Belajar Antikorupsi dari Maraknya Kasus OTT

130
Oleh: Rochimudin SPd
Oleh: Rochimudin SPd

DEWASA Ini kita dikejutkan dengan operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Operasi itu menangkap sejumlah pejabat, mulai dari Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno, disusul Wali Kota Batu Malang, Edy Rumpoko, Bupati Kukar Rita Widyasari dan yang terbaru adalah Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono.

Tahun 2017, menjadi yang paling produktif bagi Komisi Pemberantasan Korupsi, terkait dengan operasi tangkap tangan, atau OTT yang dilakukan. Hingga Oktober 2017 ini, total KPK telah melakukan OTT dalam 17 kasus dengan total 63 tersangka. Angka itu lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yakni di 2016 lalu. Sepanjang 2016 lalu, KPK telah melakukan OTT juga dengan total 17 kasus, namun dengan total tersangka yang lebih sedikit, yakni 58 tersangka.

Nampaknya OTT dan vonis hakim kasus korupsi belum menjadi tren positif sebagai pembelajaran atau contoh bagi pejabat dan masyarakat. Apakah pelaku korupsi tidak belajar dari kasus OTT sebelumnya ataukah sudah tidak punya rasa malu pada keluarga dan anak-anaknya. Kalau kita cermati kehidupan keluarga pejabat yang tertangkap OTT dan para koruptor yang telah divonis hakim, mereka mempunyai keluarga juga anak. Sepertinya mereka lupa saat melakukan korupsi, bahwa anak adalah titipan atau amanah dari Tuhan yang perlu diberi nafkah dengan jalan yang halal.

John Locke mengibaratkan anak seperti kertas kosong, orang tuanya yang akan menulis dan memberikan gambar. Akhirnya baik buruknya anak tergantung orang tua dan lingkungannya. Lalu kalau orang tuanya koruptor (yang belum bertobat), apakah nilai-nilai yang mau diajarkan.

Seorang anak tidak pantas disalahkan atas kesalahan bapak atau ibunya. Anak akan hidup di masanya sendiri yang berbeda dengan situasi dan kondisi jaman orang tuanya. Peserta didik sekarang adalah generasi yang tumbuh di tengah kepungan media digital. Oleh karena itu, tidak mungkin menutupi kabar tentang korupsi yang dialami keluarga ataupun sanak famili.

Pengertian korupsi juga berkembang dinamis. Kalau dulu sebatas mengambil barang dan uang secara ilegal, sekarang sudah berkembang menjadi korupsi jabatan, korupsi waktu, pencucian uang dan sebagainya. Kejahatan kerah putih yang membuat negara menjadi rugi dan mendukung naiknya angka kemiskinan.

Harusnya OTT KPK menjadi pelajaran bagi pejabat, aparatur sipil negara dan kita semua. Juga menjadi pendidikan antikorupsi bagi masyarakat termasuk peserta didik. Ternyata hal itu belumlah cukup, terbukti setelah OTT ada lagi pejabat yang tertangkap lagi. Oleh karena itu, perlu contoh dalam kehidupan sehari-hari bagi orang tua dan anak. Masalahnya kalau orang tua belum mengerti akan korupsi, maukah orang tua mendengar penjelasan dari anak. Mungkin gengsi dan merasa digurui. Mindset orang tua seharusnya terbuka dan mau mengembangkan diskusi dengan anak tentang antikorupsi seperti berapa besar gaji orang tua dan pengeluaran keluarga.

Sudah harus dimulai, anak diperkenankan menanyakan tidak hanya pekerjaan tapi juga berapa besar gaji orang tua, berapa besarkah pengeluaran rutin keluarga. Sehingga apabila anak dibelikan sesuatu yang dirasa mahal atau di luar kemampuan finansial orang tua, maka seorang anak layak bertanya uang dari mana. Orang tua yang terbuka mengenai hal tersebut, berarti telah berkontribusi dalam pencegahan terhadap korupsi.

Anak dengan kepolosan dan kejujurannya akan berupaya menghindari meminta sesuatu yang di luar kemampuan ekonomi orang tua. Kekompakan dalam keluarga ini membuat orang tua menjadi contoh dalam mengembangkan sikap jujur, tidak serakah, amanah, proporsional sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Apabila orang tua tertutup, maka bahaya laten korupsi sedang mengintai. Jika orang tua korupsi, tentunya keluarga yang akan menanggung beban dan malu. Kerugian harus mengembalikan dan mengganti uang yang dikorupsi dan keluarga menanggung malu. Anak akan terbebani masalah dan malu dalam pergaulan. Belum lagi kalau pelaku korupsi jadi dimiskinkan tentunya akan berimbas langsung kepada anak yang tidak bersalah.

Demikianlah, keterbukaan mengenai pekerjaan, besar gaji dan jumlah pengeluaran keluarga kepada anak akan berpotensi menghindarkan orang tua dan anak dari bahaya laten korupsi. OTT kasus korupsi belum efektif menjadi pembelajaran antikorupsi, baik bagi pejabat, orang tua maupun siswa. Tetapi pembelajaran nyata tentang keterbukaan dan kejujuran dalam keluarga menjadi contoh pembelajaran yang penting bagi anak. (*/bas)