Denmark memilih Jateng sebagai pilot project pengembangan teknologi energi baru terbarukan (EBT) dari pengelolaan limbah. Tak tanggung-tanggung, Denmark langsung menggelar empat proyek. Yakni di Kota Semarang, Kabupaten Jepara, Cilacap, dan Klaten. Semua kerjasama itu dibiayai dana hibah dari Kerajaan Denmark langsung ke pemkot/pemkab setempat.

Di Jepara, EBT akan diimplementasikan di Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting Kepulauan Karimunjawa. Bentuknya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistem off-grid agar listrik dapat beroperasi selama 24 jam. Total anggarannya Rp 16 miliar, penerima manfaatnya sejumlah 645 rumah tangga.

Di Kota Semarang, adalah pengumpulan dan pembakaran gas metana dari TPA Jatibarang untuk pembangkit listrik berdaya sekitar 1 megawatt yang akan disambungkan ke jaringan PLN. Proyek ini senilai Rp 71 miliar. Rinciannya, dari Denmark Rp 44 miliar, Kementerian PUPR Rp 18 miliar, dan Pemkot Semarang Rp 9 miliar.

Di Cilacap, proyek pengolahan sampah di TPA Tritih Lor untuk digunakan kembali sebagai bahan bakar. Fasilitas ini akan mengambil seluruh sampah kota dari TPA dan mengolahnya menjadi bahan bakar yang dapat digunakan untuk menggantikan batubara dan bahan bakar fosil lainnya. Pengolahan RDF TPA Tritih Lod senilai Rp 82 miliar. Terdiri dari Kementerian PUPR Rp 25 miliar, Pemprov Jateng Rp 10 miliar, Pemkab Cilacap Rp 3 miliar, dan Denmark Rp 44 miliar.

Sementara di Klaten, yaitu pengolahan limbah cair dan padat dari industri pati onggok di Desa Daleman dan Pucang Miliran Kecamatan Tulung. Pengolahan limbah ini senilai Rp 16 miliar dengan penerima manfaat 2.200 rumah tangga.

Groundbreaking semua proyek percontohan itu dilakukan di kantor Bappeda Jateng, Senin (23/10). Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Rasmus Abilgaard Kristensen, mengungkapkan, ada banyak alasan mengapa Jateng dijadikan provinsi percontohan proyek ini. Antara lain dari aspek kepemimpinan di Jateng sangat visioner, serta banyak potensi alam yang visible. “Di Jateng juga sangat memungkinkan penggunaan teknologi pembangkit listrik tenaga surya. Selain itu ada situasi yang memungkinkan secara teknis bisa diterapkan di Jateng,” jelasnya.

Menurutnya, program percontohan ini akan berkembang di waktu mendatang. Sehingga bisa diterapkan di provinsi lain di Indonesia. Jika saat ini kerjasama masih antar negara, maka di waktu mendatang juga dimungkinkan kerjasama antar pihak swasta. “Penting sekali bisa menjalin kerjasama B to B sebagai model kerjasama kita di waktu mendatang. Jadi ada peluang kerjasama ekonomi di masa mendatang,” ujarnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi percontohan untuk provinsi lain di Indonesia. Menurutnya, sampah yang diolah menjadi energi sangat menarik. Sebab cara ini mampu menyelesaikan dua masalah. Yakni membersihkan tumpukan sampah, dan menciptakan EBT. “Jika ini bisa dimanfaatkan, tentu bisa membantu energi kita minimal di daerah sekitar instalasi. Mimpi besar kita adalah pengelolaan sampah kita makin baik,” katanya. (amh/ric)