UNGARAN–Sebanyak 250 alat mesin pertanian (alsintan) diterima Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Semarang, Selasa (17/10) kemarin. Bantuan alsintan tersebut merupakan aspirasi anggota Komisi IV DPR RI, Fadholi. Penyerahan diberikan oleh Fadholi di kantor Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang.

“Bantuan ini untuk meringankan beban para petani di Kabupaten Semarang. Sekaligus menghemat biaya dan mempercepat waktu persiapan tanam,” kata Fadholi.

Adapun alsintan yang diberikan meliputi traktor tangan ukuran 8,5 PK sebanyak 37 unit, ukuran 6,5 PK ada 13 unit, kemudian 30 unit multifator, pompa air 8,5 PK ada 30 unit, dan 5 unit transplanter.

Saat ini Pemkab Semarang sudah menentukan target dan capaian panen gabah. Sehingga, petani di Kabupaten Semarang harus bekerja keras untuk dapat mewujudkan target tersebut.

Seperti diketahui, Pemkab Semarang menargetkan panen gabah kering giling sebesar 240.000 ton. Meski begitu, beberapa persoalan pertanian juga harus menjadi fokus untuk dipecahkan. Seperti halnya terkait jaringan irigasi tingkat usaha tani (jitut) dan jaringan irigasi desa (jides). “Kabupaten Semarang masih kurang sekitar 1.000 alsintan lagi. Secara bertahap akan kami usulkan ke pusat, mudah-mudahan 2018 kami bisa mengalokasikan 300 alsintan,” ujarnya.

Bantuan alsintan tersebut diberikan berdasarkan lokasi dari Gapoktan itu sendiri. Khusus untuk produktivitas kopi di Kabupaten Semarang, Fadholi berjanji akan melakukan pendampingan intensif.  Apalagi hasil produksi Kopi Gunung Kelir sudah tembus pasar mancanegara.

“Pendampingan petani kopi akan diintensikan. Disamping itu, dalam waktu dekat kami juga hendak memfasilitasi Pemkab Semarang untuk menanam jagung di 12.000 hektare lahan,” katanya.

Bupati Semarang Mundjirin mengatakan kebutuhan alsintan gapoktan Kabupaten Semarang saat ini sudah mencapai 2.000. “Kami baru punya sekitar 1.000 unit. Artinya masih butuh sarana serupa,” ujar Mundjirin.

Terkait bantuan tersebut, Mundjirin mengatakan akan diprioritaskan untuk Gapoktan yang dinilai lamban mengerjakan atau mempersiapkan tanah untuk ditanami.

Sebagaimana diketahui, ada beberapa lokasi sentra pertanian di Kabupaten Semarang yang masih mengandalkan kerbau atau sapi untuk mengolah tanah. “Cepat kalau dengan traktor tangan, demikian halnya dengan bibit yang digunakan harus unggul. Pemberian pupuk dan obat bila terkena hama, itu semua tetap kami pantau serta dampingi,” katanya. (ewb/ida)