Menumbuhkan Sikap Toleransi

2256
Oleh : Dra Kundaryati
Oleh : Dra Kundaryati

INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam berbagai artikel, memang masih ada perbedaan pendapat mengenai jumlah pasti pulau di Indonesia. Per Agustus 2017, ada yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki 14.572 pulau, 16.056 pulau, ada juga yang menyebutkan sebanyak 17.500 pulau. Terlepas dari jumlah pasti kepemilikan pulau-pulau di wilayah NKRI, ada satu kepastian yang mutlak bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman dalam berbagai sisi, mulai dari kekayaan alam dan keragaman sosial budaya.

Menjadi sebuah keniscayaan bahwa dari berbagai kekayaan tersebut, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan pastilah ada perbedaan pandangan hidup. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), per tahun 2015 total jumlah penduduk di Indonesia berkisar antara 134 juta jiwa. Mari kita bayangkan secara sederhana. Dalam satu rumah yang berisikan 4 orang, setiap pendapat mengenai suatu kejadian pastilah ada yang berbeda. Apalagi Indonesia yang memiliki 134 juta penduduk.

Keragaman dalam memeluk agama juga terjadi di negeri Tanah Surga ini. Ada sebanyak 6 agama yang dikenal oleh mayoritas masyarakat Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghuchu. Dalam sila pertama Pancasila, aspek agama disebut pertama kali sebagai pertanda bahwa agama merupakan kebebasan manusia dalam meyakini kepercayaannya dan merupakan salah satu aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, dewasa ini agama menjadi hal yang sangat mudah digunakan sebagai motif untuk mengadu domba antar masyarakat. Masih ingat di memori otak kita beberapa bulan yang lalu, isu agama menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dinamika pemilihan pemimpin daerah di negeri ini.

Perlu menjadi pemahaman kita semua sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara untuk mengevaluasi tentang kerukunan dalam menghormati setiap kepercayaan yang dianut oleh setiap individu. Bila kita ingat dengan pedoman Bhinneka Tunggal Ika yang berarti bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu, sudah cukup untuk menggarisbawahi bahwa meskipun setiap pendapat dan kepercayaan yang dianut berbeda, namun tidak boleh memecah belah kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Pancasila adalah ideologi negara, pandangan hidup negara, dan landasan negara Indonesia. Bagi pemerintah, setiap kebijakan yang diterbitkan harus memandang Pancasila sebagai rujukan. Bagi setiap individu rakyat Indonesia, Pancasila digunakan sebagai aturan dalam kehidupan bermasyarakan dan bernegara. Dalam hal ini, berarti setiap orang yang berstatus Warga Negara Indonesia dalam setiap kegiatannya harus berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

Setiap sila dalam isi Pancasila saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan sila kelima pun begitu. Agama sebagai hak manusia yang telah diakui keberadaannya haruslah berkeadilan sosial dan bermartabat dalam menyikapi setiap pandangan hidup tanpa membenarkan atau mensalahkan menurut pendapat pribadi supaya mampu menciptakaan persatuan di negeri Indonesia tercinta.

Lebih rinci lagi, dalam kaitannya sila Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang beriman. Dalam setiap aspek kehidupan berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan. Selain Pancasila, negara juga mengatur tentang agama ke dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab XI pasal 29 ayat (1) dan Ayat (2). Pasal (1) berbunyi, “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” dan pasal (2) berbunyi. “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Bagi penulis yang beragama Islam, surat Al Kafirun ayat 6 sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana toleransi dalam beragama. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Ini mencerminkan bagaimana untuk menghormati hak berkeyakinan sesama manusia. Tidak memaksakan kehendak. Tidak memaksakan seseorang untuk memeluk suatu agama tertentu dan tidak mendeskreditkan agama lainnya.

Kerukunan penting bagi rakyat Indonesia untuk mewujudkan kepentingan yang lebih besar manfaatnya bagi banyak orang. Mewujudkan impian supaya Indonesia bisa melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Sikap toleransi sangat diperlukan oleh umat beragama. Bilamana setiap manusia tidak menumbuhkan sikap toleransi, maka yang muncul kemudian adalah sikap permusuhan. Mayoritas menindas minoritas. Mayoritas merasa paling benar karena secara kuantitatif lebih banyak jumlahnya dari pada minoritas. Sikap merasa paling benar seolah-olah memposisikan dirinya setara dengan Tuhan dimana Tuhan memiliki kedudukan paling tinggi.

Jangan sampai di Indonesia muncul sikap paling benar sendiri. Jangan sampai Indonesia menjadi Myanmar kedua karena muncul penindasan terhadap kaum minoritas. Tidak ada salahnya kita menumbuhkan sikap toleransi. Banyak dampak positifnya. Secara kehidupan bermasyarakat, sikap saling menghormati akan mencegah terjadinya perpecahan antar umat beragama.

Selain itu, juga mampu mempererat tali silaturahmi sebagai sesama umat manusia. Bagi kehidupan bernegara, perputaran roda pemerintahan akan lebih terjamin serta pelaksanaannya akan lebih fokus. Perekonomian meningkat, pengangguran menurun, infrastruktur pembangunan terus berjalan. Ini akan menambah jaminan kepada masyarakat bahwa ada peluang kehidupan mereka akan meningkat dari waktu ke waktu. Tak lupa juga, secara sisi agama, manusia akan selalu merasa kecil dihadapan Tuhan-nya karena keragaman yang ada di sekeliling mereka sehingga akan meningkatkan keimanan serta ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimanapun, Indonesia adalah negara besar dengan keberagaman dan macam-macam problem di dalamnya. Menjadi tanggungjawab kita semua untuk menumbuhkan sikap memiliki negara ini. Ketika sikap memiliki negara telah mengakar, maka akan dengan legowo akan menerima segala permasalahan yang ada dan bersama-sama mencari solusi untuk keluar dari permasalahan yang ada. (*/ida)