Kontrol Penyiaran, KPID Gencarkan Literasi Media

158
Budi Setyo Purnomo (Istimewa)
Budi Setyo Purnomo (Istimewa)

SEMARANG –  Pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu bersinergi untuk memberi pendampingan dan edukasi saat menonton tayangan televise. Pasalnya, kepentingan-kepentingan industri justru merasuk ke dalam konten dan mendominasi penyiaran.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah Budi Setyo Purnomo mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan dan pendampingan bagi masyarakat supaya memperhatikan apa yang ditonton melalui televisi maupun didengar melalui radio sesuai tugas instansinya.

“Sekarang ini banyak tayangan yang kontennya tidak bermanfaat bagi masyarakat, tapi justru kepada industri itu sendiri. Hal seperti itu perlu kita sikapi bersama,” ungkapnya ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Gedung Pers Jateng, Jumat (20/10).

Menurutnya, konten-konten yang disiarkan oleh televisi maupun radio masih banyak yang tidak sesuai dengan budaya-budaya asli di Indonesia. Budaya yang dimunculkan di sinetron-sinetron misalnya mengadopsi budaya barat yang di created seolah  seperti budaya Indonesia.

Dari hal itu, kemudian anak-anak muda yang melihat tayangan tersebut tertarik dan meniru hingga akhirnya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang menjadi awal dari penyimpangan dan dampaknya buruk bagi masyarakat bahkan anak muda itu sendiri.

“Jadi budaya barat ketika dibawa ke layar kaca, anak muda itu kan sangat tertarik. Kemudian dia mempraktikkan di kehidupannya sehari-hari,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pihaknya selalu melakukan literasi media, sehingga nantinya masyarakat menjadi lebih cerdas bermedia, cerdas menonton film. Terpenting adalah pendampingan oleh orang tua terhadap anaknya.

“Karena anak ketika menonton film itu dijadikan satu frame yang nantinya mereka ikuti. Disitulah peran-peran orang tua untuk melakukan pendampingan,” tegasnya. (tsa/zal)

Silakan beri komentar.