BELUM DIPINDAH : Warga Desa Timpik Kecamatan Susukan minta pengerjaan proyek tol dilanjutkan sesudah memperoleh solusi pemindahan masjid Baithul Ikhwan (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BELUM DIPINDAH : Warga Desa Timpik Kecamatan Susukan minta pengerjaan proyek tol dilanjutkan sesudah memperoleh solusi pemindahan masjid Baithul Ikhwan (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN – Proyek pengerjaan jalan tol Semarang – Solo tepatnya pada ruas Salatiga – Solo, untuk sementara waktu harus dihentikan. Sebab, sebuah masjid masih berdiri kokoh di tengah proyek pembangunan tol. Tepatnya di Dusun Geneng Desa Timpik Kecamatan Susukan.

Kepala Desa Timpik Suhada mengatakan, warga desa tidak keberatan jika masjid tersebut dipindah. “Hal itu untuk kepentingan dan kelancaran pembangunan tol,” ujar Suhada, Jumat (20/10). Meski begitu, warga menginginkan pemindahan masjid tersebut harus tetap di wilayah administrasi Desa Timpik. Selain itu, juga berada di lahan yang mudah dijangkau warga sekitar.

“Warga tidak mempermasalahkan adanya pembangunan yang masuk dalam skala prioritas di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini,” katanya.

Namun hingga saat ini, pihak pengelola jalan tol Semarang-Solo belum bisa memberikan pengganti masjid yang diminta oleh warga. “Sebetulnya kan tidak ada masalah dan warga sudah setuju semua, hanya hingga saat ini belum ada penggantinya. Tapi kalau tanah pengganti sudah disetujui dan direalisasi,” katanya.

Dikatakan Suhada, saat ini warga tengah menunggu keputusan pihak pengelola jalan tol untuk duduk bersama mencari solusi terkait nasib masjid Baithul Ikhwan tersebut. Jika tidak, warga tidak akan membiarkan masjid dibongkar begitu saja oleh pekerja proyek jalan tol Salatiga-Solo yang menelan investasi sebesar Rp 4 triliun tersebut.

Akibat masih berdirinya masjid di tengah pengerjaan proyek jalan tol tersebut, seluruh alat berat yang seharusnya beraktifitas, saat ini berhenti beroperasi. Mereka berharap PT Solo Ngawi Jaya (SNJ) dan PT Trans Marga Jateng bisa secepatnya merelokasi dan membangun masjid baru.

Terkait dengan hal itu, Staf Ahli Direksi Trans Marga Jateng Mochamad Tilawatil Amin mengungkapkan, hingga saat ini belum ada kesepakatan nilai bangunan masjid pengganti sehingga proses relokasi belum dapat dilakukan. Dikatakannya, permintaan ganti rugi warga melebihi hasil taksiran yang ditentukan. “Jadi kalau nilai pengganti wajarnya sekitar Rp 270 juta,” katanya.

Meski terhambat, namun TMJ optimistis dapat memenuhi target Presiden Joko Widodo untuk dapat memfungsionalkan ruas tol Salatiga – Solo pada arus mudik Lebaran tahun depan. (ewb/ton)