Ratusan Ulama Jateng Doakan Sudirman

451
DUKUNGAN ULAMA: Bacagub Jateng Sudirman Said menjadi pembicara dalam acara halaqah alim ulama Jateng di Ponpes Al Ishlah Assaladiyah Luwungragi, Brebes, Sabtu (14/10) lalu (JPG).
DUKUNGAN ULAMA: Bacagub Jateng Sudirman Said menjadi pembicara dalam acara halaqah alim ulama Jateng di Ponpes Al Ishlah Assaladiyah Luwungragi, Brebes, Sabtu (14/10) lalu (JPG).

BREBES – Lebih dari seratus ulama dan kiai dari berbagai pondok pesantren di Jateng mendoakan Sudirman Said. Mereka menyokong langkah Sudirman maju dalam kontestasi Pilgub Jateng 2018 mendatang.

Momen doa bersama itu dilakukan dalam acara Halaqah (pertemuan) Alim Ulama Jateng di Ponpes Al Ishlah Assalafiyah Desa Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jateng, Sabtu (14/10). Di antara para ulama dan kiai yang  hadir tampak KH Abdul Ghofur Maimun Zubeir dan KH Muhammad Wafi Maimun Zubeir.  Keduanya kakak beradik putra Mbah Maimun Zubeir, pengasuh Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang.

“Mari kita doakan agar Pak Dirman mendapat keberkahan dan kemudahan dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018 mendatang,” kata KH Maghfur Idris, pimpinan Ponpes Hidayatul Muhtadin, Sragen, sekaligus ketua panitia acara halaqah itu.

Sudirman sendiri merasa senang bisa bersilaturahim dengan para kiai dari 35 kabupaten/kota di Jateng ini. “Apalagi didoakan ratusan kiai. Sungguh ini momen yang luar biasa,” kata Sudirman.

Bagi Sudirman, doa para kiai membuatnya makin percaya diri dalam melangkah. “Ini bekal spiritual yang penting dalam perjalanan saya untuk berkiprah di Jateng,” imbuh dia.

Sebelumnya, Sudirman bersama KH Abdul Ghofur Maimun Zubair tampil sebagai pembicara dalam halaqoh bertajuk Peran Pondok Pesantren dalam Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa. Dalam pandangan Sudirman, pesantren merupakan salah satu wadah kaderisasi kepemimpinan.

Pendidikan pesantren yang mengajarkan nilai-nilai agama dan pengetahuan lain, beserta cara kehidupan  kepesantrenan merupakan wahana yang baik untuk terciptanya pemimpin. Kemandirian yang merupakan tradisi santri merupakan bagian dari proses pembentukan kepemimpinan.

“Karena itu tidak heran jika banyak tokoh dan pemimpin di level nasional maupun daerah lahir dari rahim pesantren. Misalnya, KH Abdurahman Wahid, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsuddin, Zulkifli Hasan, dan sederet tokoh lainnya,” terang Sudirman.

Dalam forum itu, Sudirman banyak mendapat pertanyaan dari para kiai. Mulai dari soal sikapnya terhadap full day school, kendaraan yang akan dipakainya untuk maju Pilgub, hingga kebijakannya untuk ponpes jika terpilih nanti.

Sudirman berpendapat, semua persoalan ada jalan keluarnya. Asalkan pemimpinnya bekerja semata untuk kepentingan rakyat.  “Yang kadang susah mencari jalan keluar karena ada kepentingan pribadi dan kelompok. Nah kalau sudah ada konflik kepentingan, sulit mencari jalan keluar,” imbuh dia.

KH Abdul Ghofur menyampaikan, seorang pemimpin harus memiliki karakter yang kuat.  Pemimpin yang memiliki karakter yang kuat, akan mampu membawa kemajuan bagi masyarakat dan daerah yang dipimpinnya. “Pemimpin yang memiliki karakter akan mampu menghadapi setiap tantangan,” ujar dia. (har/aro)