BOIKOT RAPAT : Tidak terima dipimpin rapat oleh dr Lafran Panca Putranto, kader PDIP Kabupaten Batang memboikot kegiatan rapat internal partai di kantor Jalan Brigjen Katamso Batang, Rabu sore (18/10) kemarin (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BOIKOT RAPAT : Tidak terima dipimpin rapat oleh dr Lafran Panca Putranto, kader PDIP Kabupaten Batang memboikot kegiatan rapat internal partai di kantor Jalan Brigjen Katamso Batang, Rabu sore (18/10) kemarin (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

BATANG-Terus diprotes beberapa kelompok yang mengatasnamakan dirinya kader dari tingkat ranting PDIP, Ketua DPC PDIP Batang, Lafran Panca Putranto menegaskan bahwa dirinya adalah ketua DPC PDIP Kabupaten Batang yang sah. Dirinya juga heran, dengan adanya aksi boikot terhadap dirinya.

Bahkan, aksi bokiot masih terus dilakukan kadernya saat digelar rapat internal di Aula Kantor DPC PDIP Batang dalam rangka konsolidasi partai menjelang apel akbar, Rabu sore (18/10) kemarin. Sejumlah kader yang merupakan pimpinan di tingkat ranting menolak dr Lafran memimpin rapat partai. Akibatnya, suasana menjadi kacau dan rapat terpaksa dihentikan.

Wakil Ketua Bidang Organisasi DPC PDIP Batang, Abdussalam mengatakan bahwa mayoritas peserta rapat yang terdiri atas pimpinan ranting atau 13 pengurus anak cabang (PAC) dari 15 kecamatan di Kabupaten Batang, menolak rapat yang dipimpin oleh ketuanya.

“Kami didukung teman-teman PAC menolak Lafran memimpin rapat, karena sudah tidak memiliki legimitasi lagi. Tapi kalau rapat dipimpin oleh Ketua Bidang Kehormatan DPC PDIP Batang Parwieto, kami mau dan siap menerima,” kata Abdussalam.

Kata Abdussalam, dirinya dan beberapa peserta sempat meminta Lafran selaku Ketua DPC PDIP untuk segera meninggalkan lokasi. “Selagi ada Lafran di dalam, kami menolak atau tidak mau sehingga rapat kami ambil alih dan kami nyatakan rapat gagal,” tegasnya.

Senada dengan Abdussalam, Ketua PAC Kecamatan Blado, Didik Wahyudi menegaskan bahwa dirinya sudah mengantongi dukungan 14 PAC berupa tanda tangan yang sudah diserahkan ke DPP PDIP yang isinya meminta Lafran mengundurkan diri dengan mosi tidak percaya. Namun dalam pertemuan tersebut, satu PAC pendukung aksi berhalangan hadir.

Didik menganggap kepemimpinan Lafran telah merugikan partai sehingga kebijakannya tidak lagi didukung oleh mayoritas kader partai. Yakni, 14 dari 15 PAC yang ada di Kabupaten Batang. Kecuali satu PAC Kecamatan Tulis, yang enggan memberikan dukungan dan bersifat netral dalam kasus ini.

“Kami sudah tidak lagi menghendaki Lafran memimpin Batang. Kami yakin, mosi tidak percaya kepada Lafran akan ditindaklanjuti oleh DPP PDIP, karena kami ingin membesarkan partai tanpa kepemimpinan Lafran,” dalihnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Lafran Panca Putranto yang semula enggan mengomentari aksi yang dilakukan kader partainya, akhirnya buka suara. Ia menganggap apa yang dilakukan oleh sejumlah kader PDIP, tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku di internal partai.

“Saya tertawa saja dengan aksi mereka. Karena di partai kami, demo-demo seperti ini tidak akan pernah dianggap. Kami sudah paham, karena ada yang berkepentingan di dalamnya,” ujarnya.

Diungkapkan Lafran, bahwa rapat tersebut digelar sesuai dengan perintah DPD PDIP Jawa Tengah dalam rangka konsolidasi sebelum apel akbar. Sebagai ketua yang masih sah, dirinya memang merasa berhak memimpin rapat sesui aturan yang berlaku.

Hal yang sama diungkapkan Ketua Bidang Kehormatan DPC PDIP Batang Parwieto, bahwa demo atau protes seperti yang dilakukan anggotanya itu tidak akan dianggap oleh pimpinan pusat. “Demo–demo itu tidak dianggap oleh pimpinan, malah saya yakin nanti yang duiti (yang memberi dana, red), akhirnya kesel (capai, red) mas. Mereka akan terus buang-buang uang,” serunya. (han/ida)