Anak Penjual Sate Raih Cumlaude

Ayah Bawa Sate, Dibagikan Gratis pada Wisudawan

381
WUJUD SYUKUR: Jalaludin, 55, penjual sate ayam keliling asal Kedungsari, Magelang Utara, Kota Magelang, Sabtu (14/10), melayani dan membagikan sate ayam sebagi wujud syukur putrinya salah satu wisudawati terbaik, dengan IPK 3,87 alias cumlaude (AGUS HADIYANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
WUJUD SYUKUR: Jalaludin, 55, penjual sate ayam keliling asal Kedungsari, Magelang Utara, Kota Magelang, Sabtu (14/10), melayani dan membagikan sate ayam sebagi wujud syukur putrinya salah satu wisudawati terbaik, dengan IPK 3,87 alias cumlaude (AGUS HADIYANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

KEBANGGAN benar-benar dirasakan oleh Jalaludin, 55, seorang penjual sate ayam keliling asal Kampung Kedungsari RT 3/RW 4, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, saat melihat anaknya diwisuda. Itu karena buah hatinya, Siti Marfuah, maju menerima penghargaan dari rektor Universitas Tidar (Untidar) Magelang sebagai salah satu wisudawati terbaik, Sabtu (14/10) pekan lalu, saat acara wisuda di auditorium kampus.

Siti Marfuah berhasil menyelesaikan pendidikan D3 Ekonomi Akutansinya, dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,87 alias cumlaude.

Saking senangnya, pada saat bersamaan, Jalal—sapaan intim Jalaludin– sengaja membawa gerobak satenya ke kampus. Ia membagi-bagikan sate lontong gratis kepada seluruh wisudawan maupun tamu undangan. “Ini syukuran kami. Saya bawa 100 porsi sate ayam, pakai gerobak yang biasa saya pakai jualan. Saya bagikan gratis pada wisudawan, tamu, atau siapapun yang mau sate, saya ikhlas. Ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, karena Siti berhasil menyelesaikan pendidikan D3 Ekonomi Akutansinya, dengan IPK 3,87 alias cumlaude,” kata Jalal saat ditemui sejumlah wartawan, Sabtu (14/10), di sela-sela kesibukannya membagikan sate.

Jalal mengaku bangga dengan putri ketiganya itu. Sebab, pendapatannya sebagai penjual sate keliling, tidak cukup untuk membiayai kuliah Siti. Terlebih, dirinya masih harus menafkahi istrinya, Satuna, 55, yang juga berjualan sate di Pasar Payaman dan empat anaknya yang lain.

Sejak SD, kata Jalal, Siti sudah berprestasi meraih peringkat 10 besar. Bahkan, ketika duduk di bangku SMP 3 Magelang dan SMA 3 Magelang, Siti langganan juara umum di sekolah. “Saat kuliah pun, Siti kerap ikut mengikuti perlombaan akademis. Tidak hanya berprestasi, Siti juga merupakan anak mandiri,” ucap Jalal, bangga.

Jalal mengaku, Siti tidak pernah meminta uang untuk biaya kuliah. Sebab, Siti sudah memiliki pendapatan sendiri dari pekerjaannya sebagai guru les privat anak-anak SD di sekitar rumah. “Semua biaya kuliahnya dia bayar sendiri. Tidak pernah minta orangtua. Sambil kuliah, anak saya juga membuka les privat untuk anak-anak SD.”

Siti Marfuah, kelahiran Magelang, pada 21 Juni 1991. Kepada wartawan koran ini, Siti mengaku lega bisa menyelesaikan pendidikan D3-nya. Kata Siti, pendidikan kuliahnya tak lepas dari kerja kerasnya sejak lulus SMA. Siti mengaku rela bekerja membuka les selama lima tahun, sebelum akhirnya mendaftar kuliah. “Saya kerja lima tahun, buka les matematika dan pelajaran lain untuk anak-anak SD. Saya ngumpulin uang dulu, buat daftar kuliah.”

Saat mendaftar kuliah, Siti tidak bercerita kepada orangtuanya. Ia khawatir, hal itu akan membuat orangtuanya berpikir tentang biaya kuliah. Toh, akhirnya Siti bercerita, sekaligus meyakinkan orangtuanya, bahwa biaya pendidikan tanggungjawabnya sendiri. “Kalau lagi mengajar anak-anak, saya sambil mengerjakan tugas kuliah. Saya juga masih sempat membantu Bapak bikin bumbu sate kalau pagi. Pinter-pinternya bagi waktu saja. Alhamdulillah, saya bisa, uangnya les buat biaya sekolah,” kata Siti yang bercita-cita menjadi seorang akuntan ini.

Pembantu Rektor I Untidar Magelang, Joko widodo, mengaku bangga dengan perjuangan Siti. Kata Joko, sudah menjadi kewajiban universitas untuk mendidik mahasiswa, tanpa melihat latar belakang keluarganya. “Kami mendidik tidak hanya kepada anak yang cukup (materi), siapapun berhak mendapat pendidikan. Kami punya porsi khusus untuk anak-anak kurang mampu di semua jalur. Kami beri kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang, baik akademik maupun nonakademik.”

Joko mengenal Siti Marfuah sebagai salah satu mahasiswi yang aktif serta mau berkompetisi. Dia berharap, kisah Siti menjadi teladan. Sekaligus, memotivasi generasi sekarang untuk bersemangat menempuh pendidikan.

Rektor Untidar, Prof Dr Cahyo Yusuf M. Pd, mengatakan, Untidar melepas 220 wisudawan program sarjana dan diploma pada wisuda periode Oktober 2017. Prof Cahyo meminta para wisudawan mampu menjadi pelaku wirausaha. Ia mengingatkan pada orangtua wisudawan agar jangan terpaku anak-anaknya harus menjadi PNS. “Tapi, cobalah untuk merintis usaha sendiri, sehingga dapat membangun usaha hingga sukses. (agus.hadianto/isk)