Oleh: H Ihwan SPd
Oleh: H Ihwan SPd

BANYAK orang di grup WhatsApp maupun pribadi yang memposting tentang pengalaman dirinya saat menghadapi anaknya yang kena musibah kecelakaan dan sebagainya. Seorang teman yang lainnya memposting tentang hasil lomba putra-putrinya. Ada lagi seorang kawan yang membuat puisi (geguritan:Jawa), naskah pidato, cerita lucu, atau bahkan kisah tentang dirinya maupun orang lain dengan begitu indah bahasanya. Hal tersebut yang dimaksud dapat memanfaatkan media sosial sebagai ajang pembelajaran menulis.

Ketika kita menggunakan WhatsApp telah banyak bertutur lewat rangkaian paragraf, kalimat, maupun kata untuk diposting di WhatsApp. Pada mulanya biasa saja. Dengan satu kata pujian atau ungkapan yang tengah dirasakannya, semisal ; Wah, bahagianya dia, bisa…, Aduh begini rasanya…,atau  sekadar komentar wkwkwkwk, dan atau kata-kata lainnya. Lama- kelamaan bisa juga ia menuliskan dengan satu kalimat sederhana misalnya; Wah, sejuk sekali cuaca hari ini. Atau, Hayo siapa yang akan ndaftar lagi? Atau , Hebat sekali,anak sekecil itu sudah bisa …! dan sebagainya.

Harapannya adalah lebih dari itu, ketika mereka mulai bisa merasakan dengan bentuk tulisan Wah, bahagianya dia, bisa…. melalui beberapa kalimat atau beberapa paragraf. Dengan demikian mereka akan mencoba mengungkapkan perasaanya dalam bentuk bahasa tulis karena WhatsApp memang hanya bisa untuk mentranslate bahasa lisan menjadi bahas tulis. Maka tepat jika WhatsApp harus digunakan untuk pembelajaran menulis.

Memang, banyak orang yang pada awalnya tidak berani menulis, tetapi akhirnya banyak memposting tulisannya karena media WhatsApp ini. Jadi, di sinilah sisi positifnya. Banyak orang tak pernah berpikir tulisannya bagus atau tidak. Pastinya mereka sudah merasa  percaya diri menulis status atau komentar di WhatsApp. Barangkali keberanian itu muncul disebabkan oleh tidak adanya peraturan dari siapapun tentang apa yang akan mereka tuliskan.

Ada beberapa teman lain yang sering mengunggah foto-foto atau gambar yang dimilikinya. Hal itu boleh-boleh saja sepanjang tidak mengunggah gambar atau foto yang sembrono apalagi porno. Hanya saja mereka sebagaian ada yang hanya sekadar posting  saja tanpa memanfaatkan untuk belajar menulis. Tapi lihatlah untuk mereka yang positif dan kreatif. Ia akan memberi komentar atau menulis status tentang gambar atau foto tersebut.

Kadang gambar atau karikatur tentang peristiwa tertentu akan menambah motivasi untuk menuliskan cerita tertentu, berita terkini atau peristiwa apa yang terkait dengan gambar ataupun karikatur  tersebut. Orang-orang akan menuliskan beberapa kalimat atau paragraf sehingga menjadi berita yang panjang atau cerita menarik yang dapat dibaca dan dimengerti oleh para pengguna WhatsApp.

Bermula dari sebuah kata, kemudian ia ingin menuliskan lebih banyak kalimat atau paragaraf untuk diposting dalam statusnya. Dan ia akan melanjutkan dan bertambah semangat untuk menanggapi komentar dari teman-teman lainnya. Mereka terus menunggu komentar lainnya yang selanjutnya akan ia balas sebanyak-banyaknya. Tidak usah diperintah sebenarnya dirinya sudah banyak belajar menulis pada saat itu. Dengan bertambahnya motivasi itu sebenarnya harus dimanfaatkan untuk belajar terus.

WhatsApp sebagai media sosial sangat memungkinkan dimanfaatkan para guru dan pendidik yang ingin memulai belajar menulis. Dengan sarana WhatsApp seorang penulis pemula bisa bebas menuliskan hal-hal kecil dan sepele. Tetapi jangan sepelekan tulisan kecil itu, karena dengan menulis di WhatsApp sebenarnya dirinya sedang belajar menulis hal besar. Membiasakan menulis hal kecil dan sepele merupakan awal mereka untuk menuliskan hal besar di suatu hari.

Dari Sederhana

Awal menulis di WhatsApp dengan hal yang ringan-ringan saja. Telah diuraikan dengan gamblang di atas bahwa untuk mengawali pembelajaran menulis dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana atau ringan-ringan. Dengan menuliskan  satu kata atau dua kata artinya kita sudah belajar menulis. Mencoba mengungkapkan kegembiraan, kerinduan, kekesalan, perasaan, emosi jiwa, bisa menjadi awal menulis. Kata-kata semacam hebat, kangen, huaduh, cape dech, malas aku, sebal, dan lainnya yang biasa diposting pengguna WhatsApp menjadi awal kita untuk  berani menulis.

Hal ini memang bukan masalah panjangnya status, kualitas status, ataupun isinya yang menjadi titik beratnya. Namun lebih berfungsi untuk menumbuhkan semangat dan memotivasi agar keberanian kita untuk memulai menulis. Secara tak langsung WhatsApp menjadi pengganti layar komputer atau kertas untuk sarana kita menulis. Ketikan jari kita adalah modal besar untuk berkarya. Jika kegiatan itu terus berlanjut dan dilakukan secara rutin, tentu semakin lama semakin berani, kita menuliskan lebih banyak lagi status dan kemudian mempostingnya.

Sehabis memposting status pendek kita, yang berisi ungkapan atau perasaan yang ada di jiwa kita dalam bentuk satu dua kata, selanjutnya cobalah kita untuk menuliskan perasaan kita lagi yang lebih banyak. Mencoba membuat barang beberapa kalimat atau bahkan beberapa paragraf! Tidak usah takut salah menulis! Anggaplah tulisan kita hanya sekadar tulisan untuk sendiri.

Selanjutnya langkah kita  adalah menulis tentang keadaan atau peristiwa di sekitar kita  yang kita jumpai. Mencoba menulis sebagai laporan atau berita sekadarnya agar dapat diketahui oleh teman WhatsApp kita. Jangan dulu berpikir bagaimana tekhnik menulisnya tapi yang penting adalah ada dulu tulisannya. Untuk masalah ejaan dan tata tulis dan lainnya menyusul.

Melalui tulisan berita dan meng-upload foto kita, maka status kita akan lebih menarik perhatian para pengguna WhatsApp. Kemungkinan besar kita akan lebih mendapat perhatian dengan bukti banyaknya yang komentar pada kita. Begitu juga kita akan lebih besar lagi berpeluang untuk menuliskan kembali tanggapan terhadap komentar orang lain. (*/aro)