Pengendara Melawan Arus Diancam Pasal Berlapis

608
AKBP Yuswanto Ardi (DOKUMENTASI).
AKBP Yuswanto Ardi (DOKUMENTASI).

SEMARANG Angka kecelakaan lalulintas di Kota Semarang pada 2017 ini sudah mencapai 728 kasus. Upaya menekan jumlah tersebut, Satlantas Polrestabes Semarang akan menindak tegas pengguna jalan yang melakukan pelanggaran, utamanya melawan arus dengan ancaman pasal berlapis.

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi mengungkapkan, Polrestabes Semarang menduduki peringkat lima besar dalam hal penurunan angka kecelakaan pada 2017 dibanding 2016. Tetapi Ardi mengatakan secara kuantitas, jumlah tersebut masih tergolong tinggi, dan secara kualitas dibandingkan tahun lalu mengalami penurunan.

“Jumlah sampai sekarang (Oktober 2017) di angka 728 kasus kecelakaan. Jumlah korban meninggal dunia lebih kurang 30 persen. Mayoritas kecelakaan yang terjadi didahului faktor pelanggaran,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ardi membeberkan, penyebab tingginya angka kecelakaan lalulintas paling sering didahului oleh pelanggaran melawan arus. Hasil evaluasi yang dilakukan, setidaknya sudah ada enam kasus kecelakaan akibat si pengendara motor melawan arus dalam dua minggu terakhir.

“Kejadian tabrakan yang terkait melawan arus sangat tinggi. Sudah ada enam kejadian, tiga di antaranya meninggal dunia dalam kurun waktu dua minggu terakhir,” katanya.

Pihaknya sudah memerintah Kanit Laka untuk menjerat pelaku kecelakaan dengan pasal berlapis. Yaitu, pasal 311 ayat 5 Undang-Undang 2009 tentang mengemudikan kendaraan dengan cara yang membahayakan, mengakibatkan meninggal dunia. “Itu ancaman hukumannya 12 tahun, maksimal denda Rp 24 juta dan sudah kami komunikasikan dengan Kasi Pidum (Kejari Semarang),” tegasnya.

Pihaknya juga mengarahkan kepada penyidik lebih jeli lagi membaca situasi di tempat kejadian perkara, dan kemudian melakukan pemeriksaan. Menurutnya, dalam konsep hukum itu ada yang namanya sadar akan akibat.  “Jadi, melawan arus itu sebenarnya sadar, melanggar dan menimbulkan kecelakaan, karena dia pasti akan bertabrakan dengan arus yang di depan, dan itu pasti akan membuat kecelakaan,” jelasnya.

Upaya lain untuk pencegahan, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tiga bagian, yakni secara preventif, preemtif dan represif. Begitu juga pihaknya akan memberikan edukasi kepada stakeholder pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah.

“Pembinaan ini tidak hanya pada pengguna jalan atau pengendara, tapi kita juga edukasi kepada para stakeholder pengambil kebijakan, pemerintah. Supaya kalau mereka menyusun sebuah kebijakan bisa bersahabat dengan Kamseltibkarlantas,” katanya. (mha/aro)