Membangkitkan Kreativitas Mengajar di SLB

340
Oleh: Suwarni SPd
Oleh: Suwarni SPd

ANAK-anak berkebutuhan khusus seperti halnya anak normal mempunyai hak sama untuk memeroleh pendidikan.  Ketika anak berkebutuhan khusus sekolah bisa jadi semangatnya menjadi luar biasa, mungkin mengalahkan semangat anak lainnya. Mereka juga ingin pandai, ingin mempunyai teman-teman sekolah, melakukan  kegiatan mandi pagi, sarapan, memakai seragam dan diantar sekolah. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya sebagai anak sekolah. Hingga orang tua terkadang dibuat repot meskipun sakit mereka tetap ingin sekolah. Sungguh luar biasa, sesuai dengan tempat belajarnya di sekolah luar biasa (SLB).

Semangat anak berkebutuhan khusus yang luar biasa tidak selalu berbanding lurus  dengan semangat guru dalam  mengajar, meskipun telah bersertifikat sebagai guru profesional. Memang ada sebagian guru berkualitas bagus secara pedagogik sehingga terjadi peningkatan kemampuan siswa. Bagaimana dengan guru yang mengajar seadanya, semaunya, asal datang dan tidak kreatif? Apapun dalihnya siswa yang dirugikan.

Tidak dipungkiri dalam satu kelas di SLB ada beragam kemampuan dan karakteristik siswa. Satu kelas terdapat dua atau lebih dari dua rombel dengan diampu satu guru adalah hal biasa. Contoh  siswa kelas I dan II dijadikan satu kelas dengan satu guru. Kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor  siswanya dalam satu kelas itu jelas berbeda. Atau dalam kelas itu hanya kelas VI saja namun kemampuan siswanya beragam. Misalnya satu siswa sudah mampu baca tulis, perkalian, pembagian. Sementara siswa yang lain belum mengenal huruf a, b, dan belum mampu bicara serta sering berteriak mencari perhatian, sementara siswa satunya lagi pasif  dan pendiam. Di sinilah dituntut kreativitas guru dalam mendidik dan mengajar.  Sementara guru juga dihadapkan pada kurikulum yang harus diajarkan kepada siswanya.

Yang menjadi masalah bukanlah siswa dengan berbagai kemampuan dan karakteristiknya. Guru tidak boleh menyalahkan siswa. Siswa tetaplah siswa yang merupakan input yang menjadi sasaran guru untuk dididik, apa pun kondisinya agar menjadi manusia cerdas, berakhlak mulia dan mandiri. Permasalahannya adalah bagaimana membangkitkan kreativitas guru yang  mengajar di SLB?

Bagi penulis, yang lebih utama adalah niat atau kemauan dari guru   untuk mendidik secara profesional. Apalah arti sederet teori dan regulasi disuguhkan dan dipahami jika  tidak ada kemauan untuk melaksanakannya. Justru mendidik dengan hati akan lebih memudahkan guru dan siswa untuk berinteraksi. Ini artinya, menerima dan mencintai siswa akan menciptakan kondisi  menyenangkan  sehingga memudahkan  guru menyampaikan materi pembelajaran dan siswa mudah menerimanya.

Dalam KBM, guru seharusnya menerapkan  pembelajaran  secara individual.  Artinya, guru mengajar satu per satu siswa secara bergantian sesuai dengan kemampuan siswa. Mungkin untuk siswa A guru mengajar penjumlahan sederhana, sedang untuk siswa B masih mengenalkan bilangan 1 sampai 5. Sebelum pindah ke siswa yang lain, berilah tugas kepada siswa agar siswa tetap aktif, misalnya siswa diminta mencari dan menuliskan angka yang ada di kelas.  Siswa yang belum mendapat giliran diminta untuk bersabar sambil menyiapkan buku dan alat tulisnya.

Membuat alat peraga sederhana yang dapat mempermudah siswa memahami pelajaran bukanlah hal sulit dilakukan. Daya persepsi abstrak  siswa SLB amat rendah, maka ajarkan  secara konkret, nyata, dapat dilakukan (learning by doing) agar materi pelajaran lebih mudah dipahami siswa. Misalnya ketika belajar menghitung benda, guru dan siswa membuat bola kecil dari kertas koran yang diberi berbagai warna. Disamping melatih motorik halus, cara ini mengaktifkan siswa,  siswa belajar nyata, dan mengatasi keterbatasan memori siswa.

Hal lain yang tak kalah penting adalah kesabaran guru  harus luar biasa dalam menghadapi perilaku siswa. Polah siswa SLB memang sering menguji kesabaran. Ada yang begitu hiperaktif dengan berteriak, berbicara keras, marah, memukul, jalan ke sana ke mari.  Pun ada yang pasif  dan menolak jika diajak bicara atau belajar. Namun guru jangan cuma sabar sekadar sabar, tidak ada tindakan . Sabar harus yang kreatif pula, ada usaha untuk membangkitkan siswa agar mau belajar. Misalnya  mengajak cerita dengan memperlihatkan gambar atau video di HP, mengajak nyanyi dengan menyetel lagu-lagu lewat HP.  Berperanlah  seperti  dalang yang tidak  kehabisan lakon.

Di saat mengajar, energi guru memang terkuras secara fisik maupun psikis, apalagi jika dalam satu kelas itu terdapat lebih dari 5 siswa. Kelemahan lainnya adalah kurikulum yang sudah ditentukan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) oleh pemerintah belum tentu dapat dikuasai siswa. Indikator yang dibuat guru rentan melenceng dari KD. Hal inilah yang membuat pusing guru ketika membuat RPP apalagi RPP model tematik.

Lepas dari bayang-bayang kurikulum yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi siswa menurut penulis cara-cara di atas membuat siswa lebih aktif, belajar lebih menyenangkan, perhatian guru lebih besar, dan  siswa memahami apa yang dipelajari. Akan menjadi sia-sia ilmu diberikan jika tidak sesuai dengan level intelegensi siswa. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bimbinglah siswa agar  dapat mandiri dalam aktivitas  sehari-hari atau  activities daily living (ADL), seperti  mandi, berpakaian, makan, dan lain sebagainya lewat progsus/program kebutuhan khusus. Selamat dan tetap menjadi guru sekolah luar biasa. (*/aro)