Lahar Merapi Menerjang

414
TERONGGOK: Sebuah truk menjadi sasaran amukan banjir lahar dingin Kali Bebeng, Kecamatan Srumbung Kabupaten, Magelang, Selasa (17/10) kemarin (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).
TERONGGOK: Sebuah truk menjadi sasaran amukan banjir lahar dingin Kali Bebeng, Kecamatan Srumbung Kabupaten, Magelang, Selasa (17/10) kemarin (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).

SLEMAN-Hujan yang mengguyur lereng Merapi yang masuk wilayah Kabupaten Magelang dan Sleman, DIY, menyebabkan banjir lahar dingin gunung Merapi pada Senin (16/19) malam.

Banjir lahar dingin menerjang kawasan penambangan di Cawang Kulon, Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Akibatnya, kawasan itu porak poranda. Sebuah alat berat penambangan pasir, turut terseret banjir beserta truk dan sepeda motor milik penambang.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, diperkirakan kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Informasi yang dihimpun, pukul 18.30, hujan deras mengguyur. Termasuk, di lereng Merapi.

Tak lama kemudian, banjir menerjang Kali Bebeng. Material bebatuan dan pasir terbawa bersama aliran arus sungai. Aliran airnya cukup deras. Herman Santoso, 40, saksi mata kejadian menuturkan, meski hujan, aktivitas penambangan di kawasan Cawang Kulon masih tetap berlangsung. ”Saat hujan deras, banjir lahar disertai material pasir dan batu, tiba-tiba datang,” tutur Herman.

Dalam sekejap, aliran lahar dingin menimbun alat berat dan kendaraan yang berada di tengah alur Sungai Bebeng. Terpantau, sejumlah truk lain yang sedang mengantre untuk mengambil pasir, segera dibawa ke tempat yang aman.

Proses evakuasi tidak bisa segera dilakukan, mengingat medan cukup sulit dan cuaca masih hujan. Baru pada Selasa (17/10) pagi kemarin, seluruh benda yang terdampak banjir lahar dingin, berhasil dievakuasi.

Pj Kapolsek Srumbung Iptu Daryanto menjelaskan, banjir lahar akibat intensitas hujan di puncak Merapi cukup tinggi. Sejumlah relawan sudah memberikan peringatan untuk tidak melakukan aktivitas penambangan, namun dihiraukan. “Kita sudah berkali-kali mengimbau agar menjauh dari sungai saat hujan, karena potensi lahar dingin masih cukup besar.”

 Jalan Penghubung Retak

Hujan deras juga menggerus ruas jalan provinsi di wilayah Kecamatan Kemiri-Bruno Km 72, Purworejo. Jalan yang yang dimaksud, menghubungkan Purworejo dan Wonosobo. Tepatnya, di Padukuhan Krasak, Desa Wonosuko, Kecamatan Kemiri. Jalan mengalami retak, akibat gerusan longsor pada Selasa (17/10) pagi kemarin. Jalan mengalami retak sedalam kurang lebih 1 meter, dengan lebar 10 sentimeter dan panjang 16 meter. Arus lalu lintas menjadi tersendat, karena pengguna jalan harus mengurangi kecepatan.

Kapolsek Kemiri, AKP Karnoto mengatakan, kondisi jalan cukup berbahaya bagi pengguna jalan. Untuk itu, pihaknya sudah memasang rambu-rambu di lokasi jalan yang retak. Untuk mencegah kemungkinan terburuk, jalur yang retak tidak boleh dilintasi kendaraan. “Yang bisa dilalui hanya satu ruas jalan, karena memang cukup berbahaya.”

Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Purworejo akan melakukan pengaspalan sementara. Tujuannya, agar jalan tidak semakin rusak parah, karena gerusan air hujan.

Di wilayah Purworejo, hujan juga menyebabkan terjadinya longsor di beberapa titik. Setelah longsor di Kaligesing yang nyaris menggerus rumah warga, longsor pada Selasa (17/10) kemarin, terjadi di Desa Pamriyan, Kecamatan Pituruh. Sebuah tebing di samping jalan Bruno–Pituruh ambrol.

Longsoran menyapu jalur jalan hingga ke bawah. Akibatnya, jalan sepanjang 75 meter ambles dan ikut tersapu longsor. Material jalan berupa aspal pun terkelupas dan ikut terseret material longsor ke bagian bawah tebing. Tidak ada korban jiwa, karena pada saat kejadian, kondisi jalan lengang.

Laras Pandulu, warga setempat menuturkan, besarnya material longsor yang terjadi pada tebing setinggi 20 meter, membuat jalur Bruno – Pituruh tak bisa dilintasi kendaraan. “Karena material longsor cukup banyak, jika ingin pergi ke Pituruh, warga 3 dusun harus memutar melewati Kecamatan Bruno,” kata Laras, kemarin.

Perangkat Desa Pamrian, Senen, mengakui, longsor yang terjadi kali ini paling parah. Sebelumnya, longsor pernah terjadi pada 2006 silam. Namun tak separah kali ini.

Senen menuturkan, tidak hanya akses jalan yang terputus. Aliran listrik ke Desa Pamrian juga ikut terputus. Sebab, material longsor menerjang empat tiang listrik yang ikut roboh. Informasi terakhir, BPBD akan menurunkan alat berat ke lokasi longsor untuk membersihkan material longsoran. (jpg/isk)