Generasi Milenial Belajar Mengenal Budaya Wayang

382
Budaya- Kesenian wayang kini aktif diperkenalkan di sekolah sekolah. (tya)
Budaya- Kesenian wayang kini aktif diperkenalkan di sekolah sekolah. (tya)

SEMARANG -Kesenian wayang merupakan budaya asli Indonesia, yang kini sudah banyak ditinggalkan generasi milenial seiring dengankemajuan industrui gadget. Melijhat kondisi ini Bank Central Asia (BCA) mengajak para pelajar untuk kembali mempelajari budaya wayang.

“Banyak sekali jenis wayang yang ada di Indoensia dan di beberapa daerah memiliki ciri khas masing-masing. Mulai dari wayang orang, wayang golek, wayang kulit dan juga wayang kempling. Jenis wayang yang disebut terakhir ini berasal dari Kota Semarang, dan masih bisa dijumpai di Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati,”  jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Masdiana Safitri

Pentas seni wayang bagi sebagian orang, dianggap merupakan tontonan untuk kalangan orang tua saja. Sementara generasi mudanya atau yang disebut generasi milenial, dibiarkan tidak mengenal kebudayaan asli Tanah Air.

Masdiana Safitri mengatakan pihaknya sangat peduli dengan keberadaan budaya, khususnya untuk mengenalkan kepada generasi muda sekarang. Oleh karenanya, dengan kegiatan “Wayang for Student” dan melibatkan 600 siswa-siswi sekolah tingkat pertama atau SMP di Kota Semarang, diharapkan bisa tahu tentang budaya leluhur. Karena, seni wayang tidak hanya berupa tontonan tetapi juga berisi tuntunan.

Menurutnya, semua pihak harus bersama-sama melestarikan kebudayaan wayang. Karena, berbicara wayang sama artinya dengan berbicara tentang Indonesia. Sebab, melestarikan ragam kekayaan wayang adalah sama halnya dengan merawat keberagamaan budaya.

“Wayang ini layak dicintai oleh generasi muda. Kegiatan seperti ini saya apresiasi betul. Dan yang paling efektif mengenalkan wayang secara langsung kepada generasi muda, adalah mementaskan secara langsung,” kata Masdiana usai melihat penampilan wayang orang di Sekolah Nasional Karangturi Semarang, Sabtu (21/10).

Sementara itu, Executive Vice President CSR BCA Inge Setiawati menambahkan, sebelum mementaskan pagelaran wayang orang, pihaknya memberikan semiloka dan pelatihan selama 20 jam kepada para siswa di enam sekolah di Kota Semarang. Yakni SMP YSKI, SMP Dominico Savio, SMPN 8 Semarang, SMPN 18, SMP Karangturi dan SMP Nasima.

“Kita punya payung budaya, salah satunya CSR-nya di bidang budaya. Kami secara konsisten berupaya untuk ikut serta dalam pelestarian wayang. Karena, tidak banyak instansi yang peduli dengan wayang,” ujarnya.

Upayanya mengenalkan wayang, jelas Inge, juga melibatkan Perkumpulan Seni Budaya Sobokarti dan Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Karena, Unesco sudah mengakui kesenian wayang sebagai budaya Indonesia. (*/tya)