Pastikan Temuan Batu Bukan Bekas Benteng

305
TELITI TEMUAN : Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu melihat galian drainase yang diduga dulunya adalah sebuah benteng di Jalan Gelatik, Kawasan Kota Lama Semarang, kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TELITI TEMUAN : Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu melihat galian drainase yang diduga dulunya adalah sebuah benteng di Jalan Gelatik, Kawasan Kota Lama Semarang, kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Temuan batu bata merah yang sebelumnya diduga benteng digalian drainase yang ada di Jalan Gelatik Kawasan Kota Lama Semarang, membuat Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu, memastikan temuan tersebut dan mendatangi lokasi, Selasa (17/10).

Dari penelitian yang sudah dilakukan, ternyata batu bata tersebut adalah bekas struktur jalan peninggalan Belanda. Struktur jalan yang menggunakan batu bata tersebut ditemukan di dalam tanah dengan kedalaman sekitar satu meter.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengatakan, batu bata yang ditemukan, sudah dipastikan bukan bekas bangunan benteng. “Melainkan bekas struktur jalan yang telah tertimbun tanah, hal tersebut diketahui setelah dilakukan penelitian,” terangnya.

Ia menjelaskan, untuk diketahui secara pasti berapa umur batu yang ditemukan akan dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap sempel batu bata yang ditemukan. Saat ini Kota Lama sendiri sedang dalam pengerjakan dari Kementerian PUPR. Dalam waktu dekat, juga akan dilajukan pengerjaan di kawasan Jalan Kasuari.

“Nanti akan dilakukan tetenger, kami tidak akan meninggalkan sejarah. Seperti monumen yang dilapisi kaca, jadi orang bisa belajar tentang sejarah, zaman dulu setruktur jalan di mana terdiri dari pasir, gamping dan batu bata,” jelasnya.

Rencananya pada tahun ini, lanjut wanita yang akrab disapa Ita ini, akan ada bantuan dari Kementrian PUPR sebesar Rp 194 miliar yang digunakan untuk pembangunan jalan dan drainase di Kawasan Kota Lama, Bubakan, Polder Tawang, Hingga Kali Semarang.

“Temuan-temuan yang ada tetap diperhatikan, pembangunan di Kota Lama tidak akan terhambat dengan adanya temuan. Kita harus menjaga temuan-temuan ini,” paparnya.

Sementara itu, Hadi Sucipto salah seorang kontraktor yang mengerjakan perbaikan drainase di kawasan Kota Lama mengatakan, selama proses penggalian ditemukan sejumlah lapisan tanah yang memang berbeda di kedalaman sekitar 1 meter.

“Lapisan paling atas setebal kira-kira 15 sentimeter tanah di lokasi tersebut terdiri antara campuran tanah dan aspal, sementara 25 sentimeter di bawahnya merupakan beton, selanjutnya 40 sentimeter di bawahnya merupakan batu bata yang tertata,” katanya.

Ia menerangkan, jika pemasangan batu bata yang ditemukan menggunakan campuran semen dan gamping, sehingga bisa ditarik kesimpulan pada zaman Belanda dimungkinkan menggunakan cara seperti itu. “Kontruksi batanya lebih keras, ketika digali pakai alat berat nggak bisa, akhirnya pun pecah,” jelasnya. (den/zal)