MENGIKUTI ZAMAN: Pengasuh Ponpes Al Fattah DR KH Abdullah Arief Cholil di Masjid Pondok yang masih dalam proses pembangunan (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
MENGIKUTI ZAMAN: Pengasuh Ponpes Al Fattah DR KH Abdullah Arief Cholil di Masjid Pondok yang masih dalam proses pembangunan (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada hari ini, 22 Oktober, menjadi momentum untuk menengok kembali kiprah pondok pesantren (ponpes) di nusantara dalam membangun negeri ini.

BILA di zaman perjuangan kemerdekaan, para kiai dari ponpes berjuang mati-matian membela tanah air dengan bercucuran keringat dan air mata, maka era sekarang, peran ponpes sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlaqul karimah.

Ponpes berperan membangun karakter melalui lembaga pendidikan keagamaan yang dikembangkan. Bahkan, selain masih menekuni pendidikan salaf sebagai ciri khasnya, ponpes juga menggarap pendidikan umum. Keterpaduan penerapan metode pendidikan agama dan umum ini sudah banyak dijalankan ponpes.

Di Kabupaten Demak, Ponpes Al Fattah misalnya, selain menjalankan pendidikan agama juga mendirikan sekolah umum, yakni SMK Al Fattah. Tidak hanya itu, Ponpes Al Fattah juga menjadi jujukan para pelajar yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan umum untuk nyantri di ponpes tersebut.

Dalam sejarahnya, Ponpes Al Fattah didirikan pada 1 April 1951 oleh KH Abdullah Zaini. Kiai Zaini asli dari Desa Jatirogo, Kecamatan Bonang. Kiai Zaini yang berasal dari kampung tersebut sempat mengenyam pendidikan keagamaan di Ponpes Kasingan, Leteh, Rembang. Setelah itu, Kiai Zaini melanjutkan pendidikan di Makkah Al Mukarromah, Arab Saudi selama 5 tahun.

Sepulang dari Makkah, Kiai Zaini dijadikan menantu oleh kiainya di Rembang tempatnya mondok. Dalam perkembangannya, Kiai Zaini dan istrinya, Nyai Sofiyati, mendirikan Ponpes  Al Fattah di Kota Demak. Awal mendirikan ponpes, santrinya cukup banyak. Bahkan, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) juga pernah mondok di Ponpes Al Fattah. Kiai Zaini ketika itu dikenal piawai dalam penguasaan ilmu nahwu shorof atau gramatika bahasa Arab.  Meski demikian, Kiai Zaini hanya sekitar setahun memimpin ponpes yang didirikannya itu. Kiai Zaini wafat saat sedang mengaji kitab Alfiyah karya Imam Ibnu Malik tepat saat bulan Ramadan 1952.

Pengasuh Ponpes Al Fattah, DR KH Abdullah Arief Cholil mengatakan, setelah Kiai Zaini meninggal, kepemimpinan Ponpes Al Fattah dilanjutkan putranya KH Cholil Abdul Rozaq.  Sebagai pengasuh generasi kedua, Kiai Cholil Rozaq mulai mengembangkan ponpes peninggalan orang tuanya tersebut. Bila semula hanya santri saja, mulai saat itu diterima juga santriwati. Sekitar 1970-an, mulai ada madrasah (klasikal). Untuk menjalankan pendidikan madrasah ini, para santri senior didaulat untuk ikut mengajar santri-santri muda.

Pada 1989, Kiai Cholil Abdul Rozaq juga wafat. Kepemimpinan Ponpes Al Fattah kemudian dipegang putranya, yakni KH Umar Cholil dan adiknya DR KH Abdullah Arief Cholil selaku generasi ketiga hingga sekarang.  “Pada 2008, kita mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) Al Fattah jurusan multimedia dan otomotif. Ada juga Taman Pendidilan Alquran (TPQ) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs),”katanya saat ditemui di kediamannya kompleks Ponpes Al Fattah, Rabu (18/10).

Menurutnya, Ponpes Al Fattah tidak hanya dihuni oleh santri yang sekolah di lembaga pendidikan yang didirikannya saja. Namun, para santri yang mondok di ponpes tersebut juga dari sekolah lainnya di luar pondok. Misalnya, dari SMPN 2, SMAN 1, MAN Demak dan sekolah lainnya. “Jadi, yang mondok di Al Fattah ini 100 persen pelajar,”ungkapnya.

Kiai Arief menambahkan, model pendidikan di Al Fattah tidak bisa salafi sepenuhnya. Meski demikian, santri tetap wajib ikut mengaji  di madrasah, termasuk mengaji Alquran dan Fasolatan. Mereka juga wajib salat Subuh berjamaah. Jika tidak ikut tanpa alasan yang kuat, bisa dikenai ta’zir (hukuman). “Untuk menjadi imam kita jadwalkan untuk gantian (keluarga),”katanya.

Program lainnya, adalah melatih kreativitas santri secara mandiri, seperti melalui kegiatan latihan khitobah (pidato) atau tampil didepan umum, menulis dan membaca cerpen serta kegiatan ekstra lainnya. Untuk kegiatan itu dilaksanakan setiap malam Jumat dan Selasa. Program lain, yakni mengundang guru qiro’ah (pengajar seni baca Alquran) seminggu sekali. Kemudian, menggelar pengajian tafsir setiap selapan atau 35 hari sekali.  Pengajian tafsir ini sudah berjalan selama 8 tahun terakhir dengan peserta dari santri dan masyarakat umum.

Selain itu, ada pengajian tarekat (Qodiriyah Wa Naqsabandiyah) yang diikuti masyarakat yang sudah sepuh-sepuh. Kegiatan tarekat ini dipimpin Kiai Kurdi Muhsin sebagai mursyidnya. Di Ponpes Al Fattah juga dikenalkan program Tahfidzul Quran dengan hafalan tercepat dalam jangka waktu penguasaan antara 6 bulan hingga 1 tahun.

“Kalau yang tahfidz ini program dari kakak saya, Pak Kiai Umar. Tahun pertama masih ujicoba dan sudah mulai meski belum banyak santrinya. Adapun tenaga pengajar dari Jawa Barat,”jelas Kiai Arief.

Menurutnya, mengasuh santri di ponpes memang diakui banyak tantangan. Di era teknologi informasi seperti ini, para santri tetap bebas membawa handphone (HP) sebagai alat komunikasi. Meski demikian, pengawasan dan pembatasan tetap dilakukan sebagai kontrol terhadap santri agar tidak ada penyalahgunaan tekhnologi tersebut.

“Apapun, keberadaan  teknologi tidak bisa kita tolak atau dilarang.  Kita juga tidak boleh gagap teknologi. Untuk membatasinya, sesekali kita  lakukan razia isi HP,”ujarnya.

Tantangan lainnya adalah para orang tua pasrah sepenuhnya ke ponpes. Padahal, para santri juga butuh kasih sayang keluarga. Karena itu, pola yang diterapkan tidak bisa serta merta meniru pola zaman dulu. “Sebagai pengasuh kita harus dekat dengan santri. Dengan demikian, santri dengan mudah menerima pembelajaran di ponpes. Kalau kita tidak bisa dekat dengan santri, maka berbahaya. Sebab, pengaruh teknologi luar biasa,”jelas Kiai Arief.

Untuk mendekatkan diri dengan santri ini, antara lain dengan bersalaman. Dengan cara salaman ini, maka kedekatan emosional antara kiai dan santri dapat terjaga dengan baik. Di Ponpes Al Fattah, kata Kiai Arief, juga sering menjalin kerja sama dengan para mahasiswa termasuk dari Pecinta Alam Unissula. Selain mengenalkan alam, juga melatih kedisiplinan sebagai salah satu membentuk karakter santri.

“Karena itu, pada peringatan Hari Santri ini peran pondok pesantren memang sangat nyata, utamanya dalam membangun pendidikan keagamaan dan karakter generasi muda. Dengan mondok di pesantren, para santri juga dapat memahami jati dirinya. Hari Santri makin memupuk rasa nasionalisme dalam menjaga NKRI,”ujar Kiai Arief. (wahib pribadi/aro)