Santri, Komitmen NKRI dan Pancasila

590
Oleh Ahmad Rofiq
Oleh Ahmad Rofiq

HARI Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden RI, melalui SK Presiden nomor 22 tahun 2015, setiap tanggal 22 Oktober. Minggu ini (22/10/2017), Kementerian Agama RI, cq Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) menggelar peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Simpanglima Semarang. Tema yang diusung adalah Meneguhkan Peran Santri dalam Bela Negara, Menjaga Pancasila, dan NKRI. Demikian penegasan Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Agil Siroj (4/10) di Jakarta.

Penetapan tanggal 22/10/2017 sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden, didasarkan pada inspirasi dari adanya Resolusi Jihad yang ditandatangani oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, tokoh dan ulama besar pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926. Dalam tebuireng.online disebutkan bahwa resolusi tersebut dikeluarkan atas keresahan kaum santri dan kiai karena sekutu bersama NICA dan AFNEI ingin menjajah Indonesia kembali pasca kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sekaligus sebagai jawaban atas permintaan saran yang diajukan Bung Karno kepada Hadratusy Syaikh.

Resolusi Jihad itu diputuskan dalam Rapat Besar Konsul-Konsul NU se-Jawa dan Madura, pada 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Melalui konsul-konsul yang datang pada pertemuan, seruan tersebut disebarluaskan ke seluruh lapisan pengikut NU khususnya dan umat Islam umumnya di seluruh pelosok Jawa dan Madura.

Adapun isi Resolusi Jihad NU sebagaimana dimuat pada harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi Nomor 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945, adalah tuntutan NU se Jawa dan Madura kepada Pemerintah RI supaya mengambil tindakan yang sepadan. Sementara warga NU dan alim ulama berkewajiban mempertahankan dan menegakkan agama dan kedaulatan negara RI merdeka. Karena mempertahankan dan menegakkan Negara RI menurut hukum agama Islam, adalah suatu kewajiban bagi tiap orang Islam. Sebagian besar warga negaranya terdiri atas umat Islam.

Oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di Indonesia, telah banyak sekali dijalankan kejahatan dan kekejaman yang menganggu ketentraman umum. Mereka ingin merusak kedaulatan dan menjajah kembali negara RI. Para ulama tampak sangat menghormati pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk memerintahkan rakyatnya agar menghadapi Belanda dan Jepang. Karena itu, ulama meminta dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan Kemerdekaan, Agama, dan Negara Indonesia, dengan memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam. Resolusi tersebut tertera dibuat di Soerabaja, 22 Oktober 1945 silam.

Resolusi tersebut merupakan momentum yang sangat genting dan strategis, sekaligus dengan bahasa yang sangat santun, memberikan spirit dan amunisi besar, agar terus melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah mempertahankan kemerdekaan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NKRI Harga Mati dan Pancasila Final

Umat Islam dan khususnya warga NU mendapatkan spirit baru untuk meneladani komitmen dan perjuangan para ulama dan kiai untuk tetap istiqamah dalam membela NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bagi santri dan ulama NU, bentuk NKRI adalah Harga Mati dan Pancasila final. Tentu bagi orang Islam yang berfikir bahwa Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan manusia, bisa saja diubah. Apalagi di alam demokrasi seperti sekarang, sepanjang ditempuh secara demokratis, maka bisa dibentuk kesepakatan baru.

Adanya pemikiran sebagian dari bangsa Indonesia, yang masih ingin mengusung khilafah, atau ingin menghidupkan komunisme sungguh tidak sesuai dengan Pancasila dan semangat NKRI. Karena itu, tema yang diusung dalam peringatan hari santri nasional tersebut, dipandang sangat tepat dan strategis. Masih ada kelompok pemahaman agama yang sangat terasa kurang rasa memiliki atau sense of belonging sebagai bangsa Indonesia, padahal mereka lahir, hidup, dan boleh jadi akan dikubur di bumi Indonesia. Indonesia yang merupakan irisan surga di bumi nusantara adalah bagian dari kehendak Allah, di manabangsa Indonesia adalah bagian dari bangsa-bangsa (syu’uban) lain di dunia ini. Oleh Allah, entitas dan eksistensi bangsa Indonesia, dikehendaki sebagai hamba-hamba-Nya, untuk menghiasi dan memakmurkan bumi ini seperti yang dimaksud QS Al-Hujurat:13, guna mencari posisi paling mulia di sisi-Nya, dengan menjadi hamba-hamba yang paling bertaqwa.

Bagi santri dan warga NU, terutama santri pondok pesantren tradisional, Pancasila adalah final dan NKRI harga mati. Sengaja disebut tradisional, karena sekarang banyak pondok pesantren modern, yang formatnya seperti sekolah atau madrasah, akan tetapi peserta didiknya diasramakan yang dalam bahasa populernya boarding school.

Bagi santri dan warga NU, Pancasila merupakan hasil perenungan dan perumusan filosofis, ideologis, yang kemudian diletakkan sebagai dasar negara. Karena itu, setelah mengalami berbagai ujian sejarah panjang, para ulama dan santri nusantara meneguhkan sikapnya, Pancasila adalah final, dan NKRI harga mati. Kita bisa belajar ke Irak dan Syria, yang diacak-acak oleh ISIS, katanya mengaku Sunny, tetapi perilakunya barbar. Santri tidak boleh menolerir munculnya ideologi apakah itu transnasional, radikalisme sekuler, maupun radikalisme agama, karena ini hanya akan mencabik-cabik kedaulatan dan kekompakan yang secara terus menerus kita bangun bersama.

Bravo dan selamat memperingati Hari Santri Nasional 2017, sikap teguh dan istiqamah Anda, dinantikan bangsa ini. Indonesia bangsa besar yang selalu seksi di hadapan petualangan politik dan kekuasaan. Semoga NKRI semakin jaya dan santri semakin mawasdiri untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Allah a’lam bi sh-shawab. (*/ida)