Kerajinan Bambu dan Eceng Gondok Jadi Unggulan

Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru

360
KERAJINAN TANGAN: Warga Desa Tegaron membuat barang-barang bernilai ekonomis dari sumber daya alam yang cukup melimpah di wilayahnya, yakni bambu dan eceng gondok (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KERAJINAN TANGAN: Warga Desa Tegaron membuat barang-barang bernilai ekonomis dari sumber daya alam yang cukup melimpah di wilayahnya, yakni bambu dan eceng gondok (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

BERADA di sekitaran Rawa Pening membuat Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah. Hal ini membuat Desa Tegaron terus mendorong kreativitas warga agar mampu menambah penghasilan dari sumber daya yang ada.

Sekretaris Desa (Sekdes) Tegaron, Aziz Sulthon Abidin,  mengatakan, beberapa sumber daya yang dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat, di antaranya ada bambu dan eceng gondok. Tidak ingin menjual bambu dalam bentuk asli, warga didorong untuk mampu meningkatkan nilai jual dengan menjadikan barang-barang rumah tangga.

”Kalau dijual utuh paling harganya hanya mencapai belasan hingga puluhan ribu rupiah. Paling banter Rp 25 ribu per batang. Tapi ketika sudah diubah menjadi barang-barang yang punya nilai guna atau bahkan nilai seni, maka harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” ujar Aziz kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Barang-barang yang dihasilkan warga Desa Tegaron biasanya berupa peralatan rumah tangga seperti senik, besek dan barang lain sejenisnya. Tidak ingin ada bahan sisa yang terbuang sia-sia, dengan sentuhan teknologi tepat guna, bambu yang tidak terpakai akan diubah menjadi barang berguna lain, seperti tusuk gigi dan tusuk sate.

Aziz Sulthon Abidin (DOKUMEN PRIBADI).
Aziz Sulthon Abidin (DOKUMEN PRIBADI).

”Sehingga semuanya bermanfaat. Kita nggak mau ada sisa yang terbuang. Ibu-ibu yang biasanya melakukan ini,” jelasnya.

Untuk membuat kerajinan rumahan di daerah ini semakin maju, bahkan sudah terbentuk kelembagaan yang bertugas untuk memasarkan hasil kreasi warga Tegaron.

”Di sini ada namanya Deling Ayu. Ini kelompok masyarakat yang fokus pada bambu dan pemanfaatannya,” kata Aziz mewakili Kepala Desa Samsudin yang ada keperluan rapat saat Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke desa ini.

Selain kerajinan dari bambu, terdapat juga kerajinan yang dibuat dari tanaman eceng gondok yang juga terbilang melimpah di daerah ini. Untuk bahan yang satu ini, warga biasanya memanfaatkannya untuk membuat tas, kursi, dan barang-barang lainnya.

Semua ini, dikatakan Aziz, mengarah pada tujuan utama, yakni meningkatkan perekonomian masyarakat dengan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam yang ada. (cr4/aro)