Padukan Wisata Alam dan Sejarah

Desa Pasekan, Kecamatan Ambarawa

1893
WISATA ALAM: Bangunan gazebo dari bambu di Dusun Kintelan, Desa Pasekan yang merupakan wilayah tertinggi di Ambarawa. Tempat ini menawarkan wisata alam dan tempat pas buat selfie (DOKUMENTASI DESA PASKEN).
WISATA ALAM: Bangunan gazebo dari bambu di Dusun Kintelan, Desa Pasekan yang merupakan wilayah tertinggi di Ambarawa. Tempat ini menawarkan wisata alam dan tempat pas buat selfie (DOKUMENTASI DESA PASKEN).

DESA Pasekan, Kecamatan Ambarawa gali potensi desa yang dimiliki untuk sejahterakan warga. Memiliki wilayah dengan pemandangan indah mendorong Kepala Desa Pasekan, Juli, bersama warga berinisiatif membangun destinasi wisata yang rencananya akan dirilis awal tahun nanti.

Tidak hanya pemandangan, Juli ingin menggali potensi sejarah yang ada di daerahnya. Di Pasekan, selain terdapat Goa Jepang, terdapat pula monumen yang merupakan peninggalan zaman perang.

“Jadi, ceritanya di daerah Dusun Kintelan dengan ketinggian 916 mdpl, tertinggi se-Kecamatan Ambarawa, itu dulu digunakan Pak Harto dan tentaranya sebagai tempat pengintaian. Kebetulan di sana pemandangannya juga bagus. Kita gabungkan dengan menjadikannya sebagai tempat wisata alam dan sejarah,” ujar pria yang dikenal santai oleh warganya ini.

Saat ini, sekitar 6 bangunan gazebo dari bambu sudah terbangun di titik yang telah ditentukan. Selain itu, sarana penunjang lainnya juga sudah mulai disiapkan, sehingga ketika dibuka, kebutuhan pengunjung akan terpenuhi.

Juli berharap, nantinya tempat wisata ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Sembari menikmati alam, ia juga ingin agar masyarakat diingatkan pada peristiwa penting yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

“Kebetulan di Ambarawa belum ada bumi perkemahan. Jadi, mungkin nanti arahnya juga akan ke sana. Bisa dimanfaatkan oleh para pelajar juga. Berkemah sambil belajar sejarah,” ujar Juli kepada Jawa Pos Radar Semarang saat menyambangi kantornya, Kamis (12/10).

Memaksimalkan upaya mensejahterakan warga, hasil olahan rumahan ibu-ibu PKK juga sudah ia masukkan dalam daftar antrean untuk menjadi oleh-oleh khas bagi pengunjung yang datang ke desa wisata dengan nama “SROBI” ini.

“Ibu-ibu sini punya hasil berupa keripik gadung dan keripik singkong. Nanti kita ajukan bantuan mesin, sehingga PKK kita juga bisa berjalan. Semuanya berjalan bersamaan demi kesejahteraan bersama,” katanya. (cr4/aro)