Puaskan Pelanggan, Manulife Bertahan Hingga 130 Tahun

329
KOMITMEN MANULIFE: Seorang agen Manulife sedang memberi penjelasan soal asuransi pensiun untuk korporasi kepada Direktur SDM PT Gandum, Yuwantana, kemarin (ISTIMEWA).
KOMITMEN MANULIFE: Seorang agen Manulife sedang memberi penjelasan soal asuransi pensiun untuk korporasi kepada Direktur SDM PT Gandum, Yuwantana, kemarin (ISTIMEWA).

SEMARANG-Sebuah perusahaan akan bisa bertahan di tengah kompetisi yang ketat jika mampu memuaskan pelanggannya. Bahkan, kepuasan pelanggan menjadi kunci sebuah korporasi bisa memenangkan persaingan dan meningkatkan reputasinya. Persoalan pelanggan tidak bisa dianggap sepele. Dave Thomas (1932-2002), pengusaha besar asal AS, kerap menekankan perlunya perusahaan memberi perhatian penuh pada konsumennya.

“Jika kita memperhatikan pelanggan kita setiap hari melebihi harapan mereka, kita akan mendapatkan kesetiaan mereka,” kata Thomas.

Kesetiaan pelanggan berkorelasi besar bagi reputasi perusahaan. Reputasi yang dipertahankan bertahun-tahun oleh perusahaan, tentu akan berdampak besar terhadap pertumbuhan pelanggan baru. Hal itu jugalah yang membuat perusahaan asuransi jiwa Manulife bisa bertahan di Indonesia. Reputasi besar perusahaan asal Kanada selama lebih dari 130 tahun beroperasi di industri asuransi dunia ini menjadi alasan mengapa banyak nasabah di Indonesia, baik individu maupun kumpulan, memilih Manulife.

Sejumlah nasabah PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) yang ditemui mengakui hal tersebut. “Reputasi besar dan eksistensinya yang panjang itulah yang membuat kami memilih Manulife untuk program dana pensiun karyawan,” ujar Direktur SDM PT Gandum, Yuwantana, kepada koran ini.

Diakui, sebelum memilih Manulife pada 2012, pihaknya sudah menggandeng sebuah perusahaan multinasional lainnya. Namun ia mengaku, melalui Manulife, perusahaannya bisa mendapat jaminan yang kuat untuk dana pensiun para karyawan. Apalagi Manulife masuk jajaran lembaga keuangan yang diakui pemerintah dalam memberikan manfaat menarik untuk keringanan pajak pendapatan.

Yuwan menjelaskan, pihaknya mempercayakan pengelolaan dana pensiun 3.099 karyawannya kepada lembaga keuangan dengan reputasi besar karena program pensiun merupakan hal penting bagi kelangsungan perusahaan. “Sebelumnya kami melakukan dengan swakelola. Tetapi sangat berisiko. Jika perusahaan banyak cash flow tentu tidak masalah, tetapi akan bermasalah jika perusahaan kesulitan keuangan,” tutur dia.

Melalui Manulife, kata Yuwan, premi yang dibayarkan mendapat jaminan. Dana itu juga tidak mati, tetapi ada hasil investasinya. “Ini demi kepentingan karyawan. Saat mereka pensiun, ketersediaan dana untuk pesangon selalu ada,” tambahnya.

Menurut dia, kepastian ketersediaan dana di akhir masa kerja itu jelas membuat ketenangan bagi karyawan. Diakui, selama menjalin kerja sama dengan Manulife, pihaknya tidak pernah mengalami kendala. Bahkan, klaim yang diajukan sejumlah karyawan yang memasuki masa pensiun, tidak rumit. Manulife memiliki standar baku dalam dua pekan klaim itu cair. Beberapa waktu lalu, pihaknya mengurus klaim belasan karyawan dengan nilai klaim total di atas Rp 1,5 miliar berjalan lancar.

Hal serupa juga diakui Tuti Sulusiah, 39, nasabah individu Manulife asal Jakarta. Ia mengaku tidak kesulitan mengurus klaim di Manulife. “Ketika saya ikut Manulife, saat itu saya diopname karena sakit, saya ingat sekali bahwa agen yang sibuk mengurusi klaim saya, semuanya lancar. Keluar rumah sakit, saya tidak membayar apa-apa,” tutur Tuti.

Menurut Tuti, kepercayaan kepada perusahaan asuransi akan meningkat jika perusahaan itu bisa memberikan kepuasan kepada nasabahnya, terutama dalam pelayanan klaim. Tuti yang hidup berdua dengan anaknya yang masih kecil itu mengaku terbantu dengan adanya jaminan asuransi. Makanya, ia bersyukur bisa memperoleh layanan yang baik dari Manulife.

Direktur & Chief Marketing Officer Manulife Indonesia, Novita Rumngangun, mengakui, pihaknya berfokus untuk membantu nasabah mencapai impian dan aspirasi mereka. Beberapa cara yang dilakukan adalah membayar klaim secara cepat, menyederhanakan pengalaman nasabah serta memberikan solusi asuransi jiwa, kesehatan, dan investasi komprehensif. “Ini untuk memenuhi kebutuhan nasabah sesuai jalur akses pilihan mereka,” tutur dia.
Dikatakan, Manulife terus mempertahankan keyakinan kuatnya untuk membayar klaim kepada nasabah. Sepanjang 2016 lampau, perusahaan telah membayar klaim asuransi, nilai tunai penyerahan polis, anuitas dan manfaat lain senilai Rp 6,8 triliun. Angka itu naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp 5,6 triliun. Manulife Indonesia yang sudah menapakkan kakinya di Tanah Air sejak 1985 itu, kini memiliki 2,3 juta nasabah dan mengelola dana lebih dari Rp 55,8 triliun. (bis/aro)