Oleh: Susena
Oleh: Susena

SELURUH komponen masyarakat dari otoritas tertinggi sebagai pengambil kebijakan sampai pada tingkat terbawah, harus  mempunyai kesadaran (consciousness) bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (wholeness) untuk menciptakan sense of ownerships yang merupakan  pilar utama  dalam membangun negara ini.

Memperhatikan sederet kasus yang menyita perhatian publik, mulai dari banyaknya pejabat negara yang terjaring OTT terduga pelaku korupsi, penyalahgunaan obat dan narkotika, maraknya kekerasan, tingginya angka kecelakaan dan masalah sosial lainnya seakan mengoyak asa kita.

Rendahnya peradaban dan ketamakan menjadipenyebab terus mengguritanya musuh utama di negara kita yaitu korupsi. Selain itu minimnya keteladanan, masih lemahnya penegakan hukum dan sedemikian derasnya arus globalisasi dimana semua  inginnya serba instan, cepat dan mudah tanpa mau melalui sebuah proses semakin memperparah kondisi. Tata kelola keuangan negara yang sudah dibangun banyak diterobos oleh oknum pejabat yang seharusnya menjadi panutan.

Beban negara ini begitu berat, butuh penanganan secara serius dan peran nyata semua pihak. Sebagian masyarakat masih mengutamakan ego masing-masing sehingga melupakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Peredaran PCC menyadarkan kita semua bahwa peredaran obat ilegal tersebut bukan hanya terkait dengan kesehatan dan keselamatan jiwa tetapi juga menyangkut ketahanan bangsa. Peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum bangsa ini untuk bangkit  bergerak bersama mengatasi masalah secara komprehensif baik dari sisi penindakan dan pencegahannya secara intensif untuk menghindarkan kehancuran generasi muda yang memang rentan terhadap pengaruh penyalahgunaan obat dan narkotika.

Selain itu, masih sering terjadinya kecelakaan lalu lintas juga menjadi keprihatinan kita bersama. Kejadian tersebut sebagian besar diawali dengan pelanggaran tata tertib berlalu lintas. Jika kita perhatikan beberapa negara dengan  tata kelola kota yang baik, kepemimpinan yang kuat, komitmen pada penegakan disiplin, dan pengawasan secara berkelanjutan menjadikan budaya antri, dan tertib berlalu lintas,  telah tumbuh menjadi city culture.

Kita orang Indonesia yang belum sepenuhnya terbiasa antri dan disiplin berlalu lintas, begitu masuk negara tersebut kita tiba-tiba berubah menyesuaikan dengan kultur yang ada. Inilah makna kata “budaya” yakni  nilai-nilai kehidupan yang berjalan secara alami dimana  tidak lagi dirasakan sebagai beban oleh masyarakat. Mencermati fenomena tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masyarakat kita sebenarnya bisa antri dan tertib berlalu lintas jika terbangun sistem pemerintah  yang kuat dan komitmen pada penegakan hukum serta adanya dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Peran Manajemen Sekolah

Sebagai bagian dari warga negara  kita wajib ikut berkontribusi sesuai kapasitas dan peran masing-masing. Sekolah sebagai institusi pendidikan dapat mengambil peran. Pendidikan merupakan instrumen yang  sangat kuat dan efektif untuk melakukan komunikasi, memberikan informasi, penyadaran, pembelajaran dan dapat memobilisasi  komunitas masa, serta menggerakkan bangsa ke arah kehidupan masa depan yang berkembang secara lebih berkelanjutan (more sustainably developed).

Pembentukan karakter yang utama berada di lingkungan keluarga. Disamping itu, dunia  pendidikan punya tanggung jawab dan peran yang tidak kalah pentingnya dalam pembentukan karakter siswa. Cinta tanah air dan semangat multikultural menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembentukan karakter siswa untuk dapat berperan dalam menjaga keutuhan negara di masa mendatang.

Sekolah  yang  berkarakter dapat dipandang sebagai sekolah  yang kualitas nilai kehidupannya tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah tersebut dan tercermin dalam pola perilaku warga sekolah dalam berhubungan dan berinteraksi satu sama lainnya.

Esensi dari pendidikan karakter adalah keteladanan, yang harus terus dikawal secara berkelanjutan mulai dari sekolah, lingkungan keluarga, dan masyarakat. Dalam membangun sekolah berkarakter perlu dilandasi filosofi pendidikan, yakni kita akan dapat menjadi insan berkarakter jika seluruh dimensi kemanusiaan kita dapat berkembang secara utuh (holistik).

Sekolah merupakan laboratorium pembentukan karakter. Sekolah melalui kegiatan yang terprogram harus mampu membekali siswa dan memberi pengalaman belajar yang memadai. Guru sebagai agen perubahan harus terus didorong untuk terpanggil menjadi “model” dalam perilaku di sekolah dan kehidupan nyata sehingga guru tidak hanya  dapat memberi contoh tetapi dapat menjadi contoh bagi siswa. Hal tersebut bukan perkara yang mudah untuk dilakukan tetapi inilah pangggilan bagi para pendidik dalam konteks pendidikan yang seutuhnya.

Dalam implementasi program pembentukan karakter secara formal dimulai dari sekolah, semua komponen yang terlibat manajemen sekolah diharapkan menjiwai prinsip 3-I yaitu Inisiatif (terobosan kebijakan), Intensif (pengawasan yang intens), dan Ikut serta (kegiatan yang sifatnya partisipatif).

Pembelajaran karakter harus menyentuh sampai pada tataran internalisasi dan pengalaman hidup guru dan siswa.  Pendidikan antikorupsi harus dibelajarkan secara kontekstual sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar secara nyata. Value antikorupsi adalah kejujuran. Siswa harus memahami, melihat, merasakan, melakukan “value” tersebut selama mengalami proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Selama berada di lingkungan sekolah, sekolah punya tanggung jawab membangun  karakter yang baik dan unggul bagi siswa melalui program pendidikan dan kegiatan yang spesifik.

Selain itu, peran aktif guru dalam memberikan pemahaman, penyadaran kepada siswa terutama usia peralihan mengenai bahaya penyalahgunaan obat dan narkotika menjadi sangat penting dalam usaha melakukan pencegahan. Pada tahap perkembangan ini anak ingin lebih diakui eksistensinya dan merasa dirinya paling tahu segalanya, padahal tidak demikian. Sekolah berkewajiban untuk membimbing, mengarahkan ke hal-hal yang lebih positif dan produktif.

Dimulai dari sekolah, mari kita berperan nyata dalam mencetak  generasi tangguh dengan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, hormat, semangat multikultural dan cinta tanah air. Sukses pendidikan Indonesia. (*)