Oleh: Sutardi
Oleh: Sutardi

DI MEDAN Perang Kurusetra, Krisna memerintahkan Bima untuk membunuh gajah yang bernama Aswatama. Setelah gajah terbunuh Bima berteriak bahwa ia telah membunuh Aswatama. Pasukan yang berperang di kedua belah pihak sahut menyahut ikut meneriakkan kabar bahwa Aswatama tewas. Guru Drona, yang saat itu menjadi panglima perang Kurawa, mendengar tewasnya anak kesayangannya, yang juga bernama Aswatama.

Seketika hilanglah semangat berperang orang yang sakti tak terkalahkan ini. Dalam keadaan putus asa ia meletakkan semua senjata dan dengan mudah ia dibunuh Drestadjumna, panglima perang Pandawa. Guru Drona menemui ajal dalam peperangan karena percaya kabar bohong.

Kabar  bohong (hoax) telah menjadi wabah buruk,  sumber perpecahan selain ujaran kebencian (hate spreech) melalui media sosial di jagad internet saat ini. Sudah lama serangan kabar bohong menjadi ‘alat perang’ politik dan ideologi antar negara, antar bangsa bahkan antar sesama anak bangsa. Menurut situs gudanghoax.com, hoax dibuat dengan berbagai alasan. Pertama untuk mencari sensasi atau ketenaran. Kedua, sengaja dibayar untuk menyebar fitnah. Ketiga untuk mencari uang pemasang iklan. Ketiga alasan tersebut bertentangan dengan etika dan moral manusia yang beradab.

Menyebar berita bohong merupakan tindakan tercela yang bertentangan dengan norma. Mempercayai berita bohong adalah tindakan bodoh. Oleh karena itu sebagai guru wajib hukumnya mendidik para siswa untuk tidak membuat, menyebarkan dan mempercayai berita bohong. Berita bohong merusak pikiran.

Guru harus menumbuhkembangkan berpikir runtut dan kritis pada siswa. Berpikir kritis terkait dengan tidak mudahnya mengiyakan atau mengamini informasi yang didapat, namun didahului dengan mempertanyakan kesahihannya.  Orang yang terbiasa berpikir runtut dan kritis akan menguji dulu kebenaran berita sebelum membagikan kepada orang lain.

Pribadi berpikir runtut dan kritis melalui beberapa tahapan antara lain pertama, model pembelajaran hendaknya lebih berpusat pada bagaimana siswa mencapai kompetensi, bukan bagaimana guru menyampaikan materi pelajaran. Model-model pembelajaran seperti berbasis proyek, inkuiri atau berbasis masalah dapat mengaktifkan siswa belajar. Dengan model tersebut memungkinkan adanya interaksi positif siswa dengan guru atau antar siswa. Interaksi melibatkan dialog, adu argumentasi, kerja sama, berani bertanya serta berani mengemukakan pendapat. Hal ini berbeda dengan kelas model satu arah,  guru ke siswa.  Siswa dianggap botol kosong yang siap diisi pengetahuan menurut cara guru menyampaikan. Sumber kebenaran mutlak dari guru. Siswa tidak diberi kesempatan mengkritisi. Kedua, pada pembelajaran matematika atau sains, materi ajar dapat berupa rumus atau persamaan. Rumus jangan diberikan langsung untuk dihafal tetapi didiskusikan dan dicari asal usulnya. Dengan demikian siswa menyadari bahwa produk keilmuan tidak datang tiba-tiba namun melalui serangkaian kerja yang masuk akal. Pemakaian rumus praktis yang dijadikan iklan bimbingan belajar jelas tidak selaras dengan maksud ini.

Kabar bohong tidak akan dapat menembus nalar seseorang yang sanggup berpikir runtut dan kritis. Guru berperan penting mencegah tumbuh liarnya kabar bohong melalui pembelajaran di kelas. Jangan sampai kabar bohong memakan korban anak didik kita. Cukuplah Guru Drona di jagat pewayangan saja yang menjadi korban. (*/bas)