SERAKAHKAN SK : Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Prof Dr DYP Sugiharto menyerahkan SK pengangkatan Profesor kepada Rektor Unissula Prof. Anis Malik Toha (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SERAKAHKAN SK : Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Prof Dr DYP Sugiharto menyerahkan SK pengangkatan Profesor kepada Rektor Unissula Prof. Anis Malik Toha (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Banyaknya perguruan tinggi swasta (PTS) dan dosen yang dibawah naungan Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah ternyata tidak sebanding dengan jumlah dosen dengan gelar profesor. Untuk jumlah dosen sebanyak 10.700 orang, sementara jumlah profesor hanya 75 orang.

Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Prof Dr DYP Sugiharto mengatakan jumlah tersebut memang sangatlah minim, namun pihaknya mendorong semua universitas untuk melakukan pengajuan profesor. Tujuannya agar jumlah profesor di Jawa Tengah bisa meningkat sebagai salah satu wujud majunya dunia pendidikan. “Memang sangat sedikit, hari ini tambah 4 profesor baru. Sebelumnya hanya 71 orang, sampai bulan ini total jadi 75 profesor. Jadi pemerintah terus mendorong agar para dosen terus berkarya dan berinovasi,” katanya usai menyerahkan surat pengangkatan profesor di Kantor Kopertis Wilayah VI, kemarin.

Untuk mengusulkan dosen mendapatkan gelar profesor atau guru besar di kampus masing-masing, mekanisme yang dilakukan secara kelembagaan yakni pihak kampus mengusulkan ke Kopertis, kemudian diteruskan ke Kemenristek Dikti. “Saat ini ada peraturan baru, seorang profesor harus bisa memberikan kontribusi berupa penulisan artikel yang terindeks jurnal internasional setiap tahun,” jelasnya.

Ia menerangkan, demi meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan Indonesia di kancah internasional, tahun ini pemerintah melalui Kemenristek Dikti mengeluarkan aturan bagi dosen yang menyandang gelar profesor minimal harus mengeluarkan satu artikel yang dimuat di jurnal internasional. Ditambah lagi harus bisa mengasilkan buku, juga ide atau publikasi dalam tiga tahun sekali. “Jika tidak maka tunjangan kehormatan dari jabatan profesor tersebut akan dikurangi oleh pemerintah. Aturan ini tahun ini mulai berjalan, November nanti akan juga akan dilakukan evaluasi terkait kontribusi profesor itu sendiri,” katanya.

Empat profesor yang dilantik terdiri dari dua dosen Unissula yakni Prof. Dr. Ibnu Khajar dan Prof Dr. dr. Taufiqurrachman. Kemudiam dari Unika Soegijapranta Prof. Dr. Ir. Slamet Riyadi, serta satu dari Universitas Muhammadiyah Surakarta yakni Prof. Dr. dr. EM Sutrisna. “Empat profesor yang baru saja di berikan SK ini, saya harap bisa memotivasi dosen lain untuk menjadi profesor. Selain itu juga bisa menjaga integritas dan terus produktif menghasilkan karya yang bermanfaat,” harapnya.

Sementara itu, Rektor Unissula Semarang, Prof. Anis Malik Toha mengatakan saat setidaknya sudah ada 10 profesor di kampus tersebut. Agar sejalan dengan program pemerintah, pihak kampus pun mematok dosen yang bergelar profesor untuk paling tidak harus menghasilkan 2 publikasi. “Kewajiban itu sebagai wujud untuk memperbaiki kualitas pendidikan di kampus, dan membuat Unissula punya daya saing yang tinggi di kancah nasional ataupun internasional,” tuturnya.

Dengan aturan tersebut juga, lanjut Anis, penyandang gelar profesor yang otomatis juga menjadi guru besar akan terpacu untuk terus berkarya dan terus melakukan penelitian yang memiliki manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas. (den/ric)