Simpan Samurai yang Digunakan Melawan Tentara Jepang

Samhuri Prasetyo, Pejuang Pertempuran 5 Hari Semarang

14114
SAKSI SEJARAH : Samhuri Prasetyo menunjukkan samurai peninggalan tentara Jepang yang dulu digunakan untuk menyerang balik tentara Jepang dalam pertempuran 5 hari Semarang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SAKSI SEJARAH : Samhuri Prasetyo menunjukkan samurai peninggalan tentara Jepang yang dulu digunakan untuk menyerang balik tentara Jepang dalam pertempuran 5 hari Semarang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Hingga sekarang, kakek 91 tahun ini masih menyimpan senjata samurai Katana milik tentara Jepang. Katana ini pula yang digunakan untuk menebas para tentara Jepang. Seperti apa kisahnya?

ABDUL MUGHIS

SAMHURI Prasetyo, manjadi saksi sejarah pertempuran lima hari di Semarang pada 14-19 Oktober 1945 silam. Di usianya yang ke-91 tahun, masih terekam jelas di ingatannya tentang situasi mencekam dan penuh darah di Kota Semarang.

Ia menjadi salah satu pemuda kala itu yang melakukan perlawanan mengusir tentara Jepang yang sadis. Kala itu, ia bergabung dengan Tentara Pelajar (TP). Banyak pejuang maupun warga tewas dibantai oleh kekejaman tentara Jepang.

Saat itu, tentara Jepang sangat keji memperlakukan rakyat Indonesia, meski Soekarno telah menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Tetapi tentara Jepang justru menyerang Semarang, hingga terjadilah pertempuran selama 5 hari. “Waktu itu saya berusia 19 tahun,” kata Samhuri di Tegalsari Barat Gang III Nomor 1, Semarang, belum lama ini.

Ingatannya kembali ke masa lalu, lantas ia teringat masih menyimpan senjata bersejarah yang ia rawat sampai sekarang. Senjata tersebut adalah samurai Katana milik militer Jepang. Senjata ini diambil alih dari gudang penyimpanan senjata milik Jepang. Kemudian menggunakan senjata inilah, sejumlah tentara Jepang dilibas dalam pertempuran.

Namun Samhuri dulu bukan pemegang senjata itu. Pemegangnya adalah rekannya, bernama Sayuto, seorang tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Pria yang sangat disegani dan ditakuti tentara Jepang. Dalam suatu ketika, Sayuto terluka parah dalam pertempuran di Lawang Sewu. Ia menjadi salah satu pemuda pejuang yang selamat. Banyak pejuang lain tewas dan disiksa oleh tentara Jepang. “Saat itu, saya menolong dan menyelamatkan Sayuto,” katanya.

Setelah sembuh, Sayuto memimpin pasukan untuk mengusir tentara Jepang. Samhuri menjadi salah satu pendamping. Sayuto dulu dikenal raja tega terhadap tentara Jepang. Sebab, tentara Jepang sangat sadis. Maka Sayuto juga tak segan menebas tentara Jepang hingga tubuhnya terputus. Ia bahkan dikenal sebagai jagal tentara Jepang kala itu. “10 Oktober kami berunding di RRI, kami sama-sama datang berkumpul. Di sana ada Soeharto yang presiden. Rembugan mau menyerang Jepang,” katanya.

Pasukan yang dipimpin Sayuto kerap mencegat orang Jepang, lantas menghabisinya. Peristiwa yang paling diingat Samhuri di antaranya saat berada di depan toko kaca Jalan Bojong (sekarang Jalan Pemuda). “Di sana, terjadi penyerangan. Sayuto menghunus pedang ini kemudian menebaskan ke kaki tentara Jepang hingga terputus. Saat itu, anggapan kami harus tega, karena tentara Jepang juga sangat sadis membantai,” katanya.

Meski begitu, Samhuri mengaku hanya bertugas membawakan samurai. Sayuto, dalam kondisi genting segera menghunus pedangnya. “Saya pegang sarungnya. Tindakan Jepang yang keji memang sangat meneror mulai dari menangkapi pemuda dan membunuhnya hingga membakar perkampungan seperti Kampung Batik,” katanya.

Maka di manapun bertemu dengan orang Jepang, Sayuto tidak pandang bulu. Pernah, sebanyak empat tentara Kidobutai yang berhadapan dengan Sayuto dipenggal kepalanya di halaman gedung kesenian Sobokarti. “Jepang juga sangat sadis menebas pemuda pejuang. Mereka pikir dengan ada yang ditebas, warga menjadi takut. Tidak, justru kekejaman tentara Jepang membuat kami semakin kemropok. Sayuto pun marah besar,” katanya.

Pertempuran 5 hari di Semarang menjadi perlawanan pemuda Semarang dan sekitarnya yang menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Pertempuran berakhir setelah kedatangan tentara Sekutu yang mendarat di pelabuhan Semarang dengan kapal HMS Glenry. “Setelah pertempuran selesai, Sayuto memberikan pedang ini kepada saya,” tandas suami dari almarhumah Siti itu.

Samhuri menjaga pedang dan kenangan masa perang itu di rumahnya. Sayuto sebenarnya juga tinggal di Semarang, namun ia sudah meninggal di usia 85 tahun pada 3 Juni 2007 lalu. Meski begitu, Samhuri mengaku mencintai perdamaian. Hingga sekarang, ia tak dendam terhadap orang Jepang. “Setiap manusia sudah seharusnya memelihara perdamaian,” katanya. (*/ida)