Juara Olimpiade Nasional dan Jadi Paskibra

234
Kiai Muhammad Masroni (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
Kiai Muhammad Masroni (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

KIPRAH santri di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Seiring berkembangnya zaman, kini santri tidak hanya menjadi kiai, ulama maupun dai. Tapi tak sedikit santri yang mengisi pos-pos penting di pemerintahan maupun partai politik.

Pengasuh Ponpes Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB), KH Muhammad Masroni, mengatakan, anak didiknya di ponpes, selain nyantri juga mengenyam pendidikan formal di sekolah maupun perguruan tinggi umum.

“Kalau sekarang santri itu harus ikut perkembangan zaman, namun tidak boleh lepas dari aqidah kesantrenan itu sendiri. Bisa saya bilang itu wajib, sehingga mereka harus punya prestasi juga,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku, dalam menerapkan pendidikan bagi santrinya pun harus mengikuti kondisi zaman saat ini. Tujuannya, agar tidak tenggelam ataupun ketinggalan zaman. Namun ia menegaskan pendidikan yang dilakukan tidak boleh keluar dari jalur pesantren. “Santri tidak lekang dimakan zaman, karena wajib tahu kondisi zaman sekarang. Namun kembali lagi, aqidahnya harus dipegang,” tuturnya.

Pondok pesantren, lanjut Masroni, bisa digunakan sebagai langkah antisipasi kenakalan remaja, terlebih saat era teknologi informasi seperti sekarang ini. Dengan dititipkan di pondok pesantren, pengawasan bisa dilakukan lebih ketat dibandingkan lembaga pendidikan lain. “Di pesantren ini lebih aman dan tepat untuk menanggulangi kenalakan remaja, bahkan narkoba karena bisa dipantau oleh para pengasuh,” bebernya.

Tak heran, jika banyak lulusan pesantren menjadi orang sukses. Sebab, selama di pesantren ditanamkan kemandirian dan kedewasaan, serta diajarkan untuk bermasyarakat, sopan santun dan unggahungguh sebagai nilai dalam pesantren. Saat ini, di SGJB dihuni sekitar 157 santri mulai tingkat anak usia SD hingga mahasiswa. “Di pesantren ini pula dipadukan antara pendidikan agama dan pendidikan sosial serta pendidikan umum. Ada jadwal sekolah, mengaji bahkan berkumpul dan berkomunikasi dengan senior ataupun teman-temannya,” ujarnya.

Bicara masalah prestasi, lanjut dia, santrinya di SGJB bisa dibilang mentereng dari pendidikan Agama Islam yang sampai tingkat nasional hingga jalur pendidikan formal, bahkan salah satu santri mereka berhasil meraih juara olimpiade tingkat nasional. “Di sisi nasionalisme, kita melakukan kirab bendera dan santri kami menjadi pasukan 17 (paskibra) saat peringatan kemerdekaan di Simpang Lima beberapa waktu lalu,”katanya.

Selain pendidikan agama, Masroni juga mendirikan SMK berbasis peternakan dan pertanian. Tujuannya agar santri bisa mandiri dan mengembangkan pertanian dan peternakan.  Bahkan saat Idul Adha lalu, pesantren ini menyediakan sapi kualitas nomor satu, yang kebetulan dipelihara untuk sarana praktikum para santri.“Untuk peternakan kami bekerjasama dengan perguruan tinggi, bahkan kami sudah bisa menciptakan probotik sendiri untuk sapi kami. Selain itu membuat pakan sapi fermentasi yang dipandu dari IPB Bandung,” jelasnya.

Baru-baru ini, lanjut dia, pesantren SGJB sedang mengembangkan penelitian tentang daur ulang air wudhu. Hal ini dikarenakan air wudhu yang biasanya digunakan pasa santri untuk salat terbuang percuma dalam jumlah besar, sehingga munculah ide untuk mengolah air wudhu menjadi sarana pembesaran ikan.

“Kalau penelitian ini kami bekerjasama dengan UNNES, air bekas wudhu diolah lagi kemudian ditampung di kolam dan didistribusikan ke kolam lele. Alhamdullilah untuk percobaan masih ada satu kolam dengan hasil lele yang cukup lumayan,” ucapnya.

Masroni berharap, dengan nyantri, selain mahir dalam ilmu agama, santri juga bisa mahir di bidang pendidikan formal ataupun non formal sesuai dengan kebutuhan saat ini. “Santri harus berinovasi agar tidak ketinggalan dan bisa bersaing di dunia kerja,” harapnya. (adennyar wycaksono/aro)