Kekerasan pada Anak, Perempuan, dan KDRT

41
LINDUNGI PEREMPUAN: Para pembicara dalam sosialisasi Peran Media dalam Implemetasi UU Pornografi (IST).
LINDUNGI PEREMPUAN: Para pembicara dalam sosialisasi Peran Media dalam Implemetasi UU Pornografi (IST).

MUNGKID—Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama anggota DPR RI Komisi VIII, KH Muslich Zaenal Abidin, menggelar sosialisasi Peran Media dalam Implemetasi UU Pornografi, kemarin. Sosialisasi dalam rangka melindungi hak-hak perempuan di ruang publik. Kegiatan ini menggandeng Muslimat dan Fatayat NU.

Acara dibuka oleh Muslich ZA, anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PPP. Pematerinya, Kabid PPPA Dinas Sosial Kabupaten Magelang serta Mukhtar Lutfi dari media Jawa Pos Radar Kedu.

Muslich mengatakan, melalui kegiatan ini dia mengajak masyarakat bersama-sama memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. ”Selain itu pemberdayaan perempuan juga kami galakkan terus melalui kelompok-kelompok perempuan seperti Fatayat dan Muslimat NU.”

Kepala Bidang PPPA Kabupaten Magelang Anang Pusbadiyanto menerangkan, untuk mengurangi risiko kekerasan pihaknya, memberikan banyak program kepada kaum perempuan. Utamanya, membantu kaum perempuan untuk lebih berdaya. ”Dan yang terpenting menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Magelang.”

Anang mengingatkan orang tua harus jeli mengawasi anak di era digital. Kata dia, 16 ribuan kasus seks bebas usia muda, bermula dari internet atau tontotan di televisi. ”Di Magelang, tiap tahun, rata-rata kekerasan terhadap anak maupun perempuan tidak hanya dalam kekerasan seks, rumah tangga, dan lainnya mencapai 100 kasus per tahun.”

Pemateri lain, Muhtar Lutfi dari Jawa Pos Radar Kedu memaparkan tentang perkembangan media sosial yang sangat pesat dan nyaris tidak terkontrol. Untuk itu, dia meminta masyarakat ikut mengontrol penggunaan medsos.

”Intinya, semua kembali ke diri kita masing-masing dan keluarga dimana pengawasan, perhatian kita kepada sesama anggota rumah, khususnya anak dalam segi penggunaan dan mengonsumsi media harus lebih jeli.”

“Banyak aplikasi media yang bebas diakses anak, padahal belum selayaknya anak membuka itu atau tidak sengaja mengakses konten dewasa. Carilah aplikasi khusus anak yang isinya disesuaikan kebutuhan anak.”

Terpisah, di Wonosobo, kemarin, sebanyak 30 orang korban tindak kekerasan perempuan dan anak menerima bantuan pendampingan berupa rehabilitasi dan uang. Bantuan diberikan di aula Dinas Sosial dan PMD Kabupaten Wonosobo.

Selain bantuan kepada 30 orang korban tindak kekerasan perempuan dan anak, juga diberikan bantuan stimulan transport bagi penderita penyakit kronis. Jumlahnya, 12 pendeita.

Kepala Bidang Sosial Dinas Sosial PMD Kabupaten Wonosobo, Sunaryo, menyampaikan, bantuan uang bagi 30 korban kekerasan perempuan dan anak masing-masing Rp 1,3 juta. Sedangkan bagi 12 penderita penyakit kronis, masing-masing Rp 500 ribu. Dana bantuan berasal dari APBD Wonosobo 2017

“Selain bantuan uang, Pemkab juga berusaha memberikan layanan rujukan bagi korban anak ke rumah perlindungan sosial anak, mengembalikan tekanan psikologis atau trauma serta support anak dan perempuan korban kekerasan.”

Di Wonosobo, pada 2017, tercatat 45 anak dan 76 orang dewasa menjadi korban kekerasan; serta 412 orang menderita penyakit kronis. Selain mendapatkan bantuan, juga diberikan sosialisasi dan motivasi dari Tim Penggerak PKK, Dinas Kesehatan dan dinas lainnya. (vie/ali/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here