SEMARANG – Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Test masih sepi peminat. Padahal, IVA Test mampu mendeteksi dini kanker leher rahim. Sayang, tidak semua wanita usia subur mau melakukannnya. Beberapa di antaranya justru ketakutan jika hasilnya positif dan mereka dinyatakan kanker.

Praktisi kesehatan dari RSUD Tugurejo Semarang, dr Hardiyanto SpOG meminta para wanita tak lagi takut mengikuti IVA Test. Sebab, melalui IVA Test mereka justru bisa mengetahui kondisi alat reproduksinya itu. Kalau pun hasilnya positif, mereka belum tentu positif kanker.

Diakui, pada pemeriksaan IVA, diprediksi tiga sampai lima persen pemeriksa menunjukkan hasil positif. Tapi, kemungkinan itu disebabkan perubahan pada epitel serviks, atau bisa juga karena infeksi kronis. Jika penyebabnya infeksi kronis, cukup ditangani dengan pengobatan infeksi.

“IVA Test positif belum tentu kanker. Perlu pemeriksaan penunjang yang lain, misalnya pap smear, atau yang lebih spesifik lagi dengan biopsy. Jadi IVA positif itu mana yang dicurigai kanker serviks. Itu diambil dibiopsi terus dibawa ke spesialis PA (patologi anatomi),” bebernya, saat dialog interaktif Perhatikan Kesehatan Organ Reproduksi melalui IVA Test, di Studio Mini Kantor Gubernur Jateng, kemarin.

Ditambahkan, pada stadium awal, kanker serviks nyaris tidak menimbulkan gejala. Ada pula yang disertai gejala keputihan yang tak biasa. Tapi, wanita yang keputihan pun jangan langsung ketakutan untuk memeriksakan diri. Sebab, mereka yang dengan keputihan juga belum pasti terkena kanker. Keputihan bisa diakibatkan berkembangnya jamur, protozoa, kuman yang lain, atau memang kanker.”Jadi, perlu dilakukan deteksi dini. Deteksi dini memang dilakukan saat tidak ada gejala apa-apa. Kalau sudah terjadi (ada gejala kanker) itu namanya periksa,” paparnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kateng, dr Tatik Murhayati MKes. Menurutnya, hasil IVA Test positif bukan berarti kanker, tapi lesi prakanker. Karena itu, perlu dilakukan upaya penanganan sesuai berat ringannya gejala.

Ketua Tim Penggerak PKK Jateng, Siti Atikoh Ganjar Pranowo menjelaskan di negara maju, angka kejadian kanker serviks dan kanker payudara relatif kecil. Sebab, kesadaran wanita di negara itu untuk melakukan deteksi dini sudah terhitung tinggi. Karenanya, dia bersama jajaran pengurus TP PKK maupun kader terus berupaya menggerakkan IVA Test.

“Kalau masih bisa dilakukan IVA Test justru tenang, karena kalau dirujuk ke RS itu berarti sudah stadium tinggi. Kalau pun positif, masih bisa sembuh secara total,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Jateng, Rini Sri Puryono menambahkan, untuk meningkatkan kepedulian kesehatan pada wanita, khususnya dalam deteksi dini kanker serviks dan payudara, DWP Jateng berencana menyelenggarakan IVA Test dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis). Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Gedung DWP Jateng, Jumat (27/10) mendatang. (amh/zal)