Oleh: Anis Sofia Novirita SSi
Oleh: Anis Sofia Novirita SSi

TARGET keberhasilan pengajaran IPA yang diterapkan guru cenderung lebih mengarah agar siswa terampil mengerjakan soal-soal tes, baik yang terdapat pada buku ajar maupun soal-soal ujian. Akibatnya, pemahaman konsep siswa rendah, keterampilan proses, dan sikap ilmiah siswa tidak tumbuh. Sehingga siswa bersikap pasif selama proses belajar-mengajar dan kurangnya keberanian siswa untuk bertanya.

Sikap siswa yang pasif dan kurangnya keberanian siswa untuk bertanya menyebabkan siswa tidak bisa mengungkapkan ide dan gagasannya dalam proses belajar-mengajar. Hal ini dapat menurunkan hasil belajar siswa, karena pemahaman konsep yang rendah. Mengutip pendapat Rustaman, pembelajaran Biologi yang dilaksanakan di sekolah dewasa ini masih bersifat hafalan, kering, dan kurang mengembangkan proses berpikir siswa. Masih banyak guru Biologi yang kurang memanfaatkan kegiatan praktikum sebagai sarana mempelajari konsep Biologi. Implementasi praktikum Biologi di lapangan masih menghadapi banyak kendala, salah satunya adalah minimnya peralatan praktikum.

Kurangnya peralatan praktik sebetulnya bisa diatasi oleh guru. Salah satu cara adalah menggunakan limbah untuk praktik pembelajaran. Dapur adalah meja kerja para ibu yang menghasilkan banyak limbah, apalagi saat ada momen seperti pertemuan keluarga atau bahkan hari raya. Sisa potongan sayur, kulit buah, makanan basi, plastik pembungkus belanjaan, semuanya berpotensi menjadi limbah yang bila tidak segera dibuang akan mengganggu kesehatan kita.  Salah satu cara praktis untuk mengurangi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan limbah dapur tadi. Selain membantu mengurangi jumlah sampah dapur, kita juga dapat menjadikan sumber belajar bagi siswa.

Konsep Biologi

Beberapa konsep Biologi yang bisa diterapkan antara lain yang pertama memperbaiki kesuburan tanah. Sisa air teh atau ampasnya ternyata mengandung zat-zat yang dapat memperbaiki kesuburan tanah, merangsang pertumbuhan akar, batang dan daun. Tinggal tuang saja sisa seduhan teh yang sudah tidak terpakai lagi ke dalam pot tanaman.  Untuk teh celup, kantung tehnya harus kita sobek dulu supaya ampas teh di dalamnya langsung bisa menyentuh tanah. Selain mempercepat penguraian, tumpukan daun teh juga berperan dalam menjaga kelembaban tanah saat matahari bersinar terik dan menghalangi pertumbuhan gulma pada pot kita.

Yang kedua adalah pemakaian pupuk alami menggunakan ampas kopi. Sama halnya dengan teh, ampas kopi juga dikenal sebagai pupuk organik yang ekonomis dan ramah lingkungan. Ampas kopi mengandung Nitrogen, Fosfor dan Kalium (NPK) dan unsur-unsur mikro lainnya yang berperan dalam pertumbuhan tanaman.

Yang ketiga adalah belajar penyerapan kalsium oleh tanah menggunakan cangkang telur. Cangkang telur mengandung banyak kalsium karbonat yang diperlukan tanaman untuk tumbuh. Tumbuk cangkang telur yang sudah tidak terpakai dan langsung taburkan pada permukaan tanah. Penyiraman perlu dilakukan karena akar tidak dapat menyerap kalsium langsung dari cangkang telur, tetapi dari kalsium yang larut dalam air siraman tadi.

Di samping ketiga materi di atas, guru juga bisa mengajarkan pengendalian organisme menggunakan air cucian beras. Air cucian beras memiliki kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein dan vitamin yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan pengendali organisme pengganggu tanaman. Selain itu, air ini juga merupakan media alternatif Pseudomonas fluorescens yang dapat mengendalikan patogen penyebab penyakit karat dan pemicu pertumbuhan tanaman.

Pemanfaatan limbah sangat membantu guru di sekolah yang kekurangan alat dan bahan praktis. Keterbatasan bukan menjadi halangan bagi kita sebagai guru untuk memberikan layanan pendidikan terbaik bagi siswanya. (*/aro)