Polisi Amankan Pengedar Belasan Ribu Trihek

373
PENGEDAR : Belasan ribu butir trihek beserta pengedar diamankan oleh petugas Polsekta Ungaran, Selasa (17/10) kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PENGEDAR : Belasan ribu butir trihek beserta pengedar diamankan oleh petugas Polsekta Ungaran, Selasa (17/10) kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

UNGARAN–Belasan ribu butir pil trihexyphenidyl (trihek) yang akan diedarkan berhasil diamankan petugas dari Polsekta Ungaran, Selasa (17/10) kemarin. Petugas mengamankan dari salah seorang pengedar obat terlarang, Suluh Prahasto, 34, warga Gabahan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Kapolsek Ungaran, Kompol Moh Aslam mengatakan bahwa penangkapan sendiri dilakukan di sebuah kamar kos yang ditempati pelaku di Gang Muria, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. “Pelaku baru tiga hari kos di tempat tersebut dan banyak laporan warga, jika pelaku kerap bertemu dengan orang yang berbeda-beda di dalam kamar kosnya,” kata Aslam.

Setelah banyak laporan warga yang masuk tersebut, pihak Polsekta Ungaran melakukan penyelidikan dan penggerebegan. Hasilnya di kamar kos pelaku, petugas menemukan belasan ribu butir obat terlarang di kamar kosnya. Obat yang disimpan pelaku dalam koper besar ini tidak memiliki izin edar dari Dinas Kesehatan. Selain itu, pelaku tidak mempunyai pendidikan tentang kefarmasian. “Saat anggota kami melakukan penggeledahan dan disaksikan oleh ketua RT setempat, pelaku bersama teman wanitanya berada di dalam kamar kos,” katanya.

Dalam penggerebegan tersebut, petugas juga mengamankan beberapa barang bukti lain yaitu sejumlah uang, buku tabungan dan bukti transfer, sepeda motor milik pelaku hingga senjata airsoft gun.

Berdasarkan pengakuan Suluh, rencananya belasan ribu pil trihek tersebut akan diedarkan di wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Di depan petugas, pelaku juga mengaku sudah mengedarkan obat serupa selama satu tahun ini tanpa disertai izin. “Sebelumnya saya memang lebih banyak di Semarang dan baru tiga hari ini di Ungaran,” ujar Suluh di hadapan petugas.

Dalam pengakuannya, Suluh mengaku jika ia hanya bertugas menghantarkan obat-obatan tersebut. Dalam hal ini, Suluh merupakan orang kedua dalam proses pengedaran obat-obatan. “Nama teman saya, Ari. Dia yang menyuruh mengantarkan barang tersebut. Beberapa bulan yang lalu, Ari tertangkap dan saat ini di (rumah tahanan) Kedungpane (Semarang),” katanya.

Pada kesempatan itupun, Suluh mengelak ketika ditanya petugas terkait kepemilikan airsoft gun. Ia berdalih jika senjata tersebut merupakan milik Ari. Setelah Ari tertangkap, istrinya tidak berani menyimpan airsoft gun tersebut dan diserahkan ke Suluh. “Hingga kini, Ari masih bisa menyuruh saya mengantar obat,” ujarnya.

Upah yang diperolehnya ketika mengantarkan obat ke pembeli sebesar Rp 70 ribu. “Setiap bulan saya mengantar rata-rata 13 kali, sehingga tiap bulan bisa dapat sekitar Rp 1 juta,” katanya.

Tidak hanya diedarkan, Suluh juga mengakui jika obat-obatan tersebut ia konsumsi secara pribadi. Akibat tindakan Suluh mengedarkan obat-obatan berbahaya tanpa seizin pihak terkait, ia disangka dengan Pasal 196 dan atau Pasal 197 Undang-Undang RI 36 tahun 2009 tentang kesehatan. (ewb/ida)